Naypyidaw, Gontornews — Anggota pasukan keamanan Myanmar akan menghadapi tindakan hukum atas perampokan dan penembakan mematikan terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine yang bergolak, kata seorang juru bicara pemerintah.
Pembunuhan terhadap 10 warga Rohingya terjadi di Desa Inn Din pada bulan September tahun lalu dan mayat-mayatnya dikuburkan di sebuah kuburan massal setelah mereka dibunuh oleh warga Budha dan tentara Myanmar.
“Tindakan sesuai undang-undang akan dijatuhkan terhadap tujuh tentara, tiga polisi, dan enam penduduk desa sebagai bagian dari penyelidikan tentara,” kata juru bicara pemerintah Zaw Htay pada hari Ahad (11/2), seperti dikutip Aljazeera.
Militer mengatakan pada bulan Januari 10 orang Rohingya yang terbunuh termasuk dalam kelompok 200 “teroris” yang telah menyerang pasukan keamanan. Warga desa Budha menyerang mereka dengan pedang dan tentara menembak orang-orang hingga tewas, katanya.
Namun versi militer tersebut bertentangan dengan laporan yang diberikan kepada kantor berita Reuters oleh para ilmuwan Rakhine Budha dan Rohingya.
Warga desa Budha melaporkan tidak ada serangan pemberontak terhadap pasukan keamanan yang terjadi di Inn Din. Sedangkan saksi Rohingya mengatakan kepada kantor berita itu bahwa tentara menangkap 10 orang dari antara ratusan orang yang menyelamatkan diri di pantai terdekat.
Hampir 690 ribu warga Rohingya telah melarikan diri dari Rakhine dan menyeberang ke selatan Bangladesh sejak Agustus, ketika serangan terhadap pos keamanan oleh pemberontak memicu sebuah tindakan keras militer yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan genosida.
Namun Pemerintah Myanmar membantah tuduhan tersebut.
Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson bertemu dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi pada hari Ahad (11/2) di ibukota, Naypyidaw, untuk membahas perpulangan ratusan ribu Rohingya dengan aman.
Suu Kyi – peraih Nobel Perdamaian – telah menghadapi rentetan kritik internasional karena gagal menghentikan kekerasan terhadap Rohingya. [Rusdiono Mukri]






















