Bandung, Gontornews — Dokter hewan Armanda D Prayugo dalam sebuah kajian Majelis Qur’ani yang diadakan Yayasan Hasbi Quran Indonesia menjelaskan secara panjang lebar terkait, Kurban Sehat Bebas Dampak PMK. Ilmu tersebut penting untuk diketahui masyarakat luas, karena belakangan ini isu Penyakit Mulut dan Kuku pada hewan ternak tengah ramai disoroti media dan membuat resah masyarakat peternak di sejumlah daerah.
Dokter muda ini lantas sekilas menerangkan sejarah masuknya PMK di Indonesia, “Awalnya pada tahun1887 penyakit ini masuk melalui importasi sapi perah dari Belanda dan beberapa kali mewabah.” Kemudian pada tahun 1983, wabah PMK terakhir menjangkiti Pulau Jawa dan dilakukan pemberantasan dengan vaksin massal. Kemudian pada tahun 1986 dideklarasikan secara nasional terhadap status Indonesia bebas PMK dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Pertanian.
PMK sejatinya adalah penyakit yang disebabkan oleh Apthovirus, struktur virus tidak beramplop, dapat bertahan lama di lingkungan, menyerang hewan berkuku genap/ belah (sapi, kambing, domba, dan lainnya), juga menyebabkan penyakit dengan gejala bagian mulut dan kuku. Sedangkan proses penyebaran PMK ialah penularan secara langsung (kontak langsung antarternak yang sakit) dan tidak langsung (melalui pakan, peralatan, dan lingkungan).
Sang dokter pun lalu menjelaskan beberapa ciri hewan yang terserang PMK seperti sapi mengeluarkan air liur berlebih diikuti luka pada bagian moncong, gusi, lidah, dan atau bagian mulut. Sedangkan gejala penyakit yang muncul yaitu terdapat luka pada bagian kaki terutama tracak/kuku, khas pada
bagian perbatasan, sela-sela kuku, atau bagian belakang kuku.
PMK sendiri menurut drh Armanda menyerang hewan ternak, terutama ternak sapi paling rentan. Sehingga menyebabkan kerugian bagi peternak.
“PMK tidak menular ke manusia dan tidak menimbulkan masalah pangan dari daging yang akan dikonsumsi,” tekan sang dokter. Dianjurkan agar dilakukan penyembelihan dengan cara yang baik dan mengolah daging secara matang sempurna yakni merebus dalam air mendidih selama tiga puluh menit. [Edithya Miranti]






















