New York, Gontornews–Majelis Umum PBB memiliki sekretaris jenderal (sekjen) baru. Pada Kamis (13/10), organisasi Negara-negara dunia ini secara aklamasi menetapkan Perdana Menteri Portugal António Guterres sebagai Sekjen PBB untuk periode 2017-2021.
Guterres menggantikan pejabat lama asal Korea Selatan Ban Ki-moon. Terpilihnya Guterres tersebut lebih pada kepribadianya yang mudah bergaul serta kemampuannya dalam menangani masalah-masalah pengungsian. Di PBB, Guterres bukan orang baru. Ia pernah menjabat Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi pada Juni 2005 sampai Desember 2015.
Namun terpilihnya pria berusia 67 tahun sebagai sekjen PBB ini langsung dihadapkan pada penyelesaian perang dingin antara Amerika Serikat dan Rusia.
“Selamat datang di pekerjaan yang paling tidak mungkin di dunia ini,” ujar Trygve Lie dari Norwegia memberikan ucapan selamat kepada Guterres.
António Guterres, yang dikukuhkan sebagai bos baru PBB diharapkan bisa mengakhiri ketegangan antara Moskow dan Washington. Pasalnya, hubungan antara Washington dan Moskow telah memburuk dalam beberapa pekan terakhir, terutama ketika pemerintahan Obama menuduh Rusia berusaha untuk memanipulasi pemilu AS dengan hacking email dan adanya pergerakan rudal nuklir ke Kaliningrad di Eropa Timur.
Namun Guterres langsung menjawab, “Permasalahan apapun mungkin ada, sekarang yang lebih penting adalah bersatu,” ujarnya seperti dilansir financialtimes (15/10).
Guterres beralasan, majelis PBB sendiri berbeda pendapat soal konflik Suriah yang meletus sejak tahun 2011 tersebut. Guterres memahami bahwa inilah situasi pertama yang akan dihadapi ketika ia mulai bekerja pada awal bulan Januari.
Dunia menanti langkah dan kebijakan yang akan diambil Gutteres bagaimana merespon krisis Suriah. Terpilihnya Guterres sendiri merupakan bentk optimisme yang muncul dari anggota PBB untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Pasalnya, Guterres dinilai memiliki kemampuan komunikator politik yang baik dan lebih efektif daripada pejabat sebelumnya. Apalagi dengan meningkatnya jumlah pengungsi di Negara-negara Eropa yang membuat citra PBB semakin buruk, sementara PBB tak bisa berbuat banyak mengatasi masalah tersebut.
“Ada permintaan semacam penyelamatan sistem PBB yang lebih baik,” kata salah seorang anggota PBB Mr Gowan. “Setidaknya kita memiliki operator yang efektif,” tambahnya. [Ahmad Muhajir]






















