Nice, Gontornews — Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve mengkhawatirkan munculnya stigmatisasi Muslim sebagai akibat pelarangan burkini dengan munculnya gambar yang menunjukkan polisi mengelilingi seorang wanita berjilbab di pantai.
“Pelaksanaan sekularisme, dan pilihan mengadopsi keputusan tersebut tidak harus menyebabkan stigmatisasi atau penciptaan permusuhan di antara orang-orang Prancis,” kata Cazeneuve Rabu (24/8), setelah pertemuan dengan kepala Dewan Iman Muslim Prancis (CFCM) .
Puluhan kota dan desa di Prancis, sebagian besar di Cote d’Azur, telah melarang penggunaan pakaian renang (beachwear) yang “mencolok” yang menunjukkan agama seseorang. Ini merujuk pada penggunaan baju renang full-body yang dijuluki ‘burkini’ yang dikenakan para Muslimah untuk berenang.
Presiden CFCM Anouar Kbibech meminta pertemuan darurat dengan Cazeneuve setelah muncul gambar seorang wanita berjilbab duduk di pantai di Nice yang mengganti tuniknya dengan disaksikan oleh empat polisi.
Gambar yang terus menyebar di media sosial, itu ditafsirkan sebagai tekanan polisi terhadap wanita agar mengganti pakaiannya.
Kantor walikota Nice yang membantah telah memaksa Muslimah untuk mengganti pakaian, mengatakan kepada AFP bahwa wanita itu menunjukkan kepada polisi baju renang yang dikenakannya di bawah tuniknya saat gambar itu diambil.
Polisi mengeluarkan dia dengan baik, dan dia kemudian meninggalkan pantai, para pejabat menambahkan.
Larangan yang menyusul serangkaian serangan di Prancis, termasuk pembantaian di Nice saat perayaan Bastille Day bulan lalu, telah memicu perdebatan sengit tentang integrasi Muslim dan nilai-nilai sekuler Prancis.
Pada hari Selasa, seorang ibu 34 tahun, yang menyebut dirinya Siam, mengatakan kepada AFP ia didenda di pantai karena mengenakan legging, tunik dan jilbab.
“Saya tidak berniat berenang,” kataΒ wanita Β yang didampingi anak-anaknya itu sebagaimana dikutip Al Jazeera, Kamis (25/8).
Seorang saksi di tempat kejadian mengatakan kepada wartawan, sejumlah orang yang menyaksikan peristiwa itu bertepuk tangan kepada polisi dan meneriaki Siam untuk pulang.
Kbibech mengungkap kasus itu dalam sebuah pernyataan menjelang pertemuannya dengan Cazeneuve.
βCFCM khawatir hal itu akan mendorong tumbuhnya stigmatisasi Muslim di Prancis”, katanya. [Rusdiono Mukri]




















