Solo, Gontornews — Ahad (3/9/2023) menjadi sebuah momentum indah yang sangat berkesan bagi para peserta Reuni Akbar Alumni Gontor Putri 2002. Tidak hanya bisa melepas rindu dengan sesama santri di pondok dulu, namun pada acara tersebut alumni juga dapat mendengar langsung tausiyah dari mantan Wakil Pengasuh Gontor Putri 1, Dr KH Ahmad Hidayatullah Zarkasyi MA.
Dalam pesannya sang kiai menuturkan, “Nak, usiamu sudah 40 tahun, mau minta berapa tahun lagi? Maka nasehat kami tetap seperti dulu, jangan tidak mengambil peran melestraikan Islam untuk ratusan tahun ke depan, minimal di Indonesia sebagaimana dilakukan nenek moyang kita.β
Putra KH Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti Pendiri Gontor itu pun menambahkan, βIbu berbicara dari hati dan intuisiβ. Rasa kelembutan dan firasat ibu tidak bisa disaingi oleh sang bapak.” Itulah, lanjutnya, kekuatan seorang wanita.
Banyak sekali contoh peran ibu dalam melestarikan Islam, diantaranya dengan bercerita kepada anak-anaknya tentang kisah Nabi Muhammad SAW dan kisah-kisah Islami lainnya. Peran wanita dalam melestarikan Islam terutama untuk anak keturunannya sangatlah penting dan ada banyak cara. Oleh sebab itu, tetaplah mengambil peran apa pun dan dimana pun. “Jadilah bu nyai bagi anak-anakmu dan orang lain di sekitarmu,” tekan sang kiai penuh kharismatik tersebut.
Seberapa bertambah pendapatanmu, jaringannya, keahlianmu, jangan tidak mengambil peran melestarikan Islam. “Kalau bahasa di Gontor, sudahlah nak, kalau pulang jangan lupa mencetak kader Mukafih sebagaimana anak-anakku dulu dicetak di Gontor,β ungkapnya.
Dalam bahasa lain, jadikanlah anak-anakmu ‘singa-singa betina’! Khoirunnas anfaβuhum linnas.
Mulai sekarang kita berfikir itu, berdaya dan berempati tapi tetap berukhuwah. Kalau ukhuwah Islamiyahnya sudah semuanya di Gontor.
Jadikan anak-anakmu santri. Sesuai masa berlakunya kita, maka kita maksimalkan. Dan ini modal kita, sesuai Hadist Rasulullah SAW yang bisa menjadikan ilmu yuntafau bihi. Syukur kalau anak kita menjadi waladun shalihun dan bisa menjadi ladang investasi bagi kita.
Anak-anakku, Gontor tidak mengambil anak-anak sekolah di Gontor semenjak usia Sekolah Dasar, dengan harapan mendapat pendidikan dari ibu dan bapaknya karena masih banyak hal-hal yang tidak bisa digantikan dari orangtua. Maka, ambillah peran itu sebelum anda memasukkan anak-anak ke sekolah yang kalian pilih.
Jangan sampai anak-anakmu bisa mengaji dari orang lain, sebab yang menanam itu semua semestinya ibu yang ‘singa’ itu. Meskipun ada lembaga-lembaga penitipan di sekitarnya. Namun tetaplah usahakan untuk mengambil peran mulia tersebut. Karena mereka saat besar akan mengingat momen itu. “Itulah yang menjadikan kita dekat dengan orangtua dan anak pun bisa mendoakan orangtuanya,” pungkas Kiai Hidayatullah. [Edithya Miranti]





















