Amman, Gontornews – Perampasan rumah warga Palestina di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem, bentrokan di dalam dan sekitar Masjid Al-Aqsha antara jamaah Muslim dan polisi Israel, dan saling serang antara Hamas dan militer Israel dapat berubah menjadi perang saudara antara Yahudi Israel dan warga Palestina di Israel.
Warga Palestina, yang tinggal di kota-kota campuran Arab dan Yahudi seperti Lydda, Ramleh, Bat Yam, Haifa dan Yaffo, telah berulang kali diserang dalam beberapa hari terakhir. Sebagian besar serangan itu karena alasan rasisme.
Massa Yahudi sayap kanan yang meneriakkan slogan “bunuh orang Arab” telah memukuli warga, merusak rumah, dan menargetkan toko milik orang Arab – yang merupakan 20 persen dari warga negara Israel.
Wadie Abu Nassar, seorang konsul kehormatan Spanyol yang berbasis di Haifa dan seorang analis politik, mengatakan, putrinya serta mobil dan rumah mereka di Haifa, menjadi sasaran massa anti-Arab.
Berbicara kepada sebuah stasiun radio lokal, Abu Nassar mengatakan putrinya terkejut dengan apa yang terjadi. Namun, luka yang lebih dalam tidak bersifat fisik. “Sementara putri saya menderita beberapa luka fisik, luka yang jauh lebih dalam ialah luka emosional yang disebabkan oleh rasisme, yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun,” katanya dikutip Arabnews.com.
Abu Nassar, penasihat uskup Katolik di Israel, Palestina dan Yordania, menambahkan bahwa apa yang terjadi benar-benar menyingkapkan sebuah kekhawatiran. “Saya sangat percaya pada nonkekerasan, tetapi jelas bahwa publik Israel sekarang melihat kedalaman rasisme, dan itu terjadi hanya karena fakta bahwa mereka dipaksa untuk berurusan dengan sesuatu yang telah dihadapi orang-orang Palestina selama bertahun-tahun.”
Sementara itu Prof Sari Nusseibeh, mantan Rektor Universitas Al-Quds, mengatakan bahwa dia tiba-tiba melihat dua wajah pemberontakan publik Palestina di Israel: satu mengungkapkan ketidakpuasan yang tersembunyi terhadap negara Israel, dan yang kedua sebuah identifikasi dengan perjuangan nasional Palestina dan afiliasi keagamaan.
“Pecahnya kondisi ketidakpercayaan di tengah-tengah masyarakat, hukuman mati tanpa pengadilan, dan kekacauan harus menjadi tanda yang jelas bagi Israel bahwa sistem diskriminatif yang didasarkan pada ideologi supremasi tidak akan berlaku selamanya dan harus diperbaiki jika ‘hari perhitungan’ ingin dihindari,” katanya.
“Sementara itu, roket dari Gaza, betapapun lemahnya kekuatan nuklir dan militernya, harus menjadi peringatan bagi Israel bahwa perjuangan nasional Palestina tidak akan pernah hilang, dan akan terus menjadi ancaman mematikan bagi kehidupan Israel, serta tantangan politik bagi citra Israel di dunia,” tambahnya.
“Israel berkewajiban untuk introspeksi dan menerima kenyataan bahwa perdamaian tidak akan pernah tercapai sampai keadilan terwujud.”
Dan Shanit, pensiunan dokter Israel dan mantan kepala program medis di Peres Center for Peace, mengatakan bahwa dia kecewa dengan politisi korup. “Tanggung jawab ada pada para koruptor yang ingin mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, sementara yang lain mengeksploitasi sentimen agama dan nasionalisme untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat setelah pemilu yang gagal. Massa tampaknya berada di atas angin sementara darah warga tumpah,” tandasnya.
Sedangkan Organisasi Mossawa yang berbasis di Haifa meminta komunitas internasional untuk berupaya membantu gencatan senjata segera dan menghentikan serangan terhadap Gaza.
Dalam sebuah pernyataan, mereka menuntut hak kebebasan beribadah untuk semua, hak kebebasan bergerak, perlindungan hak untuk menyatakan pendapat dan berdemonstrasi tanpa menjadi sasaran penindasan atau penganiayaan oleh aparat keamanan, dan penolakan terhadap upaya apapun untuk merebut properti warga Palestina.
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa pemukim di seluruh daerah Arab dan kota campuran bermaksud memicu bentrokan dengan pengunjuk rasa Arab.
“Bocoran percakapan kelompok pemukim sayap kanan melalui (aplikasi) Telegram menunjukkan niat untuk membunuh dan melukai orang Arab secara fisik, serta bukti video pemukim menggunakan amunisi langsung untuk menembak para pengunjuk rasa Palestina. Banyak bentrokan diprovokasi dan penangkapan polisi bersifat diskriminatif terhadap satu pihak,” katanya.
Botrus Mansour, seorang pengacara yang berbasis di Nazareth, mengatakan bahwa meskipun sejumlah peristiwa di hari-hari terakhir ini sangat menyakitkan untuk dilihat, namun hal itu ada hikmahnya.
“Selama bertahun-tahun kami telah berbicara tentang masalah dalam komunitas Arab – meningkatnya kekerasan – dan kami juga telah mengungkapkan kekhawatiran kami bahwa rasisme anti-Arab yang dibiarkan oleh pejabat senior, pada suatu hari akan menunjukkan hasilnya di lapangan,” katanya.
“Apa yang kita lihat sekarang merupakan bukti dari argumen tersebut bahwa Pemerintah Israel telah terlalu lama mengabaikan kekerasan dan hasutan terhadap orang Arab oleh ekstremis sayap kanan. Sekarang Israel telah melihat hasil dari kebijakan yang salah itu.”
Jamal Dajani, seorang warga Yerusalem dan mantan kepala komunikasi perdana menteri Palestina, mengatakan bahwa situasi di Israel sangat tidak stabil dan mudah memanas dengan cepat karena didorong oleh Kahanist (faksi ekstremis Yahudi) di parlemen dan Pemerintah Israel.
“Apa yang kami lihat dalam 24 jam terakhir, massa Yahudi yang menghukum 48 warga Palestina dan menyerang bisnis mereka, merupakan sesuatu yang sangat dikhawatirkan, terutama jika perang di Gaza terus berlanjut,” tambahnya.
Sementara itu, mantan pejabat Organisasi Pembebasan Palestina, Hanan Ashrawi, mengatakan peristiwa beberapa hari terakhir memiliki efek ‘yang menggembirakan’ karena telah menyatukan warga Palestina di Tepi Barat termasuk Yerusalem, di Gaza, dan diaspora di seluruh dunia. []





















