Peshawar, Gontornews — Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, Jumat (03/02/2023), mengatakan bahwa pemerintah harus menyetujui syarat dari International Monetery Fund (IMF) yang dianggap di luar imajinasi. Dalam kunjungan delegasi ke Pakistan, Selasa (31/01/2023), IMF meminta pemerintah Pakistan melawan kenaikan pajak dan memotong subsidi.
“Saya tidak akan merinci tetapi hanya akan mengatakan bahwa tantangan ekonomi kita tidak terbayangkan. Kondisi yang harus kita setujui dengan IMF berada di luar imajinasi. Tetapi, kita harus setuju dengan kondisinya,” ungkap PM Syarif kepada AFP sebagaimana dilansir Channel News Asia.
Situasi ekonomi di Pakistan beada dalam kesulitan yang sangat parah. Mereka mengalami krisis neraca pembayaran karena terpaksa harus membayar utang luar negeri tingkat tinggi di tengah situasi kekacauan politik dan keamanan yang terus memburuk.
Cadangan devisi Pakistan bahkan turun hingga menjadi hanya 3,1 miliar dolar Amerika Serikat. Sejumlah pengamat menyebut cadangan devisi tersebut hanya cukup untuk membiayai biaya impor kurang dari tiga pekan ke depan. Sementara itu, mata uang Rupee berada dalam rekor terendah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat.
Pemerintah Pakistan bahkan tidak lagi mengeluarkan surat hutang untuk belanja barang-barang kecuali untuk makanan pokok dan obat-obatan. Akibatnya, ribuan peti kemas di pelabuhan Karachi mengalami penumpukan yang tidak mampu dibeli oleh negara.
“Orang miskin tidak akan mampu bertahan hidup,” kata Samina Bhatti, seorang warga yang sedang berbelanja di pasar Islamabad Pakistan.
“Bahan bakar sangat mahal, apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan mulai berjalan kaki? Seorang pencari nafkah harian tidak akan mampu membayar sewa rumahnya,” sambung Bhatti. [Mohamad Deny Irawan]
























