Sydney, Gontornews — Menyusul terjadinya peningkatan suhu di Australia, ribuan penduduk yang tinggal di Australia sebelah timur pergi meninggalkan rumahnya, Selasa (10/12). Upaya ini dilakukan menyusul ancaman kebakaran hutan yang diprediksi semakin parah seiring kedatangan musim panas di Australia.
Sementara itu, pemerintah South New Wales (NSW) mengatakan bahwa kualitas udara di Sydney juga memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Kabut asap yang menutupi sebagian besar wilayah Sydney telah mengganggu layanan transportasi serta kesehatan warga.
“Ini menakutkan. Banyak orang telah memutuskan untuk pergi dan saya akan melakukan hal yang sama,” ungkap Walikota Hawkesbury, Barry Calvert, kepada Reuters.
“Saya sudah pernah mengalami hal ini 20 tahun yang lalu ketika saya berdiri di luar rumah dan melihat api setinggi 50 kaki. Andai itu terjadi lagi, saya akan memutuskan untuk pergi lebih awal,” imbuhnya.
Meski diprediksi tidak akan mencapai level kebakaran dahsyat seperti yang terjadi bulan lalu. Pihak berwenang memastikan bahwa meningkatkan cuaca panas dan angin kering pada musim panas akan meluaskan penyebaran titik api.
Demi menanggulangi musibah tersebut, Perdana Menteri Australia, Scoot Morrison mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan setidaknya 111 pesawat untuk bergabung dengan upaya pemadam kebakaran jika diperlukan.
Kebakaran hutan merupakan hal biasa yang terjadi di Australia saat memasuki musim panas. Akan tetapi, keganasan kebakaran hutan yang terjadi sebelum musim panas datang telah membuat bencana kebakaran hutan di Australia semakin menjadi-jadi. Para ahli mengatakan perubahan iklim telah membuat semak belukar kering.
Pemerintah Australia merilis indeks kualitas udara di Sydney dan di beberapa kota memburuk. “Tetap tinggal di dalam rumah dengan jendela dan pintu tertutup. Akan lebih disukai jika anda tinggal di ruangan ber-AC,” pungkas keterangan Departemen Kesehatan NSW. [Mohamad Deny Irawan]






















