Paris, Gontornews — Muslim Perancis, Senin (1/2/2021), ‘mensyukuri’ aturan yang melarang penggunaan kerudung atau jilbab di ruang publik. Sejumlah pemilik butik busana muslim menyebut permintaan pakaian-pakaian muslim meningkat dari tahun ke tahun.
Menariknya, dalam pekan mode “oriental” edisi ke-36, sejumlah peserta memamerkan pakaian seperti kaftan, jubah dan calana berkaki lebar. Yang lebih unik, para pemilik fasyen tersebut merupakan wanit berjilbab, berburkini ataupun bercadar.
“Larangan yang diberlakukan tidak akan mengubah perilaku Muslim. (Namun yang terjadi) justru sebaliknya. Semakin kita melarang mode pakaian semacam ini, semakin bangkit antusiasme (masyarakat),” kata pendiri perusahaan Zaynab, Bassma Wehbe, kepada Anadolu.
Perusahaan pakaian islami yang berbasis di Nice tersebut menyebut permintaan warga untuk membuat pakaian olahraga dan pakaian pantai meningkat.
“Banyak wanita muslim berjuang untuk membuat pakaian olahraga dan pakaian pantai yang praktis dan elegan. Jadi, ada pasar yang sangat besar, komunitas dan daya beli,” tambah Wehbe.
Selain Wehbe, ada pula pemilik butik busana muslim Mimoza, Myariam Garrigues. Wanita berusia 32 tahun tersebut mendesain pakaian islami untuk wanita, pria dan anak-anak. Garrigues menjelaskan bahwa keterbukaan generasi muda Prancis dalam memilih identitas mendapatkan dukungan dari generasi yang lebih tua.
Berdasarkan pengalaman, Garrigues mengaku tidak pernah mengalami diskriminasi secara profesional. “Tetapi, selama hukum mengizinkan saya untuk memakainya, saya dapat menegaskan hak saya. Untuk melakukan ini, penting untuk mengetahui hak-hak kami dan tidak takut untuk menuntut agar mereka mendapatkan rasa hormat,” tutup Garrigues. [Mohamad Deny Irawan]





















