Awal tahun 2020, sejumlah daerah di Indonesia, khususnya wilayah Jabodetabek diterjang banjir. Seperti susul-menyusul banjir juga melanda wilayah perkotaan lain di penjuru Nusantara. Belum habis duka banjir melanda, sejumlah kota di Indonesia, mulai Maret 2020 pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Dilaporkan muncul dari Wuhan, Cina, virus ini mulai menyebar ke penjuru dunia. Sedikitnya 204 negara sudah tertular. Indonesia termasuk negara terdampak virus tersebut.
Masifnya penyebaran virus Corona ini telah membuat sejumlah pemimpin negara mengambil langkah tak biasa untuk masyarakatnya. Di antaranya ada yang memberlakukan social distancing, physical distancing, karantina wilayah, hingga lockdown. Tujuan utamanya memutus mata rantai penyebaran virus.
Pandemi COVID-19 telah ‘memaksa’ masjid dan tempat ibadah lainnya ditutup untuk jemaah. Praktik ibadah shalat yang biasanya setiap lima waktu berjamaah di masjid, mulai jarang diselenggarakan karena peraturan pemerintah yang mengharuskan kegiatan di rumah. Begitu juga shalat Jumat ditiadakan.
Banyak orang yang kemudian berputus asa setelah tertimpa musibah. Namun tidak jarang juga yang menjadikan musibah sebagai bahan instropeksi diri. Bahkan, mereka menghadapi musibah dengan keyakinan dan tekad kuat untuk mengubah diri menjadi individu yang tegar dan kokoh.
Bagaimana umat Islam menyikapi wabah besar di sebuah wilayah? Berikut statemen para ulama menyikapi mewabahnya virus corona di Indonesia.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan tausiyah terkait musibah virus corona di Indonesia. MUI mengajak semua elemen bangsa, khususnya yang beragama Islam, untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT agar terhindari dari musibah ini.
“Dengan memperbanyak tobat, memohon ampun kepada Allah, meninggalkan perilaku zalim, memperbanyak sedekah, dan meninggalkan permusuhan, karena penyebaran virus corona ini bisa jadi merupakan peringatan dari Allah SWT agar umat Islam semakin mendekatkan diri kepada-Nya,” kata Wakil Sekjen MUI, Solahuddin Al Aiyub, saat membacakan tausiyah MUI di Gedung MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (3/3).
MUI juga mengajak umat Islam melakukan Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu. Qunut Nazilah merupakan doa untuk menangkal turunnya malapetaka seperti penyebaran virus ini. Qunut Nazilah ini dibaca setelah ruku’ pada rakaat terakhir shalat fardhu.
Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas, mengajak umat Islam Indonesia agar memperbanyak amal baik di tengah merebaknya virus corona. Anwar menjelaskan, ada dua cara yang sangat patut dilakukan untuk membuat hidup kita berarti dan bermakna bagi diri kita dan orang lain, yaitu pertama melalui pendekatan keimanan dan yang kedua melalui pendekatan keilmuan.
Melalui pendekatan keimanan, tambah Anwar, umat bisa mengajak orang lain untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Anwar juga mengimbau umat Islam memohon pertolongan dan berdoa kepada Allah.
“Sehingga dengan demikian tegaklah sebuah kehidupan yang baik di tengah-tengah masyarakat dan bangsa,” kata Ketua PP Muhammadiyah ini.
Usaha berikutnya, umat juga bisa berbuat sesuatu melalui pendekatan ilmu, sehingga hidupnya bisa lebih bermakna di tengah situasi virus corona. “Karena kita sekarang berhadapan dengan virus corona, maka kita harus bertanya kepada ahlinya karena merekalah yang tahu apa itu virus corona, bagaimana karakteristiknya, dan bagaimana cara menghindarkan diri darinya serta bagaimana cara mengobatinya,” kata Anwar.
Dalam situasi ini, cara terbaik untuk berbuat baik kepada orang lain dengan mematuhi protokol medis. Cara-cara yang disarankan dalam protokol medis tersebut didasarkan kepada ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.
“Jadi dengan mematuhi protokol medis tersebut, selain telah berbuat baik kepada diri sendiri kita juga telah berbuat baik dan memberi manfaat besar kepada orang lain,” ujar Anwar.
Sementara itu KH Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym itu menyampaikan lima pesan di antaranya sudah waktunya berjuang melawan musuh yang tidak kelihatan, serta agar wabah ini segera berakhir.
Melalui video berdurasi 26 menit 58 detik yang diunggah di akun facebook KH Abdullah Gymnastiar, pada Rabu (18/3), Aa Gym menyampaikan, musibah ini bergeraknya bukan hari per hari. Tetapi jam demi jam dan sangat serius sekali untuk disikapi bersama. “Kita berharap kita semua ini melakukan hal-hal mudah-mudahan jadi bagian dari ikhtiar kita. Bahwa virus ini tidak bisa dianggap remeh, juga tidak boleh sembrono, ceroboh dan tidak bisa tidak peduli dan tidak bisa berjuang sendiri,” tuturnya.
Pengasuh Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, ini menyampaikan lima pesannya. Pertama, masyarakat diharapkan bersama-sama membulatkan tekad yang sangat kuat agar kita semua ambil bagian dalam upaya sekuat tenaga mencegah terjadinya penyebaran virus ini.
“Semua pihak harus punya tekad yang sangat kuat untuk ambil bagian dalam menghentikan penyebaran virus ini dengan mengarantina diri, mengarantina keluarga dan sudah waktunya kita lakukan demikian. Kita meminimalisir sekecil apapun peluang terjadinya penyebaran virus ini,” terangnya.
Kedua, inilah saatnya kita melakukan kebersamaan. Ini saatnya seluruh anak negeri bergandengan tangan, karena kita tidak bisa menyelesaikan ini dengan mengandalkan pemerintah saja, imbauan dari ulama, imbauan dari tokoh-tokoh masyarakat, kita harus benar-benar bekerjasama.
“Jangan acuh dan jangan pula kita sok tahu sehingga memberitahu dengan informasi yang salah dan cara yang salah. Tidak bisa lagi sekarang kita hanya sibuk saling menyalahkan saling menertawakan karena bukan jadi solusi, itu malah menjadi masalah baru,” katanya.
Ketiga, yang kita perlukan saat ini kesungguhan dan kedisipilan. Kita harus benar-benar, sungguh-sungguh, tidak bisa setengah-setengah, mengerahkan semua daya kita dan displin. “Karena tanpa kesungguhan ini akan menjadi bencana yang lebih besar yang nanti kerusakannya bukan hanya pada kita tapi pada generasi sesudah kita, (mereka) juga akan menanggung semua derita ini,” terangnya.
Keempat, kita harus sangat siap dengan perjuangan dan pengorbanan. “Ini bukannya saat mencari untung duniawi, tetapi saatnya kita berkorban, berjuang bersama dan berkorban waktu, tenaga, pikiran, harta atau infrastruktur kita, apapun sumber daya yang kita miliki, harus sekarang mulai siapkan,” ujarnya.
Sementara itu, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin mengimbau jamaah pengajiannya melalui kiriman pesan di handphone, pada Kajian Ahad (22/3). Kiai Didin memberikan pelajaran yang diambil dari tafsir surat Ash Shaffat (37) ayat 97 sampai 101. Menurutnya, ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kelima ayat tersebut.
Pertama, setiap dakwah amar makruf nahi munkar akan selalu ada tantangan. Contohnya, seperti yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim. “Tetapi Allah SWT pasti menolong dan menyelamatkan hamba yang menolong agama-Nya,” kata Kiai Didin.
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu menjelaskan, Nabi Ibrahim selalu berdoa kepada Allah dengan penuh kesungguhan dan keyakinan agar dianugerahkan anak keturunan yang shalih. Doanya dikabulkan Allah dengan lahirnya Nabi Ismail dari rahim Siti Hajar dan Nabi Ishaq dari Siti Sarah.
“Kita pun harus menjadikan doa dan permohonan kepada Allah SWT sebagai life style (gaya hidup). Dalam segala persoalan dan masalah. Termasuk dalam menghadapi mewabahnya COVID-19 (virus corona) sekarang ini,” ujar Kiai Didin.
“Mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan segala doa dan permohonan kita. Mudah-mudahan Allah SWT akan menjaga kita semua dari berbagai musibah dan fitnah kehidupan. Mudah-mudahan Allah SWT akan menyembuhkan kembali saudara-saudara kita yang sakit sekarang ini. Dan bagi yang wafat mudah-mudahan Allah SWT menjadikannya mati syahid. Amien ya Rabb,” tutur Kiai Didin.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj mengimbau kepada seluruh umat Islam untuk berserah diri kepada Allah dalam menghadapi musibah pandemi virus corona. “Kepada seluruh umat Islam pada umumnya agar kita selalu berserah diri kepada Allah, meningkatkan thaqatul (potensi) kepada Allah. Menebarkan iman kita kepada Allah dengan dasar Qul lay yusibana illa ma kataballahu lana huwa maulana wa ‘alallah. (Artinya) Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah,” ujar Kiai Said dalam keterangan resminya, Sabtu (21/3).
Menurutnya, adanya wabah corona sudah menjadi kehendak Allah dan tidak semestinya manusia, khususnya umat Islam, terlalu khawatir atas wabah tersebut yang saat ini tengah menjangkit di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Kiai Said menjelaskan, kita harus berikhtiar atau berusaha karena itu semua perintah dari Allah. “Allah perintah kepada kita agar kita berusaha, berupaya melakukan sesuatu agar terhindar dari marabahaya. Tidak boleh kita menyerah begitu saja, jangan kamu celakakan dirimu sendiri,” ucapnya.
Didin Hafidhuddin menambahkan, hujan bisa merupakan rahmat sekaligus peringatan dari Allah SWT agar warga lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ia juga mengatakan, ini menjadi momen bagi bangsa Indonesia untuk membuktikan keuletan, kesabaran dan ketabahan yang tinggi dalam menghadapi segala situasi dan kondisi termasuk banjir.
Dari kejadian ini juga, akan terlihat apakah bangsa Indonesia bangsa yang terbiasa untuk menolong sesama yang sedang mengalami musibah dengan tenaga, pikiran, harta, maupun doa. “Musibah ini harus dijadikan momentum untuk merekatkan kembali persaudaraan antar anak bangsa, dengan saling menolong dan membantu,” pungkasnya. []





















