Keunggulan pondok pesantren sebagai pendidikan Islam yang unik di negeri ini sudah tidak diragukan lagi. Pesantren telah melahirkan banyak tokoh di negeri ini. Bahkan perjuangan bangsa Indonesia banyak dikobarkan dari pesantren-pesantren, sehingga lahirlah resolusi jihad yang membangkitkan semangat perjuangan bangsa Indonesia.
Saat ini, pertumbuhan pondok pesantren cukup pesat. Lahirnya pesantrenpesantren dengan sistem yang lebih modern telah memberikan andil kepada anak bangsa untuk menghadapi zamannya. Pesantren telah menjadi pendidikan yang bisa dibanggakan, bahkan menjadi pendidikan pilihan utama bukan lagi sebagai alternatif. Ketua Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc mengungkapkan, saat ini perkembangan dunia pendidikan di pondok pesantren itu meningkat luar biasa.
“Saya lihat kondisi sekarang tidak seperti 10 atau 20 tahun lalu, dahulu biasanya orang masuk pesantren itu setelah tidak diterima di manamana, tidak diterima di sekolah favorit akhirnya masuk di pesantren, atau kalau ada anakanak yang nakal biasanya dimasukkan ke pesantren. Tetapi sekarang tidak, pesantren menjadi pilihan utama,” ujar Kiai Didin kepada Majalah Gontor. Bahkan, saat ini ada juga para wali santri yang akan memondokkan anaknya harus menunggu waiting list, menunggu dahulu karena terlalu banyak yang daftar.
Perkembangan tersebut, menurutnya karena masyarakat sudah semakin sadar, bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek ilmu pengetahuan saja tidak cukup dan tidak menyelesaikan masalah. Penguatan terhadap ajaran agama juga harus menjadi materi pendidikan. “Kenapa banyak perilakuperilaku yang buruk pada sebagian pelajar, itu karena jauh dari agama. Dia diberi ilmu pengetahuan tetapi keimanannya tidak diperbaiki, gaya hidupnya tidak diperbaiki,” tutur Kiai Didin.
Karena itulah, sekarang pondok pesantren menjadi pilihan utama bagi sebagian umat Islam. Dengan harapan, munculnya generasigenerasi yang kuat agamanya dan pintar ilmu pengetahuannya. Menurut Kiai Didin, pesantren sebagai lembaga iqamatuddin (penegak agama) bergerak dalam pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang termasuk politik. Dalam bidang politik, pesantren bisa disebut sebagai institusi politik tertua di Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari perjuanganperjuangan politik dalam proses kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Perjuangan politik yang telah dilakukan oleh pondok pesantren telah melahirkan NKRI sebagai negara religius, sehingga seluruh cara pandang yang mencoba memisahkan antara negara dan agama dapat disebut sebagai pemikiran ahistoris,” jelas Didin.
Menurutnya, pesantren harus menjadi lembaga yang tetap melahirkan para murabbi, ulama, dermawan, dan kaderkader pejuang di berbagai lini, dan sinergi antar-pondok pesantren menjadi Visi dan Misi BKsPPI untuk tetap aktif berkoordinasi dengan lebih dari 4.300 pondok pesantren.
Prof Didin yang juga pemimpin Pondok Pesantren Ulul Albab dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor ini mengingatkan bahwa para kiai pelindung umat dan mempertahankan kepribadian pondok pesantren.
Kiai Didin mengatakan bahwa pesantren merupakan lembaga perjuangan melalui berbagai macam bidang pendidikan. “Baik pendidikan agama, ekonomi hingga politik. Pesantren tidak sematamata lembaga pendidikan tetapi institusi perjuangan,” jelasnya.
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia itu direbut oleh para ulama dan santri. “Jadi yang paling besar jasanya bagi negeri ini adalah ulama dan pesantren. Merebut dan mempertahankan kemerdekaan bagian dari akidah, karena penjajahan tidak sesuai dengan akidah Islam,” ujar Kiai Didin.
Oleh karena itu, pendiri bangsa yang sebagian besar ulama telah menorehkan kalimat dalam pembukaan UUD 45 yaitu berkat rahmat Allah yang Mahakuasa. “Ini bukti sejarah bahwa kalimat Allah adalah kalimat umat Islam, jadi yang paling besar sahamnya dalam negeri ini adalah umat Islam,” tuturnya.
Menurutnya, pesantren selalu harus di depan dalam langkah perjuangan umat Islam. “Pesantren tidak hanya lembaga pendidikan, tapi mendidik santri yang mampu melakukan amar makruf nahi munkar,” jelasnya sambil menyitir firman Allah di dalam surat at-Taubah: 122.
Ia menjelaskan, ada sejumlah budaya pesantren yang harus dipertahankan. “Pertama budaya akhlak, ini harus dipertahankan, kebangkitan bangsa dan umat ditentukan dengan adab. Pesantren jika ingin melahirkan pemimpin tidak boleh meninggalkan soal adab,” ujarnya.
Kedua budaya ilmu. “Bukan pesantren jika tanpa ilmu, dalam pandangan pesantren, ilmu tidak terpisah antara ilmu dunia dan akhirat. Lebih jelasnya yaitu antara fardu ain dan fardu kifayah.”
Ketiga budaya ukhuwah. “Budaya ukhuwah di pesantren sangat kuat, ukhuwah akan tercapai jika kita sering berjamaah,” tuturnya.
Dan yang keempat budaya dakwah. “Di ponpes, budaya dakwah adalah sebuah keniscayaan. Sebelum lulus, santri harus berdakwah dengan mengabdi untuk mengajar. Dakwah ini luas harus di semua bidang baik ekonomi, budaya bahkan politik,” tandas Kiai Didin.
Sementara itu Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan bahwa saat ini dan ke depan, Indonesia harus memiliki banyak manusia Islam yang unggul yang memiliki karakter manusia Islam yang sesungguhnya sesuai al-Qur’an. Untuk mencapai hal tersebut, peran pendidikan sangatlah besar termasuk pondokpondok pesantren.
Dikatakan HNW, dalam kurikulum pendidikan di lingkungan pesantren, selain para santri diajarkan membaca serta menghafal alQur’an, juga harus dimasukkan dan ditekankan pembelajaran tentang pemahaman etikaetika dasar, adabadab, juga pemahaman untuk menjadi seorang Muslim yang baik dan unggul.
“Menurut saya itu sangatlah penting dan harus mulai diajarkan sejak dini. Jangan dulu yang beratberat, mulailah dengan yang ringan seperti, pentingnya menjaga sopan santun kepada orangtua, belajar, menjaga amanah, saling menghormati, silaturahim, jujur, berkatakata baik, berjiwa rahmah,” katanya.
Dijelaskan HNW, pemahaman tentang etikaetika sesuai alQur’an tersebut bertujuan agar para santri yang merupakan generasi muda bangsa Indonesia, tidak sampai menjadi kelompok yang eksklusif. Dalam artian, tidak berani berinteraksi dengan masyarakat. Padahal al-Qur’an selalu mengajarkan untuk selalu berinteraksi dengan yang lain.
“Titik tekannya, alQur’an justru mengajarkan untuk berkomunikasi kepada publik, itulah akidah. Biasakan para santri berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Saya ingat, waktu nyantri di Pondok Modern Gontor ada kegiatan larilari ‘muter’ kampung, juga banyak kegiatan yang membiasakan saya berkomunikasi dengan masyarakat,” ujarnya.
Ketika para santri, lanjut HNW, mampu menguasai dan mengimplementasikan etika, akhlak dan berbagai ilmu pengetahuan, maka akan muncul generasi Islam yang tangguh seperti generasi umat dahulu yang tangguh mampu menjadikan Islam diterima baik di Nusantara.
“Merekalah generasi Islam tangguh dengan pengetahuan agama Islam yang tinggi, akhlak yang sangat baik, juga ilmu pengetahuan yang baik, mereka mampu bergaul, berdialog, sabar dalam menghadapi serta mengatasi permasalahan di tengahtengah masyarakat sehingga diterima dan Islam menjadi seperti sekarang ini,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Prof Dr H Achmad Satori Ismail mengatakan, pendidikan agama dapat menyelamatkan agama dan moral generasi bangsa. Karena itulah para orangtua mencari lembaga pendidikan yang konsen dan konsisten mengajarkan dan menerapkan nilainilai agama yang benar sebagaimana diterapkan di pesantren.
“Apalagi kualitas pendidikan pesantren kini juga sudah baik,” papar direktur Pondok Pesantren Terpadu AlHassan, Pondok Gede, Bekasi, itu.
Pesantren sekarang tidak melulu memberikan ajaran agama, namun juga memperhatikan pengembangan ilmuilmu umum lainnya. Karena itulah lulusan pesantren siap bersaing dengan lulusan sekolahsekolah unggulan atau sekolah umum. Buktinya, para alumni pesantren banyak yang berhasil mengikuti jenjang pendidikan unggulan, baik di kelas nasional maupun internasional.
Kiai Satori menambahkan, bahkan di antara mereka banyak yang melanjutkan sekolah ke jurusan umum, di luar jurusan agama, seperti kedokteran, arsitek, ilmu politik, dan lainnya. Prestasi tersebut tentu semakin membuka ‘mata’ sebagian orangtua yang sebelumnya memandang remeh pendidikan pesantren.
“Di zaman yang penuh dengan godaan dan kemaksiatan seperti sekarang, orangtua makin merasa khawatir akan pergaulan anakanaknya. Lingkungan yang buruk dan pengaruh dari teman-teman sekitar, belum tentu bisa dihadapi dengan baik oleh setiap anak,” ungkapnya.
Karena itu, tambah Kiai Satori, agar anak terbebas dari ancaman kerusakan moral, salah satu solusi terbaik dengan memondokkannya. “Tentu, pondok pesantren yang dipilih adalah pondok yang dapat mengawasi santrinya selama 24 jam penuh,” tegasnya.
Kriteria pondok yang dicari pun, sambungnya, juga harus yang menjunjung nilai kedisiplinan yang tinggi. Jika pesantrenpesantren yang berkualitas, terawasi, dan berdisiplin tinggi sudah dipilih, maka orangtua dapat tenang melepaskan putraputrinya. Tanpa khawatir dengan gangguan kerusakan akhlak.
Namun demikian, orangtua sejak dini harus mulai mengenalkan dasar pendidikan agama di dalam keluarga. Agar setelah anaknya diserahkan pada lembaga pendidikan selanjutnya, hasilnya dapat lebih maksimal. Anak pun dapat sukses menghadapi segala tantangan zaman dengan tetap memegang teguh syariat Islam sesuai alQur’an dan asSunnah. []






















