Yerusalem, Gontornews — Polisi Israel melarang 160 siswa sekolah menengah Palestina untuk masuk Sekolah Syariah di Masjid al-Aqsha, Kamis (24/8), dengan dalih bahwa buku sekolah mereka didasarkan pada kurikulum Palestina, Quds Press melaporkan.
Raed Da’na, direktur Dakwah dan Bimbingan di Masjid al-Aqsha,mengatakan buku-buku tersebut dibagikan di luar masjid karena polisi Israel keberatan dengan adanya “bendera dan gambar demonstrasi Palestina” yang terdapat dalam buku tersebut.
Polisi Israel bahkan mengatakan bahwa buku-buku yang bersampul bendera Palestina yang dibawa oleh siswa akan dirobek jika siswa ingin masuk masjid untuk menghadiri sekolah, ungkapnya.
Da’na menambahkan, pasukan keamanan Israel menyita dokumen identitas Najih Bukairat, kepala Akademi Ilmu Pengetahuan dan Warisan al-Aqsha, serta milik Robain Muhaisin, seorang guru Palestina, dan kemudian membawa mereka ke kantor polisi di Kota Tua di Yerusalem yang diduduki. Kendaraan yang digunakan untuk mendistribusikan buku teks sekolah disita.
Dalam insiden terkait, polisi Israel dan penjaga perbatasan menerobos masuk ke sekolah untuk anak yatim yang terletak di Kota Tua, dan menangkap dua siswa, menurut Quds Media Center.
Wartawan Quds Press mengatakan, kejadian ini berlangsung saat puluhan pemukim Yahudi menyerbu di sekitar Masjid al-Aqsha. Sebanyak 65 pemukim dikawal dan dilindungi oleh pasukan keamanan Israel. Mereka memerintahkan penjaga Masjid al-Aqsha untuk menjauh dari pemukim saat mereka memasuki masjid.
Pengawal al-Aqsha biasanya menyertai pemukim Yahudi saat mereka memasuki kompleks melalui Gerbang Magharibi dan tetap bersama dengan mereka hingga mereka pergi melalui Gerbang Silsla, dan memastikan bahwa mereka tidak melakukan sesuatu yang merupakan pelanggaran terhadap kesucian masjid. Kali ini, para penjaga Masjid al-Aqsha diancam dan dibatasi oleh polisi Israel. [Fathurroji]





















