Berlin, Gontornews — Sebuah penelitian yang melibatkan 50 peneliti dari berbagai negara mengungkap bahwa rekor emisi gas rumah kaca dan polusi udara telah mempercepat pemanasan global yang tidak tertandingi. Mereka mencatat, dari 2013-2022, pemanasan dunia telah meningkat lebih dari 0,2 derajat per 10 tahun.
“Pemanasan yang disebabkan oleh manusia telah meningkat pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu lebih dari 0,2 derajat Celcius per dekade,” ungkap penelitian peer-review di jurnal ilmiah online Earth System Science Data.
Mereka mencatat, emisi tahunan rata-rata dalam periode yang sema telah mengukir rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 54 miliar ton CO2 atau seteara 1.700 ton setiap detik.
Sesuai jadwal, para pemimpin dunia akan mengadakan pertemuan COP28 Summit di Dubai akhir tahun 2023 ini. Pertemuan ini akan membahas seputar perkembangkan kesepakatan perjanjian Paris 2015 yang lalu.
“Meskipun kita belum mencapai pemanasan 1,5 derajat, anggaran karbon kemungkinan akan habis hanya dalam beberapa tahun,” kata Piers Forster, penulis utama dalam penelitian ini.
Forster, sebagiamana dilansir Reuters, menyebut anggaran karbon telah menyusut setengah dari total anggaran sejak badan penasehat ilmu iklim PBB mengumpulkan data untuk laporan tolak ukur terbarunya pada tahun 2021.
“Pembaruan tahunan merupakan indikator utama perubahan global yang sangat penting dalam membantu masyarakat internasional dan negara-negara untuk menjaga urgensi mengatasi krisis perubahan iklim di atas agenda,” ucap rekan penulis sekaligus Menteri Lingkungan Cili, Maisa Rojas Corradi.
Valerie Masson-Delmotte, rekan penulis, juga mengatakan bahwa data ini harus menjadi peringatan jelang COP28 Summit di Dubai akhir tahun 2023 mendatang. Laporan ini masih sangat penting sekalipun ada bukti bahwa peningkatan gas rumah kaca telah melambat.
“Kecepatan dan skala aksi iklim tidak cukup untuk membatasi eskalasi risiko terkait iklim,” jelas Masson-Delmotte.
Dalam penelitian baru mengungkap bahwa gelombang panas akan terjadi lebih lama dan lebih intens yang menimbulkan ancaman bagi kehidupan dalam beberapa dekade mendatang di sebagian besar wilayah Asia Selatan dan Tenggara bersama dengan negara-negara yang berada di belakang garis Khatulistiwa di Afrika dan Amerika Latin. [Mohamad Deny Irawan]
























