Jakarta, Gontornews — Masjid Jami An-Nawier atau yang lebih dikenal dengan Masjid Jami Pekojan Jakarta, tidak dapat dilepaskan dari kiprah perjuangan pendirinya, bernama Daeng Usman Bin Rohaeli lalu dilanjutkan Komandan Dahlan.
Asal usul nama An-Nawier pada masjid ini diberikan oleh pendahulu yang memiliki arti bersinar, atau dapat menyinari wilayah seputar masjid. Masjid ini menjadi salah satu ikon di Kampung Arab Pekojan.
Setiap arsitektur bangunan Masjid An-Nawier ini memiliki filosofi yang berkaitan dengan ajaran Islam. Seperti 5 pintu yang menghadap kiblat melambangkan rukun Islam, 6 pintu di samping masjid melambangkan rukun iman, dan 33 pilar melambangkan butiran tasbih.
Masjid tua dan bersejarah ini kini masuk dalam daftar bangunan bersejarah yang dilindungi dengan pengesahan berupa SK. Mendikbud R.I. No. 0128/M/1988
Berdasarkan catatan sejarah yang ada di Masjid Jami’ An-Nawier, disebutkan bahwa Masjid Jami’ An-Nawier pertama kali berdiri tahun 1760M bertepatan dengan tahun 1180 H berupa sebuah surau kecil yang diketuai oleh Daeng Usman Bin Rohaeli sampai tahun 1825 M.
Kemudian diteruskan oleh Komandan Dahlan tahun 1825-1860 M. Daeng Ustman, adalah salah seorang pedagang yang menggunakan sungai Pekojan sebagai jalur transportasi dagangnya. Kemudian ia berinisiatif mendirikan masjid, sehingga dibangunlah masjid ini.
Salah satu sumber menyebutkan bahwa Komandan Dahlan adalah seorang utusan Kesultanan Banten yang membantu Fatahillah menyerang Belanda di daerah Sunda Kelapa. Dari kebiasaannya menggunakan ikat kepala dari kain tenun Banten yang disebut Koja lahir nama PeKOJAn.
Makam Komandan Dahlan kini bisa dilihat di sebelah utara masjid yang dikelilingi batu pahatan besar. Di sekitar masjid pun ada beberapa makam-makam tua para ulama besar Kampung Pekojan. Konon Masjid Jami Pekojan ini dahulunya menjadi induk dari masjid-masjid sekitar Batavia.
Tahun 1897M Syarifah Kecil atau Syarifah Fatimah binti Husein Al Idrus mewakafkan tanah miliknya untuk keperluan pembangunan Masjid. Dan pada tahun 1926 masjid ini diperluas dan diperindah oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus, ia merupakan seorang muslim kaya raya yang namanya diabadikan menjadi nama Jalan Alaydrus di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat. Semasa hidupnya ia ikut menyelundupkan senjata untuk para pejuang Aceh saat melawan Belanda.
Masjid An-Nawier ini merupakan salah satu masjid tempat mengajar Habib Usman Bin Yahya, pengarang sekitar 50 buku (kitab kuning) berbahasa Melayu Arab gundul. Ia pernah diangkat sebagai mufti Betawi pada 1862 (1279 H). Salah seorang muridnya adalah Habib Ali Alhabsji (meninggal 1968) yang mendirikan Majelis Taklim Kwitang serta Masjid Arriyadh di Kwitang.
Masjid An-Nawier mempunyai arsitektur indah dan khas. Kekhasan terlihat dari perpaduan gaya Timur Tengah, Cina, Eropa, dan Jawa. Tidak terdapatnya kubah merupakan bentuk pengaruh masjid di Timur Tengah, tepatnya Hadramaut (Yaman Selatan).
Memasuki ruang utama, terlihat jelas pada tiang penyangga berbentuk silinder bercat putih khas Eropa. Dalam ruang utama berbentuk huruf L tersebut berdiri kokoh 33 pilar besar. Jumlah pilar sesuai jumlah dzikir yang biasa dibaca umat Islam setelah selesai shalat.
Bagian depan ruang utama terdapat dua mimbar tempat berkotbah. Salah satunya hadiah dari Sultan Pontianak pada abad 18 Masehi. Di dinding dekat mimbar terdapat tulisan Arab dengan arti: “Inilah mibar tempat menyampaikan penerangan-penerangan agama dan nasihat yang benar”.
Luas bangunannya sekitar 1.983 meter persegi berdiri di atas areal tanah seluas 2.520 m2, dan dapat menampung sekitar 2.000 jamaah. Karena terkenal paling tua di daerah Pekojan, maka masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Pekojan. Masjid mempunyai menara mirip mercusuar dengan tinggi 17 meter, berdiri kokoh di bagian luar. Konon, pada masa perjuangan kemerdekaan, menara ini sering dijadikan tempat bersembunyi para pejuang dari kejaran tentara penjajah. [Fathur]






















