Depok, Gontornews — “Ibadah itu harus seperti burung, mengepakkan sayap ketika di bawah, dan ketika di atas dia tinggal melayang-layang menikmati (ibadah) krn merasa ringan dan nikmat,” ulas Ustadz Dedi Hariyadi Lc dalam sebuah seminar bertema Menikmati Lelahnya Ibadah yang diselenggarakan oleh Khalifah Tour.
Kepada Gontornews.com, Ustadz Dedi juga menambahkan bahwa orang yang ibadahnya masih merasa berat, itu karena jam terbangnya masih rendah. “Jika ditinggikan jam terbangnya, maka akan merasa mudah dan nikmat, dan caranya adalah istiqamah dan paksakan,” tegas dai muda lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir tersebut.
Kaum Muslimin pun penting memerhatikan bahwa ibadah itu lelahnya sesaat, tapi kebahagiaannya akan berkepanjangan dan abadi. Sedangkan kemaksiatan itu nikmatnya sesaat, tapi penderitaannya tak berkesudahan.
Maka, lanjut Ustadz Dedi, mending lelah dalam ketaatan daripada nikmat dalam kemaksiatan, dan Allah itu pasti mengganjar setiap kelelahan dalam ketaatan dengan surga-Nya. Karena lagi-lagi, ibadah itu sejatinya bukan beban, tapi pertolongan. Sebab dengan ibadah sebetulnya kita telah dijamin kebahagiaan oleh Allah SWT.
Siapakah yang memperbaiki shalatnya, maka Allah SWT akan memperbaiki falahnya (kemenangannya). Maka dari itu ketika adzan shalat berkumandang, muadzin akan mengajak umat untuk shalat (hayya ‘ala ash-shalat), baru setelah itu untuk kemenangannya (hayya ‘ala al-falah).
Dalam sebuah Hadits Riwayat Tabrani disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah), maka di saat itu diampuni dosa baginya.” “Artinya, semakin banyak kita melakukan ketaatan di siang hari, maka semakin kita lelah, akan semakin bersih dosa kita,” pungkas sang ustadz. [Edithya Miranti]






















