London, Gontornews – Sebuah lembaga swadaya masyarakat (NGO) di Inggris, Henry Jackson Society, merilis sebuah laporan yang menyebutkan Arab Saudi berperan besar dalam memunculkan ekstremisme di Inggris. Namun, laporan kelompok think tank ini ditolak oleh Pemerintah Saudi.
“Dari semua entitas di Teluk dan Iran, orang-orang di Arab Saudi tidak diragukan lagi berada di urutan teratas daftar pemicu ekstremisme,” kata Tom Wilson dari Henry Jackson Society, dalam sebuah laporan pada hari Rabu (5/7), sebagaimana dikutip Aljazeera.
Menurut think-tank kebijakan luar negeri yang berbasis di London, itu Arab Saudi mengoperasikan beberapa badan amal yang mendanai pendidikan dengan ideologi mereka di seluruh dunia, termasuk di Inggris, menghabiskan setidaknya 67 miliar pound (US$ 87 miliar) dalam 50 tahun terakhir.
Pendanaan dari Saudi itu terutama mengambil bentuk wakaf ke masjid, kata laporan tersebut, yang pada gilirannya “menjadi tuan rumah bagi pengkhutbah ekstremis dan distribusi literatur ekstremis”.
Laporan tersebut juga menyebutkan, sejumlah pengkhutbah ekstremis telah belajar di Arab Saudi sebagai bagian dari program beasiswa.
Dalam sebuah pernyataan kepada BBC, Kedutaan Besar Saudi di London menolak isi laporan itu, “Laporan itu salah besar.”
“Kami tidak akan memaafkan tindakan atau ideologi ekstremisme dan kekerasan, kami tidak akan beristirahat sampai penyimpangan dan organisasi mereka hancur,” tambahnya.
Henry Jackson Society menyerukan pembuatan undang-undang baru yang mewajibkan masjid dan institusi lain mengumumkan dana asing. Mereka juga menuntut diluncurkannya penyelidikan publik terhadap dana asing untuk kelompok garis keras.
Rilis studi think-tank tersebut dilakukan di tengah tekanan kepada Perdana Menteri Theresa May agar pemerintah menerbitkan laporan yang memeriksa peran Arab Saudi dan negara-negara lain dalam mendorong “ekstremisme” di Inggris.
Inggris merupakan salah satu pemasok senjata utama ke Arab Saudi. Dalam tiga tahun terakhir, Inggris telah menyetujui ekspor senjata ke Arab Saudi senilai US$ 4,7 miliar.[Rusdiono Mukri]





















