Cibinong, Gontronews — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merespon maraknya penemuan puluhan anak ular kobra di sejumlah pemukiman warga seperti di Bogor, Jember, Jakarta, Klaten dan Yogyakarta. LIPI meminta masyarakat untuk mewaspadai fenomena ini karena, meskipun masih bayi, bisa ular kobra sangat berbahaya bagi manusia.
Peneliti reptil dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy menjelaskan bahwa, umumnya, ular kobra yang ada di Indonesia ada dua: Kobra Sumatera atau Naja sumatrana yang ditemukan di Sumatera dan Kalimantan serta Kobra Jawa atau Naja sputarix yang tersebar di Jawa, bali, Lombok, Pulau Komodo, Rinca, Sumbawa dan Flores.
Amir menambahkan bahwa habita ular kobra jawa terdapat di perbatasan hutan yang terbuka, padang savana, areal persawahan dan pekaragan. Di musim kawin, ular kobra jawa betina dapat menghasilkan 10-20 butir telur setiap kali bertelur. Telur-telur tersebut diletakan oleh induknya di lubang-lubang tanah atau di bawah serasah daun kering yang lembab.
“Awal musim penghujan adalah waktu menetaskan telur ular. Fenomena ini wajar dan merupakan siklus alami,” kata Amir sebagaimana dilansir laman LIPI.go.id
“Begitu menetas, anak kobra akan langsung menyebar kemana-mana,” tambah Amir.
Meski tergolong ular berbiasa tinggi, warga yang tersengat bisa Kobra dapat menghubungi pihak rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Amir, secara spesifik, tidak membedakan efek racun kobra yang disengatkan oleh ular kobra dewasa ataupun ular bayi.
“Meskipun masih bayi, ular kobra sudah memiliki kelenjar bisa yang mampu menghasilkan bisa dan berbahaya bagi manusia,” ujar Amir.
“Jika terjadi kasus gigitan ular kobra, maka penangananya dapat mengikuti petunjuk terbaru WHO tentang manajemen kasus gigitan ular kobra. Antibisa kobra jawa sudah tersedia di Indonsia, sehingga masyarakat dapat memastikan ketersediaan tersebut dengan mengetahui letak rumah sakit terdekat yang memiliiki stok antibisa,” tambah Amir.
LIPI, tambah Amir, lantas menghimbau kepada masyarakat agar melakukan upaya-upaya untuk menghindari masuknya ular kobra ke pemukiman warga, seperti: 1) Menggunakan pembersih lantai beraroma menyengat; tidak meninggalkan sampah bekas makanan di rumah; 3) selalu membersihkan rumah dari tumpukan barang, daun kering atau material menumpuk di pekarangan rumah.
Sementara terkati pengendalian populasi ular, Amir meminta agar semua pihak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem agar tidak terjadi permasalahan ekologi. Sementara untuk keamanan manusia, Amir menghimbau agar masyarakat menghubungi petugas berwenang yang memiliki pengetahuan dalam menangani ular berbisa. [Mohamad Deny Irawan]





















