Purwakarta, Gontornews — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meresmikan Pondok Pesantren Baitul Qur’an Cirata, Kampung Rawatutut, Desa Karoya, Kecamatan Tegal Waru, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/10).
“Atas nama Menteri Agama mewakili pemerintah, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas selesainya pembangunan Pondok pesantren Baitul Qur’an,” kata Menag dilansir kemenag.go.id, Kamis (13/10).
Di hadapan para santri, Menag berbagi kisah tentang pengalamannya sebagai santri. Menurutnya, di pesantren, dirinya tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga belajar tentang kehidupan. Di pesantren juga Menag belajar tentang bagaimana menyikapi keragaman.
“Pesantren mengajarkan keragaman itu, kebiasaan hidup dengan berbeda-beda dan budaya berbeda. Ini dilakukan setiap hari, bertahun-tahun hidup di lingkungan pesantren. Pesantren candradimuka untuk membangun keragaman itu,” papar Menag.
“Saya merasa bersyukur adanya ponpes Baitul Qur’an, untuk menyiapkan ilmu-ilmu al-Qur’an, untuk berkontribusi dalam merawat keindonesiaan. Indonesia yang tetap memiliki nilai tersendiri, nilai-nilai keagamaan, agar tidak tercerabut dari nilai-nilai keagamaan, toleransi dalam kehidupan bernegara,” imbuhnya.
Pengasuh Ponpes Baitul Qur’an Muslih Abdul Karim berharap keberadaan Ponpes Baitul Qur’an akan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya Jawa Barat. Menurutnya, pesantren ini dikembangkan bekerjasama dengan pesantren Gontor dan Langitan.
Sementara Ponpes Baitul Qur’an akan fokus pada pendidikan dan tahfidz al-Qur’an. Pesantren Gontor fokus di Bahasa Arab dan Inggris, dan pesantren Langitan fokus pada pendidikan ilmu syariah.
“Mudah-mudahan bermanfaat bagi bangsa, menjadikan Indonesia Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Semoga ilmu al-Qur’an semakin berkah, dan bangsa diselamatkan dari banjir dan musibah,” harapnya.
Saat ini, ada 85 santri yang belajar di Ponpes Baitul Qur’an. Pesantren ini memiliki fasilitas berupa dua masjid, dua asrama, dua kantin, dua kantor, dan dua dapur. Semuanya berjumlah dua karena antara santri laki-laki dan santri perempuan dipisahkan tempatnya. [Fathurroji/Rus]




















