Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi dalam menafsirkan ayat-ayat di atas memaknai lafal masjid dalam maknanya yang umum sebagai tempat bersujud dan tempat untuk mendirikan shalat. Dalam pengertian ini, seluruh tempat di muka bumi ini dapat menjadi masjid. Lalu mengapa ada masjid dirar dan masjid takwa? Dalam sejarahnya, masjid pertama yang didirikan oleh kaum Muslimin yaitu masjid Quba’, bangunan masjid yang dibangun oleh Bani Amr bin ‘Auf. Untuk menyaingi Masjid Quba’ tersebut, Bani Ghunm bin ‘Auf juga mendirikan masjid serupa. Kaum munafik ini berniat untuk menyaingi dan memecah-belah di antara pengikut Rasulillah SAW. Masjid ini dinamai masjid dirar, dalam penafsiran al-Sha’rawi, karena diniatkan untuk sum’ah, riya’, dan memecah-belah. Jadi, setiap masjid yang dimaksudkan dibangun dengan landasan niat seperti ini dapat dimengerti sebagai masjid dirar. Perbuatan ini merupakan perilaku kaum kafir dan munafik yang selalu menginginkan terjadinya keresahan di kalangan umat Islam. Perilaku yang menginginkan mental spiritual umat Islam rontok dan rapuh oleh perpecahan yang tidak perlu.
Sebaliknya, masjid takwa adalah masjid yang dibangun karena kecintaan kepada ibadah dan kebersihan hati untuk semakin dekat kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Menurut al-Sha’rawi, dalam konteks masjid takwa dan masjid dirar ini, yang terpenting dan yang menjadi masalah bukanlah bangunan masjid dan bentuk bangunannya. Melainkan, pada siapa yang mengelolanya, yang menjadi takmirnya, dan yang menjadi aktivis masjid tersebut. Masjid takwa dibangun oleh mereka yang beriman kepada Allah, kepada Hari Akhir, dan melakukan kebajikan dengan upaya maksimal. Masjid takwa adalah masjid yang diniatkan oleh para pemakmurnya sebagai basis aktivitas pengembangan mental spiritual, berhimpunnya kebajikan, ajang silaturrahim menumbuhkan saling kasih-sayang dan bersatu atas dasar kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta dalam kasih sayang kepada sesama mahkluk Allah dan alam semesta. Singkatnya, masjid yang diperuntukkan sebagai pusat pendidikan bagi pengembangan kapasitas keilmuan, penguatan praktik mental spiritual dan ketaatan kepada Allah, serta perkaderan kader-kader Islam yang dapat menebar kebajikan dan rahmat bagi alam semesta.
Masjid sebagai Centre of Excellence
Syahdan, menurut riwayat yang shahih, QS Al-Tawbah: 122 diwahyukan terkait dengan pendidikan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW di Masjid Nabawi. Berdasarkan sebab turunnya, al-Qurtubi menjelaskan bahwa hukum berjuang di medan perang dan mendalami agama sama-sama fardhu kifayah. Dalam ayat ini diuraikan bahwa harus ada sekelompok orang yang terjun berjuang ke medan laga dalam mempertahankan eksistensi agama Islam. Tak kalah krusialnya harus ada sebagian kelompok lainnya yang tetap mendampingi Rasulillah Muhammad SAW, di Majelis Ilmunya. Sehingga, tatkala perang telah usai, para sahabat yang konsen belajar dan mendalami agama bersama Rasulullah SAW harus mengajarkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat yang ikut berperang dan belum mendapatkan pengetahuan tentang ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.
Tafaqquh fi al-Din adalah perlambang nilai-nilai ajaran Islam. Islam dalam lintasan sejarah peradaban umat manusia hadir secara kuat sebagai agama dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bagi al-Qur’an yang perlu diajarkan kepada umat manusia bukan sekedar pengetahuan yang berfungsi untuk pengetahuan belaka. Melainkan untuk pengembangan kejernihan berpikir, yang tunduk kepada Allah SWT serta diikuti secara bersamaan dengan kebajikan akhlak yang luhur.
Maka, ketika Islam hadir di negeri gurun pasir Hijaz, bukan berarti penduduknya orang-orang bodoh dari pengetahuan. Mereka justru para penyair hebat. Para pengusaha sukses. Para politisi ulung. Para ilmuwan dengan segudang pengetahuan. Tetapi, pengetahuan mereka hanya untuk pengetahuan dan gagah-gagahan, tanpa disertai dengan kehebatan akhlak yang nyata. Pengetahuan mereka disertai justru oleh perilaku buruk terhadap kemanusiaan. Perilaku buruk terhadap perekonomian. Perilaku buruk terhadap mereka sendiri yang syirik dan menggantungkan hidupnya kepada berhala. Merekalah jahiliyah karena justru pengetahuan mereka tidak berdampak kebajikan apapun, melainkan keburukan dan perilaku aniaya. Mereka disindir al-Qur’an sebagai orang-orang yang memiliki hati, tetapi tak dapat mengerti; yang mempunyai indera penglihatan dan pendengaran, tetapi tidak digunakan. Mereka bagaikan binatang, bahkan lebih sesat dan buruk darinya (QS al-A’raf: 179).
Ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an merupakan tonggak peradaban kebajikan yang maslahat untuk seluruh umat manusia. Seorang Mukmin yang berpengetahuan merupakan seseorang yang berdedikasi tinggi terhadap kebajikan (al-khayr dan al-ma’ruf). Dia akan selalu berpikir untuk menebarkan kebaikan serta bermanfaat untuk sesama. Berpikirnya jernih, tanpa dusta. Tanpa kamuflase data. Komitmennya terhadap kebaikan penuh dengan integritas. Inilah buah dari pendidikan yang berpusat di masjid takwa. Lahirnya generasi yang unggul dengan pengetahuan dan peradaban berbasis akhlak yang mulia.
Dalam sejarah, masjid takwa telah melahirkan Ali bin Abi Thalib, Abdullah Ibn ‘Abbas, Abdullah Ibn Mas’ud, Abu Hurayrah, Said al-Khudri, Sofyan al-Tsauri, Abdullah Ibn al-Mubarik, Imam Ja’far al-Shadiq, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi, Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi, dan lain-lain. Dalam konteks Indonesia, masjid takwa telah melahirkan Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Hasan Besari, dan lain-lain. Masjid takwa telah melahirkan kader-kader unggul yang mewarisi keilmuan para Nabi dalam menyebarkan nilai-nilai tauhid dan akhlak terpuji. Kader unggul tersebut lalu menjadi suluh agama, bangsa, dan negara Indonesia tercinta.
Kini masjid dibangun tidak hanya mengiringi pendirian Pesantren. Ada yang dibangun atas swadaya masyarakat di sebuah perkampungan atau perkotaan. Ada juga yang dibangun di terminal, di perkantoran. Kuntowijoyo menyatakan pendapatnya terkait fenomena masjid belakangan dengan tesis Muslim tanpa masjid. Muslim ini tidak berafiliasi ke masjid manapun. Tetapi, dia di sepanjang perjalanan beribadah di dalam masjid yang dibangun tidak terkait dengan afiliasinya itu. Tantangan hari ini menjadikan masjid sebagai Pusat Pendidikan yaitu mengembalikan ruh masjid sebagai kesadaran kolektif umat Islam sebagaimana makna dan konteks maknanya yang disebutkan dalam al-Qur’an di atas. Seraya menjadikan masjid sebagai wadah persatuan dan keilmuan umat Islam. Dari masjid diharapkan lahir karya-karya kadernya yang dapat mencerahkan alam semesta. Sebagaimana masjid sebagai pusat peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam. []





















