Mentawai, Gontornews — Tim Safari Dakwah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menginjakkan kaki di Desa Berkat Ilahi pekan lalu. Sebuah desa mayoritas non-Muslim di Mentawai.
Pada 1954, desa ini diresmikan oleh Wakil Presiden Mohamad Hatta. Wapres Hatta menamakannya sebagai Desa Berkat Ilahi, lantaran saat itu penduduknya 100% Muslim.
Namun, sepuluh tahun kemudian, seluruh warga Desa Berkat berbalik aqidah. Satu-satunya masjid di desa itu roboh tak terpakai dan akhirnya jadi (maaf) kandang babi. Tragedi tersebut karena tiadanya dai yang ditempatkan di sana. Umat mualaf akhirnya ‘’diopeni’’ pihak lain.
Pada 2013, melalui Gerakan Muslim Minang (GMM) donatur dari Kajang, Malaysia, membangun Mushola Berkah Ilahi di sana. Ini menandai aktifnya gerakan dakwah.
“Alhamdulillah, saat ini sudah ada tujuh keluarga Muslim dari total 97 KK penduduk Berkat Ilahi. Mereka dibina Ustadz Sulaiman, dai asal Pulau Siberut, Mentawai, yang ditugaskan GMM,” tutur Nurbowo dari LAZNAS Dewan Dakwah ini.
Kedatangan rombongan yang terdiri dari LAZNAS Dewan Dakwah Pusat, Sumatera Barat, dan perwakilan LAZ Bank Syariah Mandiri (BSM), disambut gembira semua warga Muslim. Mereka menjemput di dermaga perahu, dan mengiringi langkah kaki tim sejauh lebih kurang 2 km menuju ke mushala.
‘’Menjadi umat minoritas, di sisi lain patut disyukuri. Biasanya kita menjadi lebih bersemangat dalam beribadah dan bersatu dengan saudara seiman,’’ pesan Nurbowo dari LAZNAS Dewan Dakwah saat menyampaikan sambutan di hadapan jamaah Mushala Berkah Ilahi.
Tim kemudian membagikan paket sembako, mukena, dan kain sarung persembahan LAZ BSM. Jamaah pria juga menerima bingkisan berupa baju batik Pekalongan bawaan Mudatsir dari Komunitas Petani Bawang Merah Nusantara.
Ustadz Sulaiman sangat terharu siang itu. ‘’Terima kasih, tolong sering-seringlah kami dikunjungi,’’ katanya dalam bahasa sederhana.
Mulai 2011, dai Dewan Dakwah yang ditugaskan ke Mentawai adalah sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Di antaranya: Mahmud (Siberut), Heri Sitorus (Sikakap), Surachman (Makalo), Yasir dan dilanjutkan oleh Nurul Mihardja (Tubeket), serta Agus Nadi (Sikakap).
Begitupun, kerja para dai Dewan Dakwah dan lembaga lainnya, masih belum meng-cover kebutuhan Mentawai. Masih banyak dusun bahkan desa Muslim yang belum mendapat jatah dai.
‘’Di Sikakap ini saja ada 13 dusun, belum semuanya ada dai,’’ ungkap Agus Nadi yang bersama istrinya membina 43 anak mualaf Mentawai di Asrama Dewan Dakwah Sikakap.
Ketua Umum Dewan Dakwah, M Siddik, menyeru kaum Muslimin untuk terus mendukung Program Dakwah Pedalaman, sejak pendidikan kader dai, penempatan, hingga pengembangan jamaah binaan. [Fathurroji]





















