Kuala Lumpur, Gontornews — Pemerintah Malaysia membeberkan alasan masifnya pasokan vaksin yang negara-negara ASEAN peroleh. Mereka mengambil contoh bagaimana Singapura mendapatkan pasokan vaksin Pfizer-BioNTech dan Indonesia dalam mendapatkan vaksin Sinovac asal Cina.
Namun, pemerintah Malaysia membela bahwa lambatnya pasokan vaksin tidak hanya dialami oleh negaranya tetapi juga oleh negara-negara lain di dunia.
Berbicara pada pertemuan khusus dengan parlemen Malaysia, Menteri Sains, Teknologi dan Inovasi, Khairy Jamaluddin mengatakan alasan masif dan cepatnya pasokan vaksin Pfizer-BioNTech oleh Singapura karena mereka Tamasek Holdings, BUMN Singapura, memiliki saham di perusahaan Pfizer-BioNTech.
Selain Singapura, Israel juga mendapatkan akses vaksin Pfizer dengan cepat karena mereka berani membayar biaya vaksin yang sangat tinggi.
βIsrael membayar harga yang sangat tinggi dan mereka setuju untuk berbagi data vaksinasi warga dengan Pfizer-BioNTech, sebuah opsi yang tidak negara lain miliki,β kata Khairy Jamaluddin sebagaimana dilansir Channel News Asia dari media lokal Malaysia, The Star.
Sementara lambat masuknya vaksin Pfizer-BioNTech ke Malaysia karena teknologi yang mereka gunakan relatif baru dan tidak memiliki data uji klinis yang tersedia.
Sementara itu, masifnya pasokan vaksin Sinovac ke Indonesia karena negara kepulauan tersebut merupakan salah satu lokasi uji coba fase ketiga vaksin asal Cina tersebut. Khairy beralasan Malaysia tetap mengedepankan etika dalam pengadaan vaksin dengan tetap merujuk pada laporan kemanjuran maupun keamanan.
Khairy juga menambahkan Malaysia bukanlah satu-satunya negara yang terlambat dalam pengadaan vaksin. Beberapa negara dunia pertama juga mengalami hal yang sama.
βAustralia, Korea Selatan dan Jepang juga menerima pasokan vaksin merkea dalam waktu yang hampir bersamaan. Ini menunjukkan bahwa kami membuat penilaian yang sama dengan negara-negara berkembang Asia Pasifik lainnya,β ucap Khairy.
Dalam kampanye vaksinasi nasionalnya, Malaysia menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech, AstraZeneca dan Sinovac dari Cina. Mereka juga telah memberikan persetujuan darurat kepada CanSino, Sinopharm, Lanssen, serta Sputnik-V dari Rusia. Mereka juga akan menerima vaksin Novavax dari program berbagai COVAX.
Dengan stabilnya pasokan vaksin, pemerintah Malaysia terus meningkatkan program vaksinasinya ke seluruh wilayah. Mereka bahkan telah memecahkan rekor vaksinasi harian dengan berhasil memberikan lebih dari 550.000 dosis vaksin.
Sejauh ini, Malaysia telah berhasil memberikan vaksin dosis pertama kepada 12,49 juta warga atau 38,2 persen dari populasi Malaysia. Sedangkan warga yang telah mendapatkan dua dosis vaksin lengkap berjumlah 5,9 juta atau 18,1 persen populasi Malaysia. [Mohamad Deny Irawan]





















