10
Tonton Selengkapnya
pesanan-majalah-edisi-khusus
27 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Sunday, 26 July, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Cahaya

Perguruan Tinggi di Ambang Bahaya

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
1 July 2017
in Cahaya
0

Oleh: Asep Saefuddin

Guru Besar Statistika FMIPA IPB/Rektor Universitas Trilogi Jakarta

 

Membaca berita kebangkrutan Sevel (Seven Elevent), saya terbayang akan nasib perguruan tinggi di Indonesia. Karena bisa saja berita duka itu akan menimpa juga perguruan tinggi masa depan, atau bahkan saat ini pun sudah terjadi. Tanda-tanda meredupnya universitas saat ini mulai terasa.

BACA JUGA

Taujih Tarhib Ramadhan

Pondasi Kemenangan

ADAB

Karakter Munafik, Waspadalah!

Metro TV, Mau Ke Mana?

Sevel akan tutup tanggal 30 Juni 2017 karena berbagai faktor internal dan eksternal. Secara internal bisa saja disebabkan oleh lemahnya perencanaan. Akan tetapi hal itu disebabkan oleh faktor eksternal terutama regulasi pemerintah yang tidak kondusif terhadap ekspansi Sevel. Faktor kedua inilah yang cukup mengerikan.

Secara umum kondisi perguruan tinggi (PT) juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Memang secara teori, faktor eksternal harus dijadikan konsideran dalam melakukan strategi dalam perencanaan. Salah satu metode yang sering dipergunakan adalah analisis SWOT dengan memasukkan faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan, sekaligus peluang dan ancaman sebagai faktor eksternal. Dalam konteks ini pada umumnya orang kampus adalah jagonya.

Persoalannya terletak pada regulasi yang tidak dapat dijadikan faktor eksternal dalam analisis SWOT. Regulasi bukan kendala, tetapi β€œpredicament”, yakni suatu kondisi sulit dihindari tetapi bisa jadi penghambat kemajuan. Predicament sering juga disebut masalah β€œbeyond problem”. Penanggulangannya biasa dilakukan melalui β€˜siasat’ yang memerlukan unsur KKN. Semacam penyelesaian secara adat yang tidak berlaku umum. Hal inilah yang menyebabkan bisnis menjadi mahal dan tidak produktif, unproductive high cost economy.

Kondisi eksternal yang tanggung seperti regulasi inilah yang menyebabkan sevel menjadi tidak kompetitif dan berdarah-darah (bleeding) lalu ujungnya bangkrut. Saya pikir keadaan ini lebih parah ketimbang kejadian Nokia, Kodak, atau perusahaan yang koleps akibat kesalahan internal. Ingat, bahwa PT akan mengalami nasib yang sama bila tidak ada perubahan regulasi pemerintah dalam dunia pendidikan (tinggi).

Internal Perguruan TinggiΒ 

Bila dilihat sekedar berjalan terutama dalam hal pengajaran, PT bisa saja tidak ada masalah. Setiap hari mahasiswa masuk kelas dan dosen menyampaikan materi perkuliahan secara rutin. Kehadiran mereka umumnya dipicu oleh unsur kehadiran yang bersifat wajib. Mahasiswa sibuk mengisi daftar hadir yang diparaf dosen. Mahasiswa diancam tidak boleh ujian bila kehadirannya kurang dari 80%. Demikian juga dosen akan kena sanksi tidak menerima uang transpor dan honor mengajar. Bagi dosen pada umumnya, ancaman ini adalah horor dalam kehidupan. Demikianlah rutinitas pendidikan tinggi kita, cenderung monoton dan jarang ditemukan inovasi.

Lebih dalam sedikit tentang proses pembelajaran, banyak dosen yang sekadar bertugas menyampaikan materi. Selain pola masih bersifat satu arah dengan pola β€œteacher-centered”, juga bahan kuliah relatif usang. Mahasiswa pada umumnya tidak punya pilihan, sehingga menerima apa adanya baik proses atau pun bahan kuliah.Β  Bedanya hanya dalam alat, kalau dulu masih fotocopy, saat ini floppy disk.

Materi berbasis jurnal atau kasus-kasus nyata jarang dimiliki dosen karena berbagai faktor seperti fasilitas, finansial, dan jejaring. Walaupun tugas dosen adalah tridharma, beban mengajar tetap dominan. Dharma riset dan pengabdian masyarakat masih jauh panggang dari api. Dosen sangat disibukkan dengan tugas mengajar, mengoreksi PR, membuat soal ujian dan memeriksa hasilnya. Inilah tugas-tugas dosen pada umumnya, di PTN BH (Badan Hukum) sekalipun. Kultur inovasi yang penting bagi calon entrepreneur dan peneliti kurang mendapat porsi.

Keadaan seperti ini terjadi karena dana riset kita masih sangat kecil yang harus diperebutkan oleh banyak orang. Ditambah lagi sistem pelaporan riset yang masih berbelit telah menyebabkan para dosen sangat pragmatis. Yang penting ada riset, kualitas bukan urusan. Pada saat yang sama, perusahaan swasta masih enggan memberikan hibah riset ke PT. Semangat aplikasi riset ini kurang mendapat dukungan regulasi. Perusahaan merasa riset tidak banyak manfaatnya bagi perkembangan bisnis. Dalam jangka pendek, juga tidak memberikan dampak positif terhadap perusahaan. Misalnya hibah riset perusahaan tidak ada kaitannya dengan pengurangan pajak perusahaan. Pendeknya, tidak ada insentif bagi perusahaan yang mengucurkan hibah riset ke universitas.

Kondisi tersebut di atas telah mengakibatkan dunia pendidikan tinggi hanya berkutat di pengajaran. Padahal, tanpa kekuatan riset, PT menjadi mandul tidak mampu mengasah kemampuan inovasi mahasiswa. Kegiatannya tidak banyak berbeda dengan kursus-kursus yang memang hanya mengasah kognitif, bukan kreativitas. Kampus-kampus di USA yang tidak kuat dalam riset pun mengalami nasib yang serupa. Mahasiswa cenderung mengikuti apa kata dosen. Lagu β€œmy way” pun diplesetkan jadi β€œtheir way”.

Kesenjangan dengan Dunia Luar

Sudah umum diketahui adanya diskonektivitas atau kesenjangan antara PT dan dunia industri. Fokus dan prioritas riset di PT umumnya tidak berkaitan dengan kebutuhan industri. Sangat sedikit hasil-hasil riset PT yang diadopsi oleh perusahaan. Industri yang ada hanya merupakan perpanjangan tangan industri induk di luar negeri. Hampir tidak ada hasil riset mendasar yang dilakukan di Indonesia yang berkaitan dengan industri.

Industri berbasis bahan baku lokal yang sesuai dengan kultur lokal bisa dihitung jari. Dalam dunia pengobatan, misalnya, β€œpersonal medicine” yang berkembang di berbagai negara hampir tidak terdengar di dunia riset kita. Padahal bidang itu sangat diperlukan di Indonesia yang multi suku-bangsa. Untung masih ada perusahaan jamu yang meneruskan tradisi nenek moyang mereka. Tetapi bisnis ini pun luput dari topik riset PT kita.

Keadaan itu adalah bukti kurang dekatnya PT dan industri. Begitu juga unsur pengajaran, PT kurang memperhatikan persoalan dunia industri. Apa yang diajarkan tidak terlalu relevan dengan dunia usaha dan industri. Kondisi ini merugikan dua-duanya, terutama mahasiswa yang seharusnya terdedah oleh kebutuhan industri. Tidak jarang perusahaan harus membuka program training bagi calon pegawai yang berasal dari berbagai program studi. Jangan heran bila banyak pegawai perbankan berasal dari jurusan agronomi, perikanan, peternakan, antropologi, astronomi, serta ilmu-ilmu dasar kealaman, selain dari ekonomi dan manajemen. Hal ini juga terjadi untuk industri lainnya.

Memang bagi para lulusan hal itu tidak dirasakan sebagai masalah, sejauh salari yang diterima cukup baik. Akan tetapi bagi industrialisasi negara, sebenarnya ketidaknyambungan ini adalah kemubaziran. Negara tentu harus mempunyai rencana besar pembangunan ekonomi yang mengait dengan riset, PT, pengembangan wilayah, industrialisasi, sumberdaya alam, dan sumberdaya manusia. Dewasa ini, negara kehilangan arah dan ide untuk menyambungkan kekuatan SDA dan SDM dalam proses industrialisasi. Terlalu terpaku pada business as usual yang itu-itu saja.

Faktor Regulasi

Tidak mustahil lesunya industri dan rapuhnya PT itu akibat faktor regulasi yang tidak kondusif terhadap perubahan zaman. Pemerintah yang terlalu kuat dengan regulasi cenderung ingin dilayani, bukan melayani. Selain itu, perizinan bisa jadi senjata agar institusi bisnis dan pendidikan tunduk dan taat kepada pemerintah. Biasanya dalam hal ini ujung-ujungnya duit. Kultur ini sudah cukup kronis di negara ini, sehingga index kompetitif global kita jauh di bawah negara-negara tetangga.

Regulasi yang superketat berdampak kurang baik bagi institusi pendidikan tinggi. Kita kena celaka tiga belas. Pertama, PT cenderung mencari aman, tidak mau melakukan eksperimen inovatif dalam menjalankan organisasinya. Kedua, PT cenderung mencari indikator semu yang bersifat pencitraan. Ketiga, terjadi standarisasi yang masif sehingga proses pembelajaran cenderung transaksional berbasis kontrak kuliah yang dibuat sangat kaku dan standar. Keempat, pola pembelajaran berpola dosen sentris untuk mengejar efisiensi dan efektivitas kurikulum yang kurang fleksibel. Kelima, kurang penghargaan terhadap kreativitas mahasiswa. Keenam, tujuan riset sangat pragmatis, hanya untuk memenuhi kum kenaikan pangkat dosen. Ketujuh, birokrasi kampus mengikuti pola pemerintahan teknis, tidak berbasis pola akademis yang cenderung bebas. Kedelapan, upacara seremonial dan hubungan atasan bawahan lebih mendominasi daripada pola kolegial akademis. Kesembilan, jejaring PT dan industri tidak berkembang. Kesepuluh, PT hanya peduli pada pemasukan dana berbasis mahasiswa, selain APBN bagi PTN. Kesebelas, PT kurang peduli terhadap persoalan luar yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan masyarakat. Keduabelas, PT cenderung jago kandang, tidak berani melakukan ekspansi program dan wilayah, apalagi ke mancanegara. Ketigabelas, PT tidak mampu memotivasi mahasiswa untuk membuat perusahaan startup bisnis.

Dari ketigabelas efek akibat regulasi kaku yang dikenakan ke PT itu banyak sekali turunan negatif terhadap ekosistem pendidikan. Yang paling dirugikan adalah mahasiswa. Mereka bisa saja pintar, tetapi kurang kreatif, kurang berani berinisiatif, dan kurang mampu bekerjasama. Begitu lulus, mereka umumnya jadi tenaga kerja walaupun tidak sesuai dengan keahliannya.

Jalan Keluar

Sebagai solusi dari persoalan di atas adalah perlu pelonggaran regulasi pendidikan tinggi. Pemerintah dapat memberi kepercayaan kepada PT dalam menjalankan tridharmanya. Keleluasaan ini dapat menjadi landasan para dosen untuk berinovasi dalam menjalankan pendidikan. Intinya proses pendidikan serahkan saja kepada para pengelola PT dan dosen.

Pemerintah cukup membuat program-program hibah untuk riset, pendidikan, dan pengabdian pada masyarakat. Dalam hal penjaminan mutu, pemerintah fokus pada indikator outcome, seperti paper, prototype, kerjasama industri, dan desa-desa binaan. Adapun indikator input dan proses diserahkan kepada pihak universitas. Universitas dapat melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah dan swasta untuk peningkatan mutu SDM setempat dan riset, selain juga untuk proses pembelajaran mahasiswa.

Dengan demikian kelembagaan kementerian riset dan dikti tidak perlu terlalu besar. Kopertis yang saat ini menjadi penghubung PTS dan pemerintah perlu dipikirkan ulang keberadaannya. Dengan adanya teknologi yang semakin canggih saat ini, koordinasi antar PT dan pemerintah tidak perlu tatap muka yang terlalu sering. Sehingga kementerian bisa lebih ramping dan tidak penuh sesak oleh pegawai.

Pemerintah, dalam hal ini imigrasi, harus memberikan fasilitas yang luas bagi mahasiswa asing. Jumlah mahasiswa asing dapat dijadikan kriteria pemberian hibah Β dari pemerintah kepada PT.Β  Intinya regulasi harus kondusif terhadap pertumbuhan, perkembangan, kreativitas, dan inovasi sivitas akademika. Bukan malahan sebaliknya, bersifat mengekang warga kampus karena ketidakpercayaan. Untuk itu, revolusi mental pembuat kebijakan menjadi persyaratan utama.[]

 

Tags: Asep SaefuddinIPBPerguruan tinggiSeven Elevent
Share8Tweet5Send
Previous Post

Parlemen Jerman Mendukung Pernikahan Sejenis

Next Post

Yang Mana yang Benar?

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
SIT Insantama Leuwiliang Bekali Guru Cegah dan Tangani Dini Isu Penyimpangan Seksual

SIT Insantama Leuwiliang Bekali Guru Cegah dan Tangani Dini Isu Penyimpangan Seksual

19 July 2026
kh fauzi tidjani djauhari

Pesantren Al-Amien Prenduan akan Gelar Idul Khotmi Nasional Tarekat Tijaniyah Ke-234

13 July 2026
Ketua Yayasan Amanah Insantama: Guru Harus Terus Tingkatkan Kapasitas dan Mengajar dengan Spirit Ihsan

Ketua Yayasan Amanah Insantama: Guru Harus Terus Tingkatkan Kapasitas dan Mengajar dengan Spirit Ihsan

19 July 2026
Menjaga Kesucian Hati dari Rasa Iri terhadap Nikmat Orang Lain

Menjaga Kesucian Hati dari Rasa Iri terhadap Nikmat Orang Lain

19 July 2026
Tirakat Orangtua Untuk Anak

Tirakat Orangtua Untuk Anak

11 October 2023
Bina Ketahanan Keluarga di INSISTS Camp 2026

Bina Ketahanan Keluarga di INSISTS Camp 2026

0
Jelang Ujian Santri, Pondok Gontor Resmi Tutup Kegiatan Ekstrakurikuler

Jelang Ujian Santri, Pondok Gontor Resmi Tutup Kegiatan Ekstrakurikuler

0
Antusiasme Puluhan Ribu Jamaah Warnai Puncak Idul Khotmi Nasional Ke-234

Antusiasme Puluhan Ribu Jamaah Warnai Puncak Idul Khotmi Nasional Ke-234

0
BAZNAS Bersama Petani Binaan di Batu Bara Sukses Panen Raya 150 Ton Padi

BAZNAS Bersama Petani Binaan di Batu Bara Sukses Panen Raya 150 Ton Padi

0
Din Syamsuddin: Perlunya Revitalisasi Pendidikan di Negara Islam

Din Syamsuddin: Perlunya Revitalisasi Pendidikan di Negara Islam

0
BAZNAS Bersama Petani Binaan di Batu Bara Sukses Panen Raya 150 Ton Padi

BAZNAS Bersama Petani Binaan di Batu Bara Sukses Panen Raya 150 Ton Padi

25 July 2026
Din Syamsuddin: Perlunya Revitalisasi Pendidikan di Negara Islam

Din Syamsuddin: Perlunya Revitalisasi Pendidikan di Negara Islam

25 July 2026
Antusiasme Puluhan Ribu Jamaah Warnai Puncak Idul Khotmi Nasional Ke-234

Antusiasme Puluhan Ribu Jamaah Warnai Puncak Idul Khotmi Nasional Ke-234

25 July 2026
Jelang Ujian Santri, Pondok Gontor Resmi Tutup Kegiatan Ekstrakurikuler

Jelang Ujian Santri, Pondok Gontor Resmi Tutup Kegiatan Ekstrakurikuler

25 July 2026
Bina Ketahanan Keluarga di INSISTS Camp 2026

Bina Ketahanan Keluarga di INSISTS Camp 2026

25 July 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • PRODUK ALUMNI GONTOR, INI MOMEN YANG TIDAK AKAN TERULANG!September 2026 bukan sekadar edisi biasa.Ini adalah Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor yang dicetak dengan penambahan oplah terbesar dan diprediksi menjadi salah satu edisi yang paling banyak dicari karena merupakan bagian dari koleksi langka Spesial 100 Tahun Gontor.Ini bukan hanya beriklan.
Ini adalah membangun kepercayaan, memperkuat brand awareness, dan menjadi bagian dari sejarah 100 Tahun Gontor.βœ… Mengapa harus ikut?πŸ“ˆ Penambahan oplah cetak dalam jumlah besar.
🎯 Menjangkau keluarga besar Gontor, pesantren alumni, wali santri, simpatisan, dan masyarakat luas.
πŸ“– Edisi koleksi yang akan disimpan bertahun-tahun, sehingga iklan Anda memiliki nilai eksposur yang jauh lebih panjang dibanding promosi digital yang cepat berlalu.🀝 Momentum terbaik untuk memperkenalkan usaha Anda kepada pasar yang loyal dan memiliki ikatan emosional kuat dengan Gontor.⏳ SPACE IKLAN SANGAT TERBATASBatas pendaftaran hingga 15 Agustus 2026 atau lebih cepat jika seluruh space telah terisi.πŸ‘‰ Daftar sekarang:
https://tinyurl.com/iklan-magonπŸ“ž Informasi
0813-1510-6479
0877-8707-2412"Dalam bisnis, yang paling mahal bukan biaya promosi, tetapi kesempatan yang terlewat."
  • ✨ Seabad Mendidik Bangsa. Kini saatnya menjadi bagian dari sejarah.πŸ“– Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor – September 2026 hadir mengangkat kisah sukses ribuan Pondok Alumni Gontor yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.⏳ Stok terbatas! Jangan menunggu sampai stok menipis.πŸ›’ Pesan sekarang:
https://bit.ly/pesan-majalah#100tahungontor #majalahgontor #gontor #gontornews #pondokmoderngontor #pesantren #pondokalumni #pesansekarang
  • 100 Tahun Gontor bukan sekadar peringatan, tetapi sejarah yang layak disimpan.Miliki Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor yang terbit selama Juli–September 2026.πŸ“š Koleksi terbatas.
⏳ Jangan menunggu sampai kehabisan.πŸ“² Pesan sekarang:
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontor
  • Miliki Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor sebelum kehabisan.πŸ“– Edisi Juli βœ…
πŸ“– Edisi Agustus βœ…
πŸ“– Edisi September πŸ”œπŸ”₯ Jangan sampai orang lain sudah punya, sementara Anda kehabisan.πŸ“² Pesan sekarang:
πŸ‘‰ https://bit.ly/pesan-majalah#100tahungontor #majalahgontor #gontornews #gontormendunia #unidagontor #mediaperekatumat #koleksibersejarah #edisikhusus #pesansekarang #jangansampaikehabisan
  • Stok terbatas!
Sudah punya Edisi Agustus?Edisi spesial ini mengupas perjalanan UNIDA Gontor Mendunia dan hanya hadir dalam rangka 100 Tahun Gontor.Banyak yang sudah memesan. Jangan sampai Anda tertinggal.Pesan sekarang:
https://bit.ly/pesan-majalah#100TahunGontor #unidagontor #majalahgontor #gontornews
  • 100 Tahun Gontor bukan sekadar peringatan, tetapi sejarah yang layak disimpan.Miliki Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor yang terbit selama Juli–September 2026.πŸ“š Koleksi terbatas.
⏳ Jangan menunggu sampai kehabisan.πŸ“² Pesan sekarang:
https://bit.ly/pesan-majalah#100TahunGontor #MajalahGontor #Gontor #PondokModern #DarussalamGontor #MediaPerekatUmat #GontorMendunia #KoleksiBersejarah #alumnigontor #gontornews #majalahgontor
  • Jangan sampai koleksi Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor Anda kehabisan.Pre-Order telah dibuka!πŸ’° Harga: Hanya Rp 15.000 / eksemplarMengingat kuota cetak yang terbatas, amankan eksemplar Anda sekarang juga sebelum sistem tertutup otomatis.Amankan Pemesanan Anda di sini:
πŸ‘‰ https://bit.ly/pesan-majalah
  • Repost from @ikpmmadiun
Bagi keluarga besar Gontor, setiap nasihat Pimpinan adalah bekal sepanjang perjalanan hidup. 🀍Kali ini, mari kita luangkan waktu sejenak untuk kembali mendengarkan petuah dari K.H.Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor)Insya Allah apa yang kita dengar bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga menguatkan niat untuk terus berkhidmat kepada umat.🀲 Jangan berhenti di kita. Bagikan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.πŸ’¬ Antum Alumni Gontor angkatan berapa? Share di kolom komentar.
  • Jangan sampai koleksi Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor Anda kehabisan.Menuju Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Majalah Majalah Gontor menerbitkan Edisi Spesial 100 Tahun Gontor.Mumpung BELUM terlambat, Pre-Order Edisi Agustus & September resmi dibuka!πŸ’° Harga: Hanya Rp 15.000 / eks eksemplar
⏳ Batas Waktu PO Edisi Agustus: 10 Juli 2026, Pukul 11:59 WIB (Tinggal menghitung hari!)Mengingat kuota cetak yang sangat ketat, amankan eksemplar Anda sekarang juga sebelum sistem tertutup otomatis.Amankan Slot Pemesanan Anda di Sini:
πŸ‘‰ https://bit.ly/pesan-majalah

Β© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
β–²
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result