Seorang sahabat, Uqbah bin Amir, bertanya kepada Rasulullah SAW tentang bagaimana menggapai keselamatan di zaman penuh fitnah. Kemudian Rasulullah menjawab dengan sederhana, “Tidak banyak bicara (puasa bicara) tapi banyak bekerja (beramal), kedua hendaknya jembarkan rumahmu, bukan harus luas besar, yang penting hatinya yang jembar, ketiga tangisi kesalahan-kesalahanmu,” nasihat Rasul.
Rasul juga memberi peringatan kepada kita, dengan perintahnya bersegeralah kamu beramal shalih, karena nanti akan datang masa, akan terjadi malapetaka bagaikan gelombang kegelapan malam yang sulit mengetahui mana halal dan haram, benar dan salah. Disebutkan, seseorang pagi harinya dalam keadaan beriman sedangkan sorenya menjadi kafir, atau sebaliknya, di antara sebabnya karena menjual agamanya dengan dunia.
Kalau Rasulullah saja pernah mengisyaratkan bahwa setelah beliau diutus sebagai Nabi akhir zaman, artinya kiamat sudah dekat. Karena ajaran-ajaran akhir zaman tentunya lengkap dan sempurna dan bisa menanggulangi semua problematika yang akan ada, sebagaimana yang tertulis dasar-dasarnya, landasannya di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagaimana telah disiapkan Allah SWT untuk manusia dalam menghadapi semua itu.
Jadi kalau orang yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah mesti kadang-kadang boleh tatharruf melenceng ke kanan atau ke kiri. Hal yang membuat umat ini wasath ialah kalau mereka berpegang teguh pada keduanya. Maka jangan banyak berdebat di zaman akhir, namun puasalah bicara. Banyak bekerja, beramal, serta jangan banyak diskusi. Menyiapkan generasi yang betul-betul menjadi umatan wasathan, umat yang moderat, ajarannya al-Qur’an dan as-Sunah, jika itu dipegang betul sesuai ajaran Rasulullah SAW mesti akan menjadi umatan wasathan.
Jadi masa depan dengan kondisi seperti ini, banyaknya fitan, malapetaka akan membuka lahan yang banyak untuk berdakwah melalui pendidikan. Jangan acuh karena umat ini perlu ada yang membimbing dari pendidikan agama dan semua sisi, juga dari semua jenjang pendidikan, baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan seterusnya.
Lebih dari itu sejarah umat Islam di Indonesia dulu banyak terwarnai dengan kerajaan Hindu, tapi Walisongo mampu mengubah kepercayaan masyarakat menjadi mayoritas Muslim. Masa depan harus diwaspadai. Kalau anak cuma diajari ilmu saja tapi hatinya kosong, apakah anak ketika sendirian nanti sanggup bisa menahan diri dari godaan setan yang muncul di layar handphonenya. Jangan kita bergaya abad 19, yang dididik abad 20, dan yang diajari abad 21. Masalah yang akan datang harus diantisipasi. Orangtua akan merasa lebih aman jika menyekolahkan anaknya di lembaga pesantren.
Maka perlindungannya jelas, al-Qur’an bilang bahwa waktu itu mahal. Semua amal akan dihisab dan jika tidak ada penekanan tentang urusan akhirat pada anak, maka itu berbahaya. Padahal Rasulullah SAW sudah memperingatkan bahwa umatnya bagaikan buih di bawah banjir, penyakitnya disebutkan, antisipasinya kita juga harus memikirkan apa pendidikan untuk menyiapkan anak di masa depan.
Ajari anak-anakmu, mereka itu diciptakan bukan untuk seperti zamanmu sekalian, maka masa depan pesantren, pendidikan yang kuat itu salah satu solusi. Semoga dengan dilindungi al-Qur’an, mereka akan menjadi orang baik. Yakin bahwa jika al-Qur’an mengatakan kitab ini diturunkan penuh berkah. Maka di masa depan, siapa saja yang berkesempatan mempunyai modal untuk memperbanyak taman al-Qur’an, berkah. []





















