Washington, Gontornews — Sebuah penelitian berhasil mengeksplorasi dasar-dasar genetika gigantisme pada paus. Para peneliti mengidentifikasi temuan empat gen yang tampaknya memainkan peran penting dalam gigantisme paus.
Para peneliti menjelaskan bahwa meski gen-gen ini membuat paus menjadi makhluk terbesar di muka bumi, namun paus rentan mengidap penyakit kanker dengan risiko yang lebih besar serta hasil reproduksi yang lebih rendah.
“Ukuran tubuh adalah hasil kompleks dari banyak gen, jalur dan proses fisik dan ekologis,” ungkap Mariana Nery, pakar genetika dari Universidade Estadual de Campinas (UNICAMP) Brazil.
“Hasil penelitian kami termasuk yang pertama dalam mempelajari gigantisme pada Cetacea dari perspektif molekuler,” sambung Nery sebagaimana dilansir Reuters. Cetacea merupakan kelompok mamalia laut seperti paus, lumba-lumba dan porpoise.
Penelitian yang terbit di jurnal Scientific Reports berfokus pada tujuh species paus yang memiliki panjang melebihi 10 meter. Tujuh spesies yang dimaksud adalah paus balin yang memakan mangsa kecil dengan sistem penyaring mulut dan ekor, paus sperma yang menggunakan gigi untuk berburu mangsa besar seperti cumi-cumi raksasa.
Lima spesies paus lain yakni paus biru yang memiliki panjang sekitar 30 meter, paus sirip yang memiliki panjang 24 meter, paus sperma kepala busur yang memiliki panjang 18 meter, paus bungkuk dengan panjang 15 meter dan paus abu-abu dengan panjang sekitar 14 meter.
Setelah melakukan penilaian dari sembilan gen yang diduga berpengaruh pada peningkatan ukuran tubuh pada mamalia, para peneliti berhasil menemukan empat gen utama yang mempengaruhi evolusi paus besar yaitu GHSR, IGFBP7, NCAPG dan PLAG1.
GHSR adalah gen yang terlibat dalam pelepasan hormon pertumbuhan melalui kelenjar hipofisis, berat badan, metabolisme energi, nafsu makan dan penumpukan lemak. Gen ini juga terkait dengan pengendalian proliferasi sel dan kematian sel secara terprogram. Tumor pada dasarnya dibentuk oleh pertumbuhan sel yang tidak terkendali.
IGFBP7 adalah gen yang terlibat dalam mendorong pertumbuhan dan pembelahan sel. Ada bukti bahwa gen ini bertindak sebagai penekan kanker pada tumor prostat, payudara, paru-paru, dan kolorektal.
NCAPG, gen yang terkait dengan pertumbuhan pada manusia, kuda, keledai, sapi, babi, dan ayam, yang terkait dengan peningkatan ukuran tubuh, penambahan berat badan, proliferasi sel, dan siklus hidup sel.
PLAG1, gen yang terkait dengan pertumbuhan tubuh pada sapi, babi, dan domba, yang terlibat dalam pertumbuhan embrio dan kelangsungan hidup sel.
“Gigantisme dalam garis keturunan Cetacea baru-baru ini, diperkirakan terjadi sekitar 5 juta tahun yang lalu. Sebelumnya, ada hewan dengan ukuran besar, seperti Basilosaurus, tetapi ini adalah pengecualian, dan sebagian besar Cetacea memiliki panjang tidak lebih dari 10 meter,” kata Felipe Andre Silva, pemimpin studi tersebut.
“Gigantisme dapat membawa beberapa keuntungan seperti peluang yang lebih rendah untuk dimangsa dan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan makanan,” tambah Silva.
Basilosaurus, predator puncak bergigi dari sekitar 40 juta tahun yang lalu, adalah paus purba terbesar yang diketahui. Silsilah paus balin berasal dari sekitar 36 juta tahun yang lalu, mulai dari ukuran yang sederhana.
“Evolusi cetacea adalah kisah yang fantastis, karena hewan besar dan karismatik ini menarik perhatian banyak orang,” kata Nery.
“Tetapi di luar rasa ingin tahu yang ditimbulkannya, hewan-hewan ini dapat mengajari kita banyak hal tentang proses evolusi itu sendiri. Dan paus telah terbukti menjadi model yang sangat menarik untuk memahami bagaimana keanekaragaman hayati dihasilkan dan membantu menjawab pertanyaan mendasar dalam biologi evolusioner,” tutup Nery. [Mohamad Deny Irawan]






















