Jakarta, Gontornews — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut bahwa tidak ada satu pihak manapun yang mengetahui dengan pasti kapan terjadinya gempa dan seberapa kuat gempa tersebut akan mengguncang sebuah daerah.
Ketimbang membicarakan tentang kepastian gempa, Peneliti Gempa dan Tsunami dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman, menganjurkan tentang mitigasi bencana karena Indonesia sangat rentan terhadap bencana gempa.
“Wilayah Indonesia berada di kawasan lempeng bumi yang terus bergerak yakni Indonesia-Australia dari sebelah selatan. Eurasia dari utara dan Pasifik dari timur. Itu salah satu alasan mengapa Indonesia rawan gempa bumi,” kata Danny saat menyampaikan analisis gempa dan tsunami beserta rekomendasi mitigasi untuk pengurangan risiko bencana di Indonesia, Selasa (2/10) di Media Centre LIPI, Jakarta.
Lebih lanjut, Danny menjelaskan bahwa ada sejumlah kerusakan yang terjadi akibat musibah gempa seperti keruskan langsung karena tanah pendukung atau kerusakan langsung atas struktur tanah akibat gaya inersia atau kelembaman selama goyangan gempa. Salah satu contohnya adalah fenomena likuifaksi yang menenggelamkan hampir seluruh Perumahan Balaroa dan Petobo, Palu.
“Palu yang berada di atas sesar (Palu Koro) ini menjadikan sebagai daerah yang sangat rawan gempa,” kata Danny sebagaimana dilansir lipi.go.id.
Terkait likuifaksi atau tanah bergerak, Danny menjelaskan bahwa likuifaksi merupakan kondisi di mana keadaan tanah tidak padat sehingga tercampur dengan air tanah saat gempa menggoyang Palu.
“Likuifaksi tersebut terjadi karena keadaan tanah yang tidak padat. Akibat guncangan gempa, air yang berada di dalam tanah pun naik dan bercampur dengan tanah,” tambah Danny.
Sementara itu, terkait tsunami di Palu, peneliti geofisika kelautan dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Nugroho Dwi Hananto menduga bahwa tsunami di Palu terjadi karena adanya gerakan vertikal di dasar laut akibat gempa.
“Gempa di sesar mendatar cenderung tidak menimbulkan tsunami. Diduga ada gerakan vertikal di sesar yang ada di dasar laut serta bentuk dasar laut Teluk Palu yang curam,” katanya.
Selain itu, longsornya tebing bawah laut akibat gempa juga disinyalir sebagai penyebab tsunami di Palu.
“Kondisi geomorfologi yang curam dan tipe batu yang tidak terkonsolidasi memungkinkan terjadinya longsor tebing laut,” pungkas Dwi. [Mohamad Deny Irawan]





















