Washington, Gontornews — Bagi sebagian ibu rumah tangga, memberikan minuman dengan kandungan probiotik dapat mengurangi masalah perut yang dialami anak-anak. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa faktanya probiotik tidak berdampak pada penderita Gastroenteritis atau infeksi lambung atau usus yang disebabkan oleh virus atau bakteri.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr David Schnadower dari Departement of Emergency Medicine, Cincinnati Children’s Hospital Medical Center, Ohio Amerika Serikat itu menjelaskan bahwa minuman probiotik tidak berpengaruh pada anak-anak.
“Probiotik telah menjadi cara terpopuler untuk mengobati sakit perut akut yang dialami oleh anak-anak,” kata penulis utama Dr David Schnadower sebagaimana dilansir Science Daily.
“Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa probiotik dapat membantu. Namun, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Kami berusaha memberi bukti independen dan menyeluruh untuk melawan penggunaan probiotik pada bayi dan balita penderita sakit perut akut,” tambah Schnadower yang melibatkan 971 anak berusia 3 bulan hingga 4 tahun sebagai responden penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa probiotik memang tidak memberikan solusi penting dalam upaya penanggulangan sakit perut bada bayi dan balita. Sebaliknya, para peneliti justru menganjurkan para orang tua agar memberikan makanan yang mengandung serat seperti buah dan sayur-sayuran sebagai ‘obat’ dari penyakit yang menginfeksi usus tersebut.
“Probiotik tidak berpengaruh pada anak-anak. (Ketimbang membelikan minuman probiotik baiknya) bagi orang tua untuk menabung dan membelikan buah-buahan dan sayuran lebih banyak bagi anak-anaknya,” kata anggota tim penelitian yaitu Profesor Prediatik dari Washington Universty, Philip I Tarr dan Direktur Pediatrik Gastroenterologi, Hepatologi dan Nutrisi, Melvin E Carnahan.
“Hasil studi di AS dan Kanada tidak ambigu,” kata keduanya merujuk pada penelitian serupa yang pernah diilakukan di Amerika Serikat dan Kananda tentang jenis minuman probiotik Culturelle yang mengandung bakteri Lactobacillus rhamnosus GG atu LGG.
Lebih lanjut, Schnadower sempat mempertanyakan penggunaan bakteri LGG sebagai obat sakit perut pada bayi dan balita. Padahal tidak ada penelitian yang menjelaskan bahwa mikroorganisme ini memiliki manfaat kesehatan.
“Produsen probiotik umumnya mengklaim bahwa mikroorganisme (LGG) memiliki manfaat kesehatan yang positif padahal tidak ada bukti pendukung yang kuat,”
“Oleh karena probiotik sangat populer, sudah seharusnya biaya yang dikeluarkan sepadan dengan manfaat kesehatan yang diterima,” papar Schnadower sambil menunjukkan bahwa penjualan probiotik di Amerika Serikat diprediksi meningkat dari 37 Miliar Dollar AS atau sekitar 537 Triliun Rupiah (kurs 1 Dollar AS = Rp 14.540,-) pada tahun 2015 menjadi 64 Miliar Dollar AS atau sekitar 930 Triliun Rupiah pada 2023.
Untuk membuktikan bahwa bakteri LGG tidak berdampak pada infeksi tersebut. Bahkan Schnadower melakukan uji coba dengan menggunakan banyak skenario tapi hasilnya tetap sama.
“Kami menguji banyak skenario berbeda kepada bayi dan balita. Apaka pasien telah meminum antibiotik, apakah penyebab gastroenteritis dari virus atau bakteri atau berapa lama mereka mengalami diare sebelum penobatan awal diberikan. Kami juga memiliki probiotik independen yang telah diuji kemurnian dan kekuatannya,”
“Setiap kali kami melakukan pengujian, kesimpulannya selalu sama: LGG tidak membantu!” pungkasnya dalam penelitian berjudul Lactobacillus rhamnosus GG versus Placebo for Acute Gasroenteritis in Children yang diterbitkan oleh The New England Journal of Medicine yang terbit 21 November 2018. [Mohamad Deny Irawan]





















