Jakarta, Gontornews – Perubahan adalah fitrah. Perubahan bagi umat Islam bukan sekedar meraih keadaan menjadi lebih baik. Perubahan seharusnya berfungsi untuk memastikan terlaksananya misi penciptaan manusia untuk beribadah dalam setiap aspek kehidupannya.
“Dalam sebuah perubahan diperlukan jaminan atas kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin,” tutur aktivis dakwah, Iffah Ainur Rochmah, kepada Gontornews.com. Sebagaimana kepemimpinan ala Rasulullah SAW dahulu yang berhasil mencontohkan realitas politik yang tertata baik dari ajaran Islam.
“Sungguh bagi kalian di dalam diri Rasulullah SAW itu ada teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah SWT dan Hari Akhir dan banyak mengingat Allah SWT.” QS. Al-Ahzab: 21.
“Metode perubahan yang ditawarkan Rasulullah SAW diawali dengan pendirian sebuah partai Rasul,” terang wanita asal Jawa Timur itu. Lalu Rasulullah SAW menggiatkan sistem kaderisasi dalam kepemimpinan dengan melakukan pembinaan kepada para tokoh dan anggota lainnya.
Rasulullah SAW pun terus memberikan ajaran dan gagasan yang shahih serta terperinci kepada para pengikutnya. Sehingga semua prajuritnya bisa baris dalam satu ajaran dan gagasan yang sama yakni bersumber dari Islam.
Seiring dengan itu, Rasulullah SAW juga terus mengenalkan metode yang benar dan konsisten, yakni mengajak seluruh umatnya untuk saling tolong-menolong untuk menegakkan dan membela agam Islam.
Sebagaimana pada zaman jahiliyyah, sistem korup sudah menjalar dimana-mana. “Namun Islam berhasil membersihkannya akibat pemberlakuan ajaran Islam yang baik dan benar,” pungkas Iffah. <Edithya Miranti>





















