Rakhine, Gontornews — Menyusul tewasnya 13 orang polisi yang berjaga di pos penjagaan di Rakhine tepat di saat perayaah hari kemerdekaan, Pemerintah Myanmar meminta seluruh etnis yang tinggal di Rakhine tidak terlibat dengan aktifitas kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis Arakan Army (AA).
Juru bicara Kantor Presiden, U Zaw Htay, mendesak agar orang-orang yang tinggal di Rakhine tidak mendukung Rakhine.
“Saya ingin mendesak orang-orang Rakhine pendukung AA untuk mempertimbangkan apakah Rakhine akan lebih baik dengan AA?” kata Htay di kantor penasehat negara, Nay Pyi Taw, Senin (7/1) sebagaimana dilansir The Myanmar Times.
“Saya minta kepada warga Rakhine agar berhenti mendukung AA,” tambah Htay.
Secara spesifik, Htay meminta kepada orang-orang berpengaruh di Rakhine seperti Bhikkhu agar mempertimbangkan kembali konsekuensi dari bentuk dukungan yang mereka alamatkan kepada kelompok etnis bersenjata tersebut.
“Kami ingin AA menghindari kegiatan yang dapat mendukung kegiatan ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army) baik secara politis maupun militer. Saya menyarankan mereka untuk datang dan bergabung bersama dalam diskusi politik. Saya ingin memberi tahu mereka untuk tidak bekerjasama dan membantu kelompok teroris,” jelas Htay.
Akibat tewasnya 13 polisi penjaga itu pula, Kantor Kepresidenan Myanmar memutuskan untuk melakukan operasi pemberantasan, menginstruksikkan mereka untuk menggunakan seluruh sumber daya yang diperlukan termasuk peningkatan jumlah pasukan hingga menggunakan helikopter.
Sementara itu, seorang warga Rakhine, Ma Oo Khin Thein, menyesalkan pertempuran yang melibatkan pihak militer Tamtadaw dengan AA di pos penjagaan yang telah menyebabkan mereka terlantar serta mengganggu kehidupan mereka yang sudah sedemikian sulit.
“Saya melarikan diri karena serangan itu. Saya meninggalkan semua harta milik saya seperti sapi dan kambing di desa. Kita tidak bisa bertani. Kita hanya bisa mendapatkan upah yang cukup untuk kebutuhan satu hari. Jika tidak ada pekerjaan, makanpun akan sulit,” kata Khin Thein.
“Jika tidak ada pertempuran, kita bisa kembali ke desa kita dengan damai,” pungkas Khin. [Mohamad Deny Irawan]






















