Keikhlasan KH Rifa’i Arief yang teguh pendirian dan pantang menyerah, telah membuat pola pendidikan di Pondok Pesantren Daar El-Qolam bergairah. Setelah 50 tahun, santri Daar El-Qolam berjumlah ribuan dan alumninya banyak yang mendirikan pesantren di daerahnya masing-masing.
Hujan mengiringi perjalanan sejumlah tim inti penyelenggara peringatan 50 tahun Pondok Pesantren (Ponpes) Daar El-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten, di sebuah perkantoran di bilangan Jakarta Selatan. Saat itu, rombongan kompak menggunakan pakaian batik untuk bertemu dengan pakar hukum tata negara, Prof Yusril Ihza Mahendra.
Ponpes Daar El-Qolam mengundang Prof Yusril agar bisa menjadi narasumber dalam diskusi dan sarasehan yang digelar pondok pesantren alumni Gontor itu.
Kala itu, rombongan yang ikut mendampingi yaitu Kiai Odhy Rosihuddin, perwakilan Ponpes Daar El-Qolam, yaitu Pimpinan Pondok Pesantren Darel Azhar KH Ikhwan Hadiyyin, Pimpinan Pesantren Al-Ikhlas Taliwang Nusa Tenggara Barat KH Zulkifli Muhadli, Zakianto Arief dari Darunnajah,dan Akrimul Hakim dari Pondok Modern Darussalam Gontor.
Sejumlah perbincangan ringan dan jamuan ringan yang disajikan Prof Yusril menambah semangat pembicaraan rombongan. Meski pesantren tersebut sudah berusia setengah abad, Kiai Odhy tetap tawadu’. Kiai Odhy bahkan menyebutkan, ia merupakan pimpinan pesantren kampung di sekitar Banten.
“Kami dari pesantren kampung, berharap kedatangan bang Yusril dalam acara kami,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Daar El-Qolam 2 KH Odhy Rosihuddin.
“Berkat doa antum semua, insya Allah Prof Yusril akan hadir ke Daar El-Qolam,” kata Kiai Odhy yang saat bersama Prof Yusril membahas pergerakan Masyumi, dulu dan sekarang.
Sejumlah tokoh juga mengonfirmasi kehadirannya di pondok pesantren yang memiliki empat cabang tersebut. Sebut saja, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Duta Besar RI untuk Azerbaijan Husnan Bey Fananni, mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan tidak ketinggalan dua tokoh utama dalam peringatan 50 tahun Daar El Qolam: Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) KH Hasan Abdullah Sahal dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam sambutannya, mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memuji peran orangtua yang memondokkan anaknya di Pesantren Daar El-Qolam. Baginya, pesantren berperan dalam pembentukan mental pemimpin baru di masa depan yang beriman dan bertakwa.
“Suatu kebanggaan saya ada di sini, karena pondok ini beranak-pinak. Saya yakin akan banyak membentuk pemimpin baru di masa depan yang beriman dan bertakwa,” kata Gatot saat menyampaikan pidato dalam acara sarasehan kiai Forum Pondok Pesantren Alumni (FPA) Gontor di Ponpes Daar El-Qolam.
“Bung Karno bilang bahwa Indonesia telah membuat banyak negara di dunia iri. Sumberdaya alam dan energi kita menjadi incaran negara-negara di dunia,” tambahnya.
Keikhlasan Kiai Rifa’i Arief
Pesantren Daar El-Qolam didirikan oleh KH Rifa’i Arief pada tanggal 20 Januari 1968. Menurut informasi yang disampaikan oleh Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal, Kiai Rifa’i Arief mendirikan pondok saat masih berstatus mahasiswa.
“Saya tahu betul Ustadz Rifa’i Arief. Beliau adalah figur yang jarang ada, sukar dicari, mahal harganya,” kata Kiai Hasan dengan mata berkaca-kaca saat berpidato di hadapan santri dan santriwati Daar El-Qolam.
“Beliau mendirikan pondok belum doktorandus (Drs), atau saat itu masih kuliah. Pondok ini didirikan oleh seorang manusia yang belum kiai, belum sarjana, tapi sudah berani mendirikan Pondok Pesantren Daar El-Qolam. Orang itu namanya Ahmad Rifa’i Arief,” tegas Kiai Hasan.
Kerinduan Kiai Sahal dengan sahabatnya selama mondok di Gontor membuatnya merasa sangat ingin ke Daar El-Qolam.
“Saya ingin bicara dengan anak-anak. Saya berjanji karena belum pernah pidato di sini sejak tahun 1970.”
“Saat itu santrinya berjumlah 35 anak, putra-putri. Sejak saat itu saya belum pernah pidato lagi dengan anak-anak. Hanya berjanji, janji saja, in syaa Allah saya datang, saya catat, saya akan datang,” tutur Kiai Hasan.
“Alhamdulillah, saya bertahun-tahun bersamanya, minimal dua tahun jadi murid sekelas dengan beliau kemudian dua tahun ikut mengajar di Gontor. Saya tahu betul, jismiyah, aqliyah, kepribadian beliau.”
“Beliau profil pribadi yang tidak mau putus asa. Saya tidak tahu apakah santri-santri Daar El-Qolam bisa mewariskan sifat itu atau tidak!”
Menurut Kiai Hasan, Kiai Rifa’i Arief merupakan seorang figur yang tidak mau putus asa, tidak mau kalah begitu saja. Sampai suatu ketika, ada orang yang datang ke saya bercerita tentang Kiai Arief. Saya bilang ke dia, sampaikan ke Ust Rifa’i, bahwa setiap yang beliau sampaikan, saya husnudzan,” kenang Kiai Hasan.
Ponpes Daar El-Qolam didirikan pada tanggal 20 Januari 1968/27 Ramadhan 1318 H oleh KH Ahmad Rifai Arief atas perintah sang ayah, H Qasad Mansyur. H Qasad meminta kepada anaknya untuk mendirikan lembaga pendidikan tingkat menengah bagi alumnus madrasah ibtidaiyah agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Oleh Kiai Rifai, nama Daar El-Qolam yang disematkan pada ponpes yang didirikannya berarti kampung pengetahuan. Di masa-masa awal pendirian, Kiai Rifai menjadikan dapur tua dan tanah pemberian H Pengki sebagai tempat pembelajaran pertama. Hadiah tersebut diberikan H Pengki kepada H Qasad karena telah menyelesaikan pembangunan masjid yang dimintanya.
Peran Kiai Rifai semakin sentral setelah menjalani semua peran pendidikan dan pengajaran di Daar El-Qolam. Di periode awal, alumnus Gontor 1966 itu menjalani peran sebagai pemimpin, guru, mentor dan sahabat bagi santri-santrinya.
Selama 30 tahun masa kepemimpinannya, Kiai Rifa’i telah menelurkan sejumlah institusi pendidikan seperti Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Pondok Pesantren La Tansa, Sekolah Tinggi La Tansa Mashira dan Pesantren Wisata La Lahwa. Setelah wafat, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh adiknya, KH Ahmad Syahiduddin, putra pertama Kiai Rifa’i, KH Adrian Mafatihullah Karim, dan adiknya Hj Enah Huwaenah.
Saat ini, Daar El-Qolam menaungi empat institusi pendidikan. Pembagian empat institusi pendidikan tersebut dilakukan dalam rangka kaderisasi. Kiai Syahiduddin membagi tugas kaderisasi kepada KH Nahrul Ilmi Arief SAg sebagai pemimpin Daar El-Qolam 1 dan 4, Drs KH Odhy Rosihuddin MPd sebagai pemimpin Daar El-Qolam 2, dan Ustadz Ahmad Zahid Purna Wibawa ST sebagai pemimpin Daar El-Qolam 3.
Daar El-Qolam juga memiliki nilai-nilai kepesantren yang tertuang dalam setiap langkah pendidikannya. Nilai-nilai kepesantrenan yang dimaksud adalah: akhlaq karimah, ibadah amaliyah, bacaan al-Qur’an, hafalan surah al-Qur’an pilihan, dedikasi dan loyalitas, amanah dan tanggung jawab, serta toleransi dan tenggang rasa. [Mohamad Deny Irawan]






















