Washington, Gontornews — Badan kelautan dan atmosfer Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Kamis (08/06/2023) mengatakan fenomena El Nino dapat menimbulkan rekor cuaca dan suhu ekstrem. El Nino, tambah NOAA, dapat menyebabkan berbagai dampak seperti peningkatan risiko hujan lebat dan kekeringan di lokasi tertentu di seluruh dunia.
Kedatangan El Nino ditandai dengan suhu permukaan laut yang hangat di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur dekat Khatulistiwa. Pola cuaca ini terakhir terjadi pada tahun 2018 dan 2019 dan berlangsung rata-rata setiap dua hingga tujuh tahun dengan masa edar sekitar tujuh bulan.
โTergantung pada kekuatannya, El Nino dapat menyebabkan berbagai dampak, seperti meningkatkan risiko hujan lebat dan kekeringan di lokasi tertentu di seluruh dunia,โ kata ilmuwan NOAA, Michelle LโHeureux.
โPerubahan iklim dapat memperburuk atau mengurangi dampak tertenu dari El Nino. Misalnya, El Nino dapat menyebabkan rekor suh ubaru, terutama di daerah yang sudah mengalami suhu di atas rata-rata selama El Nino,โ imbuhnya sebagaimana dilansir Channel News Asia dari AFP.
Beberapa negara sudah mengeluarkan peringatan serta merespons kedatangan El Nino. Australia misalnya, El Nino akan memberikan suhu yang lebih hangat dan kering ke negara benua yang renta dengan kebakaran hutan. Sementara Jepang juga mengatakan bahwa El Nino juga ikut bertanggung jawab atas suhu musim semi yang memecahkan rekor peningkatan suhu.
Para ilmuwan mengatakan sebagian besar tahun terhangan dalam catatan sejarah terjadi saat fenomena El Nino terjadi. mereka khawatir bahwa musim panas ini, El Nino akan mendorong rekor suhu baru baik di darat maupun di laut. [Mohamad Deny Irawan]




















