Jakarta, Gontornews – Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Dr Syamsuddin Arif, menilai tuduhan yang dialamatkan kepada masjid kompleks dan kampus sebagai sarang radikalisme adalah wujud dari islamophobia.
“Tuduhan tersebut merupakan wujud islamophobia,” kata Syamsuddin Arif saat dihubungi Gontornews, Jumat (3/11) siang.
Alumnus Pondok Modern Gontor itu menuturkan, tuduhan tersebut merupakan propaganda yang berujung pada terorisme dan kriminalisasi.
“(Tuduhan tersebut) mengarah pada blackmailing dan namecalling (propaganda) yang ujungnya adalah terorisme vertikal maupun horizontal.”
“Akhirnya kriminalisasi” tambahnya.
Sebelumnya, peneliti Setara Institute, Sudarto menyebut bahwa masjid-masjid di lokasi perumahan dan kampus dinilai sebagai sarang radikalisme dan intoleransi.
“Masjid di lingkungan perumahan, mengembangkan narasi seruan jihad. Tema-tema perang yang mengobarkan semangat jamaah dan tentu saja hasutan-hasutan kebencian terhadap kelompok lain yang tidak sejalan,” ujar Sudarto sebagaimana dilansir CNN.
“Dalam situs DISC (Depok Islamic Study Circle), ada gambar otak dengan ulat serta lalat yang disimpulkan sebagai otak Jaringan Islam Liberal (JIL) yang harus dilawan. Mereka juga menganggap Ahmadiyah, Syiah, LGBT, komunisme sebagai musuh Islam,” tambahnya.
Pernyataan yang dilontarkan Setara Institute, oleh Syamsuddin, harus dijawab, diklarifikasi dan dibantah.
“Ya. Finger pointing. Maka (tuduhan tersebut) mesti dijawab, dilawan, diserang balik atau ditekan,” pungkas dosen pascasarjana UNIDA Gontor itu. [Mohamad Deny Irawan]




















