Ponorogo, Gontornews — Bagi keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ustadz Syarif Abadi merupakan sosok yang disegani. Segannya para santri dan guru bukanlah karena dia duduk di lembaga-lembaga PMDG melainkan karena faktor guru senior yang dikenal menguasai banyak bidang keilmuan Islam. Uniknya, Ustadz Syarif Abadi tidak pernah mengenyam pendidikan sarjana.
“Bapak sedang dialog dengan ulama,” kata putranya kala menyambut santri-santri yang berkunjung ke kediamannya di perumahan dosen PMDG.
Sejenak, sang tamu pun heran karena Ustadz Syarif Abadi berada dalam rumah. Lantas kapan dan di mana dia bercengkerama dan berdialog dengan ulama? Seketika, dia pun keluar dari rumah dan menghampiri santrinya seraya berkata, “Saya sedang berdialog dengan ulama.” Sang tamunya sontak bertanya kembali, “Maksudnya bagaimana ustadz?” Ustadz Syarif pun lantas menjawab, “Saya sedang membaca buku yang ditulis oleh para ulama-ulama kita terdahulu.”
Tidak hanya itu, saat santrinya wisuda sarjana strata 1 Universitas Darussalam Gontor, Ustadz Syarif, sapaan akrab keluarga besar PMDG, menghampiri seraya menasihati. “Le, sekarang kamu sudah lebih pintar daripada saya. Kamu sekarang sudah menjadi sarjana, sedangkan saya belum jadi sarjana,” begitu kata Ustadz Syarif.
Santrinya lantas bergumam dalam hati, “Bagaimana mungkin saya bisa melampaui keilmuannya.” Benar saja, bagi keluarga PMDG, sosok Ustadz Syarif dianggap sebagai Bidayatul Mujtahid berjalan. Dia kerap mengajar kitab fiqh karangan Ibnu Rusyd tersebut kepada para santri tanpa membawa buku. Pun dengan kitab-kitab Tauhid, Siroh Nabawiyah, Usul Fiqh, Fiqh, Tarikh dilahapnya dengan jargon ‘berdialog dengan ulama’.
Dia juga kerap menasihati santrinya bahwa untuk ‘mendapatkan titel’ sarjana bukan saja diraih dari perguruan tinggi melainkan juga harus diraih dengan ‘titel keimanan’ yang juga setingkat sarjana.
“Kalau ibadahmu tidak setingkat sarjana, maka ilmumu tidaklah bermanfaat. Manizdāda ‘ilman walam yazdad hudan lam yazdad minallāhi illā bu’dan (barang siapa bertambah ilmunya tapi belum bertambah hidayahnya, maka tidak akan bertambah apapun dari Allah SWT kecuali jauhnya (meraih hidayah),” pungkas pria yang di setiap masa tandur sawah, menjemur hasil tanamnya tepat di depan rumah seraya menggunakan topi caping khas petani. [Mohamad Deny Irawan]























