Untungnya kalau masih dalam hati belum berdosa. Ingin berbuat baik dapat pahala, ingin berbuat jahat tidak dapat dosa, ingin tok. Man hamma bisayyiatin falam ya’malhaa, belum dapat azab. Man hamma bihasanatin falam ya’malhaa lahu ajrun, ini hebatnya. Jadi tidak enaknya jadi manusia karena bertanggung jawab. Maka syukur kita karena Ramadhan syahrun maghfirah.
Waktu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ditanya ini ini ini, coba lihat Qurrata ‘ayni fisshalah. Yaa Allah, betapa nikmatnya kalau kamu bisa nikmat di waktu shalat. Bukan waktu makan lontong, opor. Kalau hari raya biasanya ada opor ayam. Nggak enak ya poso-poso ngomong makanan, tidak boleh, nanti dimarahin bapak ibu.
Poso-poso tidak boleh. Nggak boleh ngomong panganan. Tidak boleh ya kita bicara yang namanya makanan, tidak boleh. Tapi, orang kan jual makanan: soto soto soto. Dosa banyak ya itu kira-kira. Yaa Allah ndak usah diteruskan, ndak enak. Ngomong yang bukan makanan, apa yang enak? Kamu sedang enak-enaknya olahraga, apalagi jalan kaki, ngobrol-ngobrol. Nah, Rasulullah mengatakan ju’ilat qurrata ‘ayni fisshalah. Antum menikmati shalat apa tidak? Pasti kalau saya tanya, kamu ngakunya, iya ya saya shalat itu kadang-kadang khusyu’ kadang-kadang nggak. Ya sama, apa kalau tidak khusyu’ lantas (disebut) tidak shalat. Oh tidak. Saya mau berderma tapi belum bisa ikhlas, makanya saya belum berderma. Saya ndak mau berzakat, kata orang itu berzakat pencitraan untuk pamer, makanya saya ndak mau zakat. Kamu itu ikhlas atau ndak ikhlas, ya harus zakat. Ikhlas atau ndak ikhlas harus shalat, ya atau tidak?
Ada kawan saya ngomong, masih kelas 6: Wah sudah shalat, Alhamdulillah. Sudah bebas. Jadi akan ke mana-mana enak. Kamu juga suka begitu, ya? Apa yang kamu katakan kalau begitu? Ya memang, orang kalau sudah shalat, enak memang. Begitu jawabannya, ya? Ada yang menasihati, dan itu saya anggap nasihat: “Senang kamu mengatakan, Alhamdulillah saya sudah shalat, enak kalau sudah shalat.” Tapi lebih baik lagi, kalau mengatakan “Alhamdulillah saya enak waktu shalat.” Bagaimana caranya kamu mengatakan: Alhamdulillah ana enak karena sudah shalat, saya senang kalau kamu mengatakan, “Alhamdulillah saya enak waktu shalat tadi itu.”
Kalau kamu mengatakan, “Alhamdulillah sudah shalat, kalau tidur ndak terputus-putus.” Nanti kalau ketabrak sepur rapopo pokoke wis shalat, ya apa tidak? Mau membayar hutang ndak apa-apa, ndak bayar ndak apa-apa, yang penting sudah shalat, (hutang) nanti dibayar anak saya. Itu namanya apa syukur setelah shalat? Bagaimana kamu enak di waktu shalat, bagaimana antum menikmati qurratu ‘aini fisshalah, sampai sujud itu Subhanaka Allahumma wabihamdika Allahummaghfirli. Betul? Inna maa aqraba bayna abdi wa Rabbihi fissujud fa aktsiru minaddu’aa, sedekat-dekatnya hamba dengan Allah itu diwaktu sujud. Maka perbanyaklah berdoa Subhaanaka Allahumma wabihamdika Allahummaghfirli. Kalau kamu yang di KMI masih Subhaana Rabbiyal A’la. Jadi waktu itu lah fursoh, waktu untuk masih bisa istighfar. Beruntung kamu masih bisa berpuasa hari ini, yang sudah ndak ada mereka sudah beristighfar banyak. Lah, kamu sekarang yang beristighfar. Fursoh maghfirah Allah itu setinggi-tingginya nikmat Subhaanaka Allahumma wabihamdika Allahummastaghfirli. Itu nikmatnya orang sujud. Rasulullah waktu ditanya, “Rasulullah tolong saya ingin sama Rasul, ingin bersama Rasul masuk surge, ingin berdampingan sama Rasulullah.” Jawabannya apa? Fa’idnii bikatsratis sujud, sujuto sing akeh, bersujudlah yang banyak. As aluka murafaqataka fil Jannah. []





















