Yogyakarta, Gontornews — Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sapto Purwo Nugroho, mengatakan bahwa penyebab tsunami di Pandeglang dan Lampung adalah erupsi anak gunung krakatau dan fenomena pasang air laut saat bulan purnama, Sabtu (22/12) malam.
Akibat bencana tersebut, BNPB merilis daftar korban tewas mencapai 222 orang, 843 mengalami luka-luka dan 30 orang lainnya mash dinyatakan hilang. Selain di Kabupaten Pandeglang Banten, bencana tsunami juga melanda 3 Kabupaten lainnya seperti Serang, Lampung Selatan dan Kabupaten Tanggamus Lampung.
“Jadi ada dua faktor yaitu dua karena longsoran bahwa laut akibat erupsi gunung krakatau juga gelombang tinggi akibat gerhana bulan,” ungkap Sapto dari kantor BNPB Yogyakarta, Ahad (23/12).
“Untuk sementara waktu, warga diharapkan menjauhi daerah pantai karena erupsi anak gunung Krakatau masih terus berlangsung. Soal berapa jarak dari pantai, hal tersebut tergangung daerahnya, jika daerahnya perbukitan tentu berbeda dengan wilayah sekitar pantai yang daerahnya landai,” tambah Sapto sebagaimana dilansir Viva.
Lebih lanjut, Sapto juga menjelaskan bahwa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) belum memiliki alat pendeteksi tsunami yang disebabkan oleh longsoran erupsi bawah laut. Walhasil, bencana tsunami di daerah sekitar Selat Sunda tersebut memakan banyak korban jiwa.
“Kenapa tidak ada peringatan dari BMKG? Karena BMKG belum memiliki alat yang bisa memantau longsoran bawah laut seperti yang terjadi di Selat Sunda,” jelasnya melalui rilis yang diterima Gontornews.
Selain korban tewas, tsunami setinggi 2 meter juga merusak 556 unit rumah, 9 hotel rusak parah, 60 warung kuliner dan 350 kapal dan perahu. Akan tetapi BNPB memastikan bahwa kemungkinan besar daftar korban dan bangunan rusak akan terus bertambah.
“Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah karena belum semua korban berhasil dievakuasi, belum semua Puskesmas melaporkan korban, dan belum semua lokasi memperoleh data keseluruhan,”
“Kondisi ini menyebabkan data akan terus berubah,” pungkas Sapto. [Mohamad Deny Irawan]


















