London, Gontornews — Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta kepada semua pihak yang bertika di Yaman, kelompok militan Houthi dan Pemerintah Yaman, agar segera pergi dari pelabuhan Hodeidah. Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, menyatakan bahwa pihaknya mengalami beberapa kendala yang rumit selama berada di lapangan.
“Kemi berhadapan dengan situasi rumit di lapangan,” ujar Martin Griffiths sebagaimana dilansir Reuters.
“Saya pikir, batasan waktu yang disepakati terlalu ambisius,” tambah Griffiths melalui akun Twitter nya.
Lebih lanjut, dalam sebuah pertemuan sejumlah badan kemanusiaan internasional di London meminta kepada semua pihak agar memperhatikan kondisi kelaparan yang dialami oleh sejumlah warga di Yaman akibat perang yang tak kunjung usai.
Seorang perwakilan lembaga kemanusiaan dari Action Againts Hunger, Isabelle Moussard Carlsen menjelaskan bahwa yang dibutuhkan oleh semua pihak yang bertikai di Yaman adalah komunikasi politik.
“Saya pikir, kita sangat membutuhkan solusi politik demi meredam konflik ini,” ujar Isabelle.
Pasca dialog perdamaian antara Yaman dan kelompok militan Houthi di Swedia beberapa waktu yang lalu, keduanya bersepakat untuk menjadikan pelabuhan Hodeidah sebagai wilayah netral demi mempermudah akses masuknya barang-barang kebutuhan pokok bagi masyarakat Yaman. Namun, pelaksanaan dari hasil kesepakatan tersebut masih belum terlaksana.
Sebagaimana diketahui, kelompok militan Houthi berada sekaligus mengendalikan pelabuhan Hodeidah sedangkan pasukan koalisi Yaman berkumpul di pinggiran kota Hodeidah. Kedua belah pihak tidak menyetujui siapa pihak yang akan ‘memiliki’ pelabuhan Hodeidah dan siapa yang akan mengendalikan pelabuhan saat pasukan sejumlah pasukan mundur.
Meski demikian, Griffiths tetap optimis upaya perdamaian akan dapat terjadi di Yaman.
“Banyak hal di masa lampau, selalu ada kemauan politik yang ditujukan oleh semua pihak untuk mengakhiri konflik ini,”
“Apa yang perlu kita lihat sekarang adalah implementasi dari ketentuan perjanjian secara utuh dan cepat,” pungkas Griffiths. [Mohamad Deny Irawan]






















