Jakarta, Gontornews — Sebanyak 27 mahasiswi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melakukan kunjungan studi ke AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Rombongan berasal dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) semester VI kelas C1 kampus putri UNIDA Gontor. Rombongan 27 mahasiswi tersebut didampingi Ustadz Taufik Akhyar MAg, dan Ustadzah Dr Nindiya Ayomi Dirahara MPd dan diterima Pembina AQL Islamic Center, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN).
Kunjungan mahasiswi UNIDA Gontor ke AQL Islamic Center tersebut menjadi bagian dari kegiatan studi lapangan yang menggabungkan pembelajaran akademik dengan pendalaman pemahaman mengenai tadabur Al-Qur’an. Melalui kegiatan tersebut, para mahasiswi diharapkan memperoleh tambahan wawasan mengenai cara memahami dan berinteraksi dengan Al-Qur’an, sekaligus menghubungkan kajian akademik dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Perwakilan UNIDA Gontor, Ustadz Mahmud, menyampaikan apresiasi kepada Ustadz Bachtiar Nasir selaku Pembina AQL Islamic Center sekaligus pimpinan Yayasan Pusat Peradaban Islam yang telah menerima kunjungan para mahasiswi. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Mahmud juga menyampaikan salam dari Rektor UNIDA Gontor Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi dan Dekan Fakultas Ushuluddin Ustadz Syamsul Hadi Untung kepada Ustadz Bachtiar Nasir beserta jajaran pengelola AQL Islamic Center.
“Kedua, kami ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Al-Ustadz, pengelola, dan juga pimpinan Yayasan Pusat Peradaban Islam, Al-Ustadz KH Bachtiar Nasir Lc MM, atas waktu yang sudah diberikan untuk menerima kami,” ujar Ustadz Mahmud.
Menurutnya, kunjungan tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni mempererat silaturahim sekaligus menambah pemahaman mengenai tadabur Al-Qur’an. “Tujuan utama kami ke sini, pertama ingin silaturahim, kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu bersama Al-Ustadz Bachtiar Nasir tentang tadabur Al-Qur’an,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Ustadz Bachtiar Nasir memberikan kuliah umum mengenai tadabur Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa pemahaman terhadap tafsir merupakan landasan penting dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, menurut UBN, pemahaman tafsir tidak semestinya berhenti pada aspek akademik, tetapi perlu dilanjutkan dengan tadabur agar pesan dan pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur’an dapat direnungkan dan diterapkan dalam kehidupan. “Kalian di jurusan khusus dan tafsir sudah bagus, karena untuk bertadabur harus pakai tafsir. Enggak mungkin bertadabur enggak pakai tafsir. Tapi, harus mentadaburinya,” ujar UBN.
Menurut UBN, Al-Qur’an tidak hanya untuk dipelajari dan dipahami, tetapi juga untuk direnungkan dan menjadi pedoman dalam kehidupan. Karena itu, penting membangun pola interaksi yang tepat dengan Al-Qur’an. Pesannya tentu: jangan sampai berinteraksi dengan cara yang salah. Yang benar bagaimana? Yang benar berinteraksi dengan cara yang disukai oleh Al-Qur’an. “Bertadabur adalah memandang sesuatu di balik sesuatu dan memahami akibat yang akan ditimbulkannya,” ujar UBN. []






















