Depok, Gontornews — Menjadi seorang penulis terkenal tentu membutuhkan proses dan trik tersendiri. Dalam menulis sebuah cerita contohnya, ada banyak hal yang harus dipelajari para penulis pemula khususnya untuk dapat menghidupkan sosok tokoh dalam sebuah cerita yang diangkatnya.
Dr Helvy Tiana Rosa SS MHum pada sebuah kesempatan bersama Komunitas Bisa Menulis menjelaskan bahwa ada banyak penulis legendaris yang berhasil menampilkan berbagai karakter tokoh fiksi yang terus dapat diingat banyak orang. Contohnya, tokoh Si Buta dari Gua Hantu yang bernama asli Barda Mandrawata ini berasal dari komik yang ditulis Ganes TH dan pertama kali terbit pada tahun 1967.
Cerita ini sukses dan kemudian dibuat berseri cerita ketika Si Buta menyeberang ke Pulau Bali, Flores, dan lainnya. Bahkan cerita ini juga sempat diangkat ke layar lebar serta komiknya dicetak kembali pada tahun 2005.
Kepada Gontornews.com, cerpenis yang lahir di Medan, 2 April 1970 itu pun menjelaskan bahwa ada bebera cara pengarang menampilkan tokoh dalam cerita. Pertama, pengarang menceritakan watak tokoh secara langsung (analitik). Kedua, menggambarkan watak tokoh dengan cara tidak langsung (dramatik) diantaranya melalui latar tempat/lingkungan/sosial budaya, fisik dan perilaku tokoh, pengungkapan jalan pikiran tokoh, dialog antar tokoh, dan lainnya. Ketiga, menggunakan kedua cara di atas untuk saling melengkapi.
Dalam mencari sosok tokoh yang akan diangkat, penulis juga bisa terlebih dulu menentukan informasi latar belakang tokoh. “Latar belakang keluarga tokoh, pendidikan, agama, lingkungan sosial budaya, atau profesi,” tambah kakak Asmanadia tersebut. Selain itu, pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) ini pun juga mengajak para peserta seminar untuk menentukan bentuk fisik tokoh, misalnya jenis kelamin, warna kulit, bentuk anggota tubuh, tinggi atau berat badan, model rambut, dan masih banyak lagi.
Hal yang tak kalah penting yang juga turut disarankan Dr Helvy untuk menghidupkan sosok tokoh dalam sebuah cerita yaitu dengan menggali sisi psikologis dan konflik batin tokoh. “Pengarang perlu menghidupkan karakter melalui konflik batin yang dialami tokoh,” tekan putri dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti itu.
Di antara caranya dengan memunculkan sisi emosional tokoh, tingkat kecerdasannya, cara tokoh berinteraksi dengan orang lain, pendangannya terhadap nilai agama dan norma sosial, trauma di masa lalu, obsesinya, dan lainnya. [Edithya Miranti]
























