Yangon, Gontornews — Lembaga Kebijakan Strategis Australia (Australian Strategic Policy Institute/ASPI) melaporkan bahwa Pemerintah Myanmar tidak serius dalam melakukan persiapan guna menerima kembali pengungsi Rohingya dari Bangladesh. ASPI melakukan pemantauan satelit untuk melihat tanda-tanda rekonstruksi wilayah di Rakhine.
“Kerusakan yang berkelanjutan dari area perumahan sepanjang tahun 2018-2019 menimbulkan pertanyaan serius tentang ketersediaan pemerintah Myanmar untuk memfasilitasi proses repatriasi dengan aman dan bermartabat,” ungkap salah satu peneliti ASPI, Nathan Ruser, sebagaimana dilansir Reuters.
Sementara itu, Juru bicara pemerintah Myanmar enggan memberikan komentar terhadap temuan peneliti ASPI tersebut. Sebaliknya, Pemerintah Myanmar berulang kali mengatakan bahwa pihaknya telah siap menerima kembali pengungsi Rohingya dan menuduh Bangladesh memperlambat proses repatriasi.
Sebelumnya, Pemerintah Myanmar berjanji untuk mempersiapkan pemukiman bagi pengungsi Rohingya. Sejumlah negara seperti Cina dan India bahkan memberikan bantuan kepada Myanmar agar membangun pemukiman yang layak bagi para pengungsi.
Sebuah laporan dari unit bencana dari ASEAN, bahkan, memuji persiapan Myanmar yang dinilai lancar dan tertib. Tidak hanya itu, laporan AHA Centre mengatakan bahwa proses repatriasi setengah juta pengungsi Rohingya akan kembali secara berangsur-angsur dalam rentang dua tahun mendatang.
Padahal, kelompok Hak Asasi Manusia internasional mengecam proses repatriasi yang disebut-sebut menutupi kekejaman serta mengabaikan konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. PBB bahkan menyebut bahwa pengembalian pengungsi Rohingya di Bangladesh belum kondusif. [Mohamad Deny Irawan]






















