Pohang, Gontornews — Para peneliti asal Pohang University of Science & Technology (POSTECH) memprediksi bahwa La Nina dan El Nino telah bervariasi sejak setahun mendatang.
El Nino Suthern Oscilation (ENSO) merupakan variasi periodik yang tidak teratur dalam angin, suhu laut dan udara di sekitar wilayah Khatulistiwa di Samudera Pasifik. Jika El-Nino dimaknai sebagai fase pemasan suhu permukaan laut, maka La Nina dipahami sebagai fase pendinginan. Keduanya memiliki pengaruh yang siginifikan terhadap perubahan iklim di seluruh dunia.
Misalnya, El Nino akan mendorong lebih banyak menyebabkan topan di Samudera Pasifik dan sedikit topan di Samudera Atlantik. Keduanya memang memiliki keterkaitan satu sama lain.
Namun, para peneliti menemukan hal mengejutkan. Mereka menemukan kenaikan suhu abnormal di kolam hangat Atlantik yang berpotensi memicu La Nina dalam rentang 17 bulan mendatang.
Mereka juga menyimpulkan bahwa model simulasi yang mampu menangkap pola yang terjadi antara kolam hangat Atlantik dam ENSO itu dapat memperluas kemampuan klimatologi terkait perubahan suhu permukaan laut penyebab La Nina dan El Nino. [Mohamad Deny Irawan]





















