Jakarta, Gontornews — Pagi hingga sore, KM Husni menjajakan baju dengan cara buka lapak di Pasar Tanah Abang. Kerap kali, ia main kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP saat ada razia. Sehari-hari, sembari ngelapak, ia harus peka jika akan terjadi razia oleh petugas.
Suatu ketika, ada penggrebekan lapak-lapak di sekitar Tanah Abang. Saat itu Husni sedang ketiban sial, petugas pun menangkapnya dan menyita seluruh dagangannya. Bahkan ia sempat mendapatkan pukulan keras di punggungnya.
Sedih, walau ia menyadari bahwa dirinya bersalah karena berjualan di tempat yang tidak semestinya. Dalam hati kecilnya, ia hanya bisa berdoa untuk kebaikan masa depannya kelak. Kejadian itu menjadi motivasi Husni untuk tidak mudah putus asa bahkan bangkit lebih semangat berdagang.
“Saya modal 1 juta rupiah, untuk bisa ngelapak di sekitar Tanah Abang. Saya ambil barang-barang di Uda, orang Padang,” ungkapnya kepada Majalah Gontor beberapa waktu lalu.
Kegiatan ngelapak di Tanah Abang ia jalani hampir satu tahun. Ia cukup gigih dalam menjajakan dagangannya. Bahkan hasil dagangan yang ia jual, setiap harinya disetorkan semua ke Uda. Dari situ ia mendapatkan komisi dari jualan.
Kegigihan dan kejujuran Husni dalam berdagang, nampaknya mendapatkan perhatian dari salah satu bos yang ada di Tanah Abang. Ia pun mendapatkan tawaran untuk berjualan di salah satu kios miliknya. “Sistemnya saat itu saya sewa kiosnya, sementara barang dari si bos,” ungkapnya.
Awalnya tawaran itu sempat ia rasakan kurang pas, karena ia merasa berhutang budi dengan Uda yang telah mengajarinya berdagang di Tanah Abang. Namun setelah mendapatkan restu dari Uda, ia pun memantapkan diri untuk menerima tawaran tersebut.
Seiring berjalannya waktu, usaha yang ia geluti terus tumbuh dan berkembang. Pelanggannya pun banyak yang dari luar Jakarta. Bagi Husni, pelanggan adalah asset yang harus dijaga hubungan baiknya. Sehingga semakin banyak pelanggan yang bermitra dengan Husni.
Sembari berdagang dari pagi hingga sore, ternyata Husni terus mengasah ilmunya ke jenjang S1 di kampus Trisakti jurusan Ekonomi. Meski dirasa lelah karena hampir seharian di pasar, ia tak mudah putus asa untuk rajin belajar di bangku kuliah.
“Saya datang ke Tanah Abang pagi-pagi, kemudian sore baru ke kampus untuk belajar. Itu saya lakukan hingga selesai S1,” ujarnya.
Husni yang lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1999 ini merasa bahwa pendidikan tetap harus diasah. Karena dunia pendidikan untuk membentuk karakter dan menambah wawasan di bidang yang ia geluti.
Bagi Husni, kegiatan berdagang di Tanah Abang hingga belajar di kampus dari pagi hingga malam, ia nikmati seperti masih nyantri di Gontor. Di mana pendidikan di Gontor pendidikan 24 jam. “Alhamdulillah didikan di Gontor bisa membentuk karakter saya dalam berdagang dan belajar,” tuturnya.
Ketika lulus dari Pondok Gontor tahun 1999, ia sempat mengabdi di salah satu lembaga Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM) Gontor. Di lembaga ini ia ditempa untuk menjadi wiraswatawan yang tahan banting dan berkarakter Islam.
“Usai mengabdi di PLMPM, ia kemudian terjun langsung untuk belajar wirausaha di lapangan. Apa yang saya dapatkan dari Gontor, telah memberikan warna tersendiri bagi saya dalam berwirausaha selama ini,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, Husni telah memiliki empat kios di Tanah Abang. Saat ini, kiosnya menyediakan busana batik songket kelas menengah ke atas. Dari kios Bernama Cahaya Intan, produknya telah dipakai oleh para pejabat di negeri ini. Bahkan Gubernur hingga Presiden pun juga menggunakan produk yang ia tempel brand Batik Songket Indonesia.
Husni menjelaskan, dari keuntungan berdagang di Tanah Abang ini, ia juga investasikan untuk property. Salah satunya bisnis penginapan yang ada di Paseban Jakarta Pusat. Bangunan tiga lantai di atas lahan seluas 1.000 meter ini menyediakan ratusan kamar untuk menginap. “Jadi selama pandemi justru membawa berkah. Sekarang sedang ditingkat menjadi tiga lantai yang sebelumnya dua lantai,” ujarnya.
Bagi Husni, kejadian pandemi Covid-19 yang lalu menjadi berkah tersendiri bagi bisnisnya ini. Di saat banyak hotel besar tutup karena covid, justru kamar-kamar hotelnya kebanjiran orderan dari para pegawai atau karyawan yang ingin work from home (WFH).
Menurut Husni, saat WFH ternyata ada sebagian dari mereka yang tidak bisa bekerja selama berada di rumah. Maka salah satu alternatifnya adalah menyewa kamar di hotel. “Bahkan pernah ada perusahaan yang membooking kamar untuk karyawannya yang ingin WFH,” ungkapnya.
Para tamu yang menginap ini untuk hariannya makan dan minum melalui jalur online. Pihak hotel memang tidak menyediakan masakan, jadi seluruh kebutuhan makanan dan minuman masing-masing tamu pesan melalui online.
Kini, diusianya yang ke 40 tahun, Husni sedang merintis sebuah lembaga pendidikan pesantren tahfidz di wilayah Bogor. Peletakan batu pertama dimulainya pembangunan gedung pesantren bernama Pesantren Al-Husni ini pada Agustus 2022, berbarengan dengan milad Husni yang ke-40 tahun.
“Pesantren ini mimpi ibu yang harus saya wujudkan, bahkan di pesatren ini nantinya makam ayah dan ibu serta keluarga besar pondok akan dimakamkan di pesantren ini, agar doa-doa para santri terus mengalir,” ungkapnya.
Pesantren Al-Husni menempati luas tanah sekitar 2 hektar. Ke depannya potensi pengembangannya sangat terbuka luas. Rencananya akan dikembangkan hingga 10 hektar. “Semoga ini menjadi amal yang terus mengalir dari lembaga Pesantren Al-Husni ini,” jelasnya.
Bagaimana kiat-kiat Husni berbisnis ini? Ternyata jebolan S2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi APRIN Palembang ini mengacu pada Surah As Shaff 10-11. “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.”
Menurut pemilik nama lengkap Kiagus Muhammad Husni ini, sudah jelas sekali bahwa Allah sudah mengatur dalam ayat tersebut, bahwa jika ingin berbisnis. Langkah pertama adalah beriman kepada Allah dan Rasul Muhammad. Setelah itu baru berjihad di jalan Allah denga harta dan jiwamu. “InsyaAllah jika ini kita jalankan, Allah akan buka pintu rejeki itu dengan mudah,” jelasnya. [Fath]





















