Pekanbaru, Gontornews — Senin (10/5) kemaren, kaum Muslimin Indonesia kembali dirundung duka atas kepergian sosok ulama kharismatik, Ustadz KH Tengku Zulkarnain. Dilansir news.detik.com bahwa almarhum dikabarkan meninggal dunia setelah dinyatakan positif COVID-19.
Meski telah beberapa hari almarhum KH Tengku Zulkarnain wafat, namun umat Muslim Indonesia tampaknya masih belum bisa move on dengan terus mengenang jasa dan amal shalih almarhum dan banyak memposting video ceramah KH Zulkarnain di jagad maya.
Mantan wakil sekretaris jenderal Majelis Ulama Indonesia ini memang dikenal santun dan humoris. Selain pandai berdakwah, almarhum juga ternyata pandai bermain musik dan bernyanyi. Masyarakat pun sampai dibuat tercengang atas kelihaiannya dalam dunia seni tersebut.
Di sisi lain, gaya berdakwah KH Zulkarnain cukup lugas, tegas, dan tak jarang diselingi dengan candaan yang menyentil pihak-pihak anti Islam. Begitu besar kecintaan sang ustadz kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga ia mengharapkan agar nama baik Islam dan perjuangan para ulama bisa tetap terjaga selamanya.
Sebelum kepergiannya, almarhum Ustadz tengku Zulkarnain juga pernah menyampaikan tausiyah terkait kematian. Sang Ustadz menjelaskan bahwa setiap yang hidup tentunya akan mati. Namun kematian bagi seorang Muslim adalah saat dimana segala kebaikannya akan dilipatgandakan.
“Sebagaimana kematian akan menghentikan kita dari perbuatan dosa dan maksiat,” terang sang ustadz. Kematian juga, lanjutnya, justru akan menjadi awal penghitungan segala pahala kebaikan yang telah dikumpulkan oleh orang-orang yang beriman semasa hidupnya.
Da’i Nusantara ini juga menambahkan bahwa kata “mati” bukanlah perkataan yang kasar sehingga harus diganti dengan meninggal. Sebagaimana awalnya penjajah Belanda berkeberatan dengan kata mati yang dinilai kasar dan meminta untuk menggantinya dengan kata meninggal.
Karena sejatinya kata meninggal bisa saja diartikan dengan banyak hal seperti meninggalkan barang, rumah, atau lainnya. Sedangkan kata mati jelas, artinya tidak hidup dan kata ini berasal dari Bahasa Arab. “Inna ash-sholatiy wa nusukiy, wa mahyaya, wa mamatiy lillahi Rabbil ‘alamin,” ujar KH Tengku Zulkarnain, mengutip bacaan iftitah ketika shalat.
Cuplikan ceramah sang ulama di atas, lagi-lagi mengingatkan kita bahwa kematian seorang Muslim adalah awal dari segala kebaikannya selama di dunia. Semua yang bernyawa pasti akan mati, baik yang muda atau yang tua. Maka persiapkanlah kematian kita masing-masing dengan bekal yang cukup untuk Hari Akhir.
Semasa hidupnya, sang kiai memang telah banyak sekali menebar pesan serta ilmu yang bermanfaat kepada umat. Umat pun akan terus mengenang kebaikannya karena merasa sangat kehilangan akan sosok sang ulama yang santun, kaya ilmu, dan tawadhu tersebut.
Atas kepergian sang ulama tercinta, Ustadz Tengku Zulkarnain, segenap keluarga besar Majalah Gontor dan Gontornews.com mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhum Ustadz Tengku Zulkarnain dihapuskan segala dosanya, diterima segala amal baiknya, dan ditempatkan di Jannah Firdaus-Nya, aamiin. <Edithya Miranti>



















