Rimbo, Gontornews — Para pejabat Yaman mengatakan, mengganti Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi tidak akan menyelesaikan masalah Yaman. Sebab, masalahnya adalah kudeta militer yang terjadi pada tahun 2014.
Demikian dikatakan seorang anggota delegasi Pemerintah Yaman untuk pembicaraan damai di Swedia dan penasihat senior presiden, Abdulaziz Jabari.
Ia mengatakan, penderitaan negara itu berawal dari pengambilalihan Sana’a dan wilayah lainnya, bukan dari posisi yang diduduki Hadi.
“Masalahnya adalah kudeta militer yang terjadi pada tahun 2014,” kata Jabari seperti dikutip Aljazeera pada hari Sabtu (8/12).
“Masalahnya adalah dengan mereka, yang melalui agresi, mengambil alih negara kita.”
“Katakanlah Hadi berada di luar pemerintahan, ini tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, perebutan kekuasaan akan terus berlanjut,” paparnya.
“Masalah terbesar kami adalah ada kelompok yang telah membajak negara.”
Kelompok-kelompok yang bertikai di Yaman telah bertemu di Kota Rimbo, Swedia, sejak Kamis untuk membahas cara-cara mengakhiri pertempuran yang telah menewaskan sekitar 56.000 orang dan membuat 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Utusan khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, sedang berusaha untuk memperkenalkan langkah-langkah mengakhiri perang Yaman, termasuk pertukaran narapidana skala besar, negosiasi gencatan senjata di Hodeidah dan pembukaan kembali bandara Sana’a.
Negosiasi tanpa tatap muka, diperkirakan akan berlangsung hingga 14 Desember. Tapi sebagaimana dikutip Aljazeera, negosiasi itu dapat diperpanjang sesuai keperluan. [Rusdiono Mukri]






















