pesanan-baju-kaos
32 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 19 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home News Nasional

Pemikiran Syahrur dan Problem Otoritas Dalam Studi Islam

Ahmad Kholili Hasib, Pengajar di IAI Darullughah Wadda'wah Bangil

M Khaerul Muttaqien by M Khaerul Muttaqien
4 September 2019
in Nasional
0
Pemikiran Syahrur dan Problem Otoritas Dalam Studi Islam

Disertasi berjudul “Milk Al-Yamin: Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dinilai mengandung kecacatan cukup serius. Temuan disertasi ini antara lain, hubungan seks di luar pernikahan bisa absah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mempermasalahkan disertasi yang diuji pada sidang terbuka promosi doktor pada 28 Agustus 2019.

Dalam surat pernyataan bertanggal 2 September 2019, MUI menyatakan menolak disertasi tersebut dikarenakan mengandung pemikiran menyimpang berbahaya bagi bangsa. “Disertasi ini harus ditolak karena dapat menimbulkan kerusakan (mafsadat) moral/akhlak umat dan bangsa,” demikian bunyi pernyataan MUI yang ditandatangani Wakil Ketua Umum MUI Yunahar Ilyas dan Sekjen Anwar Abbas. Selain itu, MUI menyatakan temuan disertasi itu mengarah kepada praktik kehidupan seks bebas yang bertentangan dengan agama dan UU Nomor 1 Tahun 1974.

Dalam surat edaran tersebut, MUI menyatakan menyesal dengan kebijakan promotor dan penguji yang sampai meloloskan disertasi tersebut ke dalam sidang terbuka promosi doktor. Maka, MUI menghimbau agar masyarakat khususnya umat Islam untuk tidak mengikuti pendapat tersebut karena dapat tersesat dan terjerumus ke dalam perbuatan yang dilarang oleh syariat agama.

Cacat Teologis-Epistemologis

BACA JUGA

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

GIHES 2026: Realisasi Pendidikan Islam Holistik Jadi Agenda Bersama

PMDG: Pesantren Model Pendidikan Islam Holistik Khas Indonesia

Pendidikan Pesantren Solusi Holistik Untuk Indonesia dan Dunia

GIHES 2026: Mencerdaskan Bangsa Melalui Pengembangan Pendidikan Holistik

Pokok persoalan disertasi ini sebetulnya mengarah pada pemikiran M. Syahrur. Penulis disertasi tersebut mengangkat teori al-Milk al-Yamin M Syahrur sebagai objek kajian. Bagi publik secara umum nama M. Syahrur mungkin tidak populer. Tetapi bagi insan akademik di perguruan tinggi Islam Indonesia, nama insinyur teknik sipil asal Suriah ini tidaklah asing. Biasanya ia berada dalam deretan nama-nama pemikir kontemporer asal dunia Arab yang kontroversial. Seperti Nasr Hamid Abu Zaid asal Mesir, Mohamed Arkoun dari Aljazair, Abid al-Jabiri, dari Maroko, Abdullahi Ahmed an-Naim dari Sudan, Khaled M. Abu El-Fadhl dari Kuwait, dan lain-lain.

Buku-buku mereka ini sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan pemikirannya akrab bagi mahasiswa fakultas Syariah dan Ushuluddin. Sebab, sejak di bangku S-1 perkuliahan mereka telah merujuk kepada sederet nama pemikir kontemporer tersebut.

Padahal, Syahrur kononnya tidak memiliki latar belakang studi ilmu syariah, ushuluddin ataupun fiqih. Belajar Islamnya, konon sampai tingkat Tsanawiyah yaitu di Madrasah Abdurrahman al-Kawakabi Damaskus lulus tahun 1957. Tetapi, anehnya, menjadi rujukan dalam studi syariah di beberapa perguruan tinggi Islam. Jika diangkat untuk disertasi, semakin fatal kecacatan ilmiahnya. Dalam dunia pemikiran syariah kontemporer, Syahrur ini adalah sosok yang aneh dan kacau. Ide-idenya terlalu fatal merontokkan fiqih dan ijma ulama’. Wael B. Hallaq berpendapat bahwa Syahrur eksponen utama kelompok religious liberalism dalam pemikiran ushul fikih.

Selepas sekolah menengah Syahrur melanjutkan studi ke luar negeri mengambil jurusan teknik sipil di Faculty of Engineering, Moscow Engineering Institute, Moskow Rusia, pada tahun 1964. Kemudian melanjutkan studinya dan meraih gelar magister pada tahun 1969 dan doktoralnya tahun 1972 di National University of Ireland, University College Dublin di Irlandia, dalam bidang yang digeluti sebelumnya, teknik sipil, dengan spesialisasi mekanika tanah dan teknik bangunan.

Di bidang teknik bangunan dan fisika Syahrur adalah ahli. Di kampusnya Universitas Damaskus ia mengajar mata kuliah Mekanika Pertanahan dan Geologi. Bukan mengajar ushul fiqh atau tafsir. Pimpinan kampus Universitas Damaskus pun tak pernah ada catatan memberi tugas Syahrur untuk mengampu mata kuliah ushul fiqh dan tafsir. Artinya, kampusnya mengakui Syahrur pakar bidang mekanika tanah, dan teknik bangunan. Bukan ahli ilmu al-Qur’an dan ushul fiqh.

Daden Robi Rahman, dalam tesisnya di Institut Studi Islam Darussalam (kini Unida) tahun 2012 tentang studi kritis Teologi Syahrur menemukan bahwa pembelajaran dan pengkajian terhadap ilmu-ilmu keislaman secara otodidak. Daden juga menemukan bahwa penyimpangan produk pemikiran Syahrur bermuara pada problem teologis dan epistemologis.

Secara teologis, Syahrur berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bukan kalam Allah SWT. Ia berargumentasi bahwa dengan keyakinan tersebut akan melahirkan pemahaman teks dengan metode lain (Muhammad Syahrur, “Pendekatan Baru Dalam Membaca Teks Keagamaan [terjemahan], halaman 271). Keyakinan teologis ini melahirkan sikap dalam penggunaan metode yang digunakan. Termasuk dalam mengistinbat hukum dari ayat-ayat hukum di dalam Al-Qur’an adalah dengan menggunakan. Tercatat ia menggunakan hermeneutika linguistik-historis-ilmiah ala Paul Ricoeur, cendekiawan Protestan asal Prancis.

Selain itu dalam bukunya berjudul Nahw Ushūl Jadidah li al-Fiqh al-Islimi; Fiqh al-Mar’ah halaman 67, Syahrur menilai sunnah nabi Muhammad Saw. bukan sebagai wahyu kedua setelah Al-Qur’an. Bahkan ia menyatakan bahwa keyakinan bahwa sunnah qauliyyah (sabda nabi Muhammad Saw) sebagai wahyu kedua adalah bentuk penyekutuan terhadap Allah Swt, dengan menyamakan kedudukan nabi Muhammad Saw. dengan Allah Swt. Dengan pemikiran ini, Daden berpendapat bahwa Syahrur telah merombak bahkan mendekonstruksi epistemologi hukum Islam dengan menegasikan sunnah sebagai wahyu.

Hampir semua komponen epistemologi hukum Islam dirontokkan oleh Syahrur. Syahrur meyakini bahwa konsensus (ijma’) para sahabat, bahkan keadilan mereka, hanyalah pikiran orang Islam yang mengistimewakan mereka saja. Ia merasa dalam menggali hukum cukup dengan modal teks al-Qur’an. Dengan lantangnya, ia mengatakan : “Kitabullah sudah cukup, tidak perlu hal lain untuk memahaminya, kuncinya ada di dalam, bukan di luar. Maka kita tidak perlu Abu Hurairah, tidak perlu Ibn ‘Abbas” (Daden Robi Rahman, Infiltrasi Hermeneutika, hal. 47). Metoe qiyas juga tidak perlu. Dianggapnya membawa masalah ke masa lampau serta tidak berarti sekali.

Pengkudusan
Kesimpulan Daden, pemikiran Syahrur ini seperti gerakan Protestan di Barat yang menolak otoritas Gereja dalam menafsirkan Bible dengan jargonnya sola scriptura (teks kitab suci sudah cukup tidak perlu otoritas lain dalam memahaminya).

Konsistensi Syahrur dengan model pemikiran Barat kontemporer ini sekaligus mencela pemikiran ulama Islam sebetulnya tidak lain adalah model berpikir taqdis al-afkar al-gharbi (pengkudusan pemikiran Barat).

Sikap yang tepat terhadap pemikiran Barat adalah kritik, asimilasi, integrasi dan berakhir dengan Islamisasi. Hamid Fahmy Zarkasyi berpendapat, sikap sarjana Muslim yang demikian (melakukan kritik, asimilasi, integrasi dan islamisasi) adalah wajar dalam pertemuan antar peradaban. Tidak hanya menerima, namun melakukan kerja seleksi, pembedaan, modifikasi, dan pemurnian.

Dengan demikian, sesungguhnya problemnya itu berada pada level teologis dan epistemologis. Kegaduhan pemikiran di dunia sarjana Muslim Indonesia sebetulnya sudah berulang kali terjadi di kampus Islam. Juga selalu ramai di jagad media. Isunya, naik dan turun. Padahal problematikan tetap sama. Yaitu epistemologi ilmu.

Kasus pemikiran Syahrur, selain teologis-epistemologis, juga persoalan otoritas. Syahrur bukan pakar syariah atau fiqh tetapi diangkat sebagai pembaharu syariah. Dirujuk untuk menggali hukum baru. Karena bukan latar belakang dirasah islamiyah, maka ia mengambil jalan lain sebagai “pisau analisis”. Repotnya lagi, meniru gaya Kristen Protestan. Sikap ini namanya bunuh diri ilmu pengetahuan Islam. Ibarat tidak belajar kuliah ilmu kedokteran, tetapi nekad mengobati orang sakit dengan teori ilmu teknik perbengkelan. Di sinilah tidak ditemukan bobot ilmiah sama sekali.

Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menjelaskan salah satu adab seorang pelajar adalah jangan sekali-kali mengambil ilmu dari buku tanpa guru. Sebab, lembaran kertas tidak bisa membimbing. Sementara guru akan membimbing jika bacaan pelajar yang keliru.

Sepintar apapun dan seluas apapun pengetahuan seseorang bila tidak memiliki sanad guru, maka dalam Islam keilmuannya tidak sah. Serta tidak pantas diangkat sebagai seorang guru alim.

Ibnu Mubarok meriwayatkan: Sanad Adalah bagian dari agama, seandainya tanpa Isnad seseorang bisa berkata sekehendak hati’. (Muslim, Shahih Muslim). Sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas dalam ilmu agama. Lebih-lebih Muslim yang masih awam yang tidak memiliki kemampuang menggali dan meneliti suatu persoalan dalam ilmu agama, wajib memiliki guru yang membimbingnya.

Kajian kelimuan secara sanad riwayah cukup penting, agar teks yang dikaji tidak ada penyelewengan teks baik berupa pemalsuan teks maupun kesalahan tulisan yang akan berimplikasi terhadap kesalahan makna dan arti teks yang tertulis. Begitu pula kajian kelimuwan berlandaskan sanad dirayah (kontekstual) juga penting, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam mengkaji suatu teks keilmuan.

Syekh Zarnunji dalam Ta’lim Muta’allim menjelaskan, seseorang jangan sembarangan memilih guru. Dalam memilih guru sebaiknya guru yang lebih pandai, wira’i, lebih tua, Ilmu dapat diperoleh dengan enam hal, yaitu: cerdas, tekun, sabar, punya biaya, memperoleh petunjuk guru, dan waktu yang lama.

Kekacauan terjadi ketika seseorang yang tidak ahli memaksa diri untuk berbicara ilmu. Dalam konteks ilmu agama, jumlah alim-ulama semakin sedikit. Dalam jumlah yang sedikit itu muncul orang-orang yang jahil berbicara agama.

Makanya, dalam tradisi Islam itu ada madzhab. Baik dalam fiqh, kalam, bahkan tasawuf. Madzhab itu dalam bahasa Inggris disebut school of thought. Mirip suatu sekolah karena ada disiplin, peraturan, dan metode. Sehingga ada bobot ilmiahnya yang bisa dipertanggung jawabkan.

Dengan bermazdhab kita sedang kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis dengan cara dan manhaj yang benar, yaitu mengikuti ulama yang dikenal keluasan ilmu otoritas bidang hukum Islam. Jika setiap orang kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah secara langsung, tanpa bertanya kepada pakarnya, apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah setiap orang, termasuk orang awam, akan menafsirkan al-Qur’an dan Sunnah menurut akal sendiri, jalan pikiranya sendiri, tentu ini akan sangat berbahaya. Ini juga terjadi dalam kasus pemikiran Syahrur. Kasus seperti ini kelak akan terjadi lagi, entah kapan, bila metodologi pengkajian Islamnya tidak diperbaiki.

Share56Tweet35Send
Previous Post

Menyemai Microfinance Muhammadiyah di Tapal Kuda

Next Post

Akhir Sebuah Karya Ilmiah

M Khaerul Muttaqien

M Khaerul Muttaqien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

17 September 2026
SDIT Insantama Leuwiliang Ajarkan Siswa Berniaga ala Rasulullah Lewat Market Day

SDIT Insantama Leuwiliang Ajarkan Siswa Berniaga ala Rasulullah Lewat Market Day

16 September 2026
K3S Leuwiliang Apresiasi Insantama Market Day: Siswa Belajar Berniaga Sesuai Syariah

K3S Leuwiliang Apresiasi Insantama Market Day: Siswa Belajar Berniaga Sesuai Syariah

16 September 2026
Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

11 September 2026
Gontor Apresiasi Alumni Touring Motor hingga Mengayuh Sepeda Demi Hadiri 100 Tahun PMDG

Gontor Apresiasi Alumni Touring Motor hingga Mengayuh Sepeda Demi Hadiri 100 Tahun PMDG

15 September 2026
100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

0
Gontor Siap Sambut Puluhan Ribu Alumni Menuju 100 Tahun Gontor

Gontor Siap Sambut Puluhan Ribu Alumni Menuju 100 Tahun Gontor

0
Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

0
Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

0
Presiden Prabowo Siap Hadir dan Resmikan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor

Presiden Prabowo Siap Hadir dan Resmikan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor

0
100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

17 September 2026
Gontor Terus Matangkan Kesiapan Jelang Puncak Acara 100 Tahun

Gontor Terus Matangkan Kesiapan Jelang Puncak Acara 100 Tahun

17 September 2026
Kunjungan Tujuh Presiden ke Gontor: Relasi antara Dunia Pesantren dan Negara

Kunjungan Tujuh Presiden ke Gontor: Relasi antara Dunia Pesantren dan Negara

17 September 2026
Reuni Akbar 100 Tahun Gontor: Momentum Evaluasi Langkah Alumni dengan Cita-Cita Pendiri

Reuni Akbar 100 Tahun Gontor: Momentum Evaluasi Langkah Alumni dengan Cita-Cita Pendiri

17 September 2026
Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

17 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result