Bogor, Gontornews — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong Pemerintah untuk mengantisipasi zoonosis dalam menanggulangi virus korona asal Wuhan. Zoonosis merupakan istilah bagi penyakit yang ditularkan dari satwa liar ke manusia.
LIPI menduga bahwa satwa liar, yang menyebrang lintas negara secara alami maupun dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan tertentu, berperan penting dalam penyebaran virus korona Wuhan. Satwa liar yang dianggap berpotensi menularkan penyakit adalah tikus, kelelawar, celurut, karnivora dan kelompok primata seperti monyet.
“Hewan yang berpotensi membawa penyakit adalah tikus, kelelawar, celurut, karnivora dan kelompok primata seperti monyet,” ungkap Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi, sebagaimana dilansir laman LIPI.go.id.
Sementara itu, peneliti bidang mikrobiologi LIPI, Sugiyono Saputra menjelaskan bahwa pihaknya menduga bahwa virus korona Wuhan berasal dari kelelawar yang bertindak sebagai perantara alaminya.
“Penelitian menunjukkan ketiga jenis coronavirus yang bersifat mematikan terhadap manusia berasal dari kelelawar yang berperan sebagai perantara alaminya,” ucap Sugiyono.
Sementara, penyebaran virus korona yang masif lebih disebabkan tingginya mobilitas manusia yang berada di sekitar Wuhan. Meski demikian, LIPI menyebut kasus penyebaran virus korona dari manusia ke manusia sangat jarang meski hal tersebut dimungkinkan.
“Tetapi, virus tersebut dapat pula menginfeksi hewan lainya sebagai perantara. Dan hewan perantara tersebutlah yang lebih sering beriteraksi dengan manusia,” imbuh Sugioyono dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Sugiyono menduga bahwa virus korona Wuhan merupakan gabungan coronavirus yang berasal dari Ular ataupun kelelawar. “Rekombinasi yang dimaksud adalah gabungan antara bagian selubung virus dari coronavirus asal kelelawar yang dikenal dapat menginfeksi manusia dan dari material genetik coronavirus yang berasal dari ular,” jelas Sugiyono.
Spesies ular yang dikatikan dengan virus korona Wuhan adalah jenis Bungarus multicinctus atau the many-banded krait dan Naja atra atau the Chinese cobra.
“Mutasi bagian inilah yang menyebabkan coronavirus dari ular dapat menginvesi sel-sel pada saluran pernapasan manusia.”
“(Aelain ular dan kelelawar), para ilmuwan juga menduga bahwa mamalia juga menjadi kandidat hewan yang mampu menularkan virus korona kepada manusia seperti halnya yang terjadi pada pasien SARS ataupun MERS,” tutup Sugiyono. [Mohamad Deny Irawan]






















