Menjalani ibadah puasa Ramadhan di masa pandemi Covid-19 bukan perkara mudah. Selain tubuh menahan lapar dan haus, juga harus meningkatkan imun dalam tubuh agar tidak mudah terserang virus korona.
Dua kali Ramadhan, umat Islam masih menjalani ibadah puasa di tengah pandemi. Meski pernah pengalaman di Ramadhan pertama, umat Islam tetap harus menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus korona yang setiap saat menjangkit ini.
Asep Saefuddin Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, yang juga Guru Besar IPB, dalam tulisannya menjelaskan, puasa Ramadhan pada dasarnya tidak berubah sejak diwajibkannya kepada umat Islam, yakni untuk mencapai ketakwaan (Al Baqarah 183). Tetapi ada kebiasaan yang berbeda di bulan puasa ini, yakni tetap berada dalam situasi stay at home alias tidak ke mana-mana, jaga jarak fisik, dan menghindari kerumunan (social distancing).
Wabah Covid-19 ini telah banyak mengubah kebiasaan yang umumnya dilakukan masyarakat. Seperti tarawih berjamaah ada yang dilakukan di rumah. Pada saat puasa inilah kita harus benar-benar menjalankan latihan kedisiplinan secara sukarela. Kedisiplinan mengarahkan hati dan pikiran jangan sampai dikuasai oleh hawa nafsu. Latihan kedisiplinan ini dibantu oleh wabah Covid-19, sehingga kita bisa benar-benar tinggal di rumah untuk banyak merenung. Jadi, ibadah puasa harus dilakukan dengan niat tulus. βJangan sampai kita merasa terbebani yang justru menyebabkan turunnya daya imunitas. Bila imunitas kita berkurang, tidak mustahil virus bisa merajalela,β jelasnya.
Pandemi Covid-19 juga telah mengajarkan manusia soal perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Bersamaan dengan latihan mengatur hawa nafsu, kita harus cuci tangan sebelum buka puasa. Jangan mau dikendalikan oleh hawa nafsu dengan dalih lapar dan makanan sudah tersedia, pkita langsung menyantap tanpa cuci tangan.
βMemang ini pekerjaan kecil, tetapi efeknya bisa fatal. Tentu kebiasaan PHBS ini harus kita lakukan selamanya, ada atau tidak ada covid19. Dan, bila kita meresapi saat cuci tangan, ini pun bagian tambahan ibadah di bulan Ramadhan,β paparnya. Asep juga mengingatkan bahwa semua kegiatan yang baik di bulan Ramadhan dilipatgandakan pahalanya. Maknanya adalah menikmati proses sekecil apapun. Cuci tangan, duduk-duduk, baca-baca, menulis, berjemur, dan PHBS yang dilakukan dengan penuh kesadaran itu adalah ibadah.
βSemuanya adalah ibadah yang pada ujungnya akan mengerem hawa nafsu dan mencapai ketakwaan. Inilah hakikat puasa. Semoga kita semuanya mendapat keberkahan Ramadhan dan semoga wabah Covid-19 segera berlalu,β tuturnya.
Ketua MUI Bidang Fatwa Dr HM Asrorun Niβam Sholeh SAg. MA mengatakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat muslim di Indonesia untuk memetik hikmah menyambut Ramadhan di tengah pandemi Covid-19. Asrorun Niam mengatakan, dalam menyongsong Ramadhan, fisik dan mental harus disiapkan disertai pemahaman dan cara baru menjalankan ibadah di tengah pandemi dengan tetap dalam koridor syariah.
βCovid-19 bukan halangan beribadah. Hindari kerumunan yang bisa menyebarkan virus adalah ibadah. Pemahaman tata cara ibadah juga harus diadaptasikan dengan situasi dan kondisi saat ini,β katanya. Diharapkan lanjutnya, dalam bulan Ramadhan aktivitas keagamaan harus tetap ditingkatkan dan menjamin keselamatan bangsa dan negara. Aktivitas keagamaan yang dilakukan harus jadi solusi umat dan bangsa. Ibadah Ramadhan harus dijadikan momentum emas untuk mempercepat penanganan wabah Covid-19 dengan semangat keagamaan.
βWabah Covid-19 bukan halangan untuk beribadah justru momentum meningkatkan ibadah kepada Allah. Hanya saja karena ada kondisi khusus, maka kebiasaan yang dilakukan dalam ibadah Ramadan juga perlu diadaptasi dengan kekhususan itu,β paparnya.
Ia pun menjabarkan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam masa Ramadhan antara lain puasa Ramadhan adalah benteng terhadap Covid-19. Karena puasa menyebabkan kesehatan pada tubuh. Puasa yang benar dengan makanan seimbang, menu makanan sehat, gaya hidup sehat melahirkan imunitas tubuh dan bisa mencegah serangan Covid-19.
βMari kita jadikan rumah tangga sebagai pusat kegiatan ibadah Ramadhan, sentrum kegiatan ibadah. Tarawih bersama keluarga, yang pada kondisi tertentu alpa dan hilang kesempatan itu. Shalat sunnah dilaksanakan di dalam rumah,β ungkapnya.
Menurutnya, sahur dan buka bersama keluarga adalah momentum emas, pada saat masyarakat disibukkan aktivitas pekerjaan hanya bertegur sapa kepada anak dan istri pun tidak sempat. Hari ini diberikan hikmah dengan wabah Covid-19 bisa membangun kebersamaan keluarga.
βWabah ini sebagai momentum rohani untuk menyinari rumah dengan cahaya Allah dengan meningkatkan ibadah dengan cahaya cinta serta membangun harmoni keluarga,β imbuhnya.
Ketua Badan Pengurus Yayasan Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof Dr KH Miftah Faridl mengatakan, Ramadhan kali setiap orang dianjurkan untuk tetap tinggal di rumah dan mengurangi berbagai aktivitas yang bersifat kerumunan.
βSekali lagi ini adalah ikhtiar kita atas perintah Allah SWT. Kita harus berusaha dan jangan membuat orang lain menjadi menderita karena tertular penyakit dari kita. Jangan pula kita dibikin sakit atau menderita oleh orang lain karena tertular penyakit. Kita tetap berusaha menjalankan syariat Islam secara optimal tapi juga harus bisa menghindari proses penularan penyakit,β ujarmya.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung ini mengatakan, meskipun tidak bisa melaksanakan shalat terawih berjamaah di masjid, umat Muslim masih bisa melakukan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga atau pun sendiri. Menurutnya hal tersebut tidak akan mengurangi keutamaan serta kualitas ibadah itu sendiri.
Prof Miftah mengatakan, jika seseorang tidak mendapatkan pahala lebih karena tidak melangkahkan kakinya ke masjid, dia bisa menggantinya dengan amalan-amalan lain seperti membaca Al-Qurβan atau memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.
Selain itu, selama bulan puasa Prof Miftah mengatakan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan rasa solidaritas kepada yang lain dengan bersedekah. Di tengah kondisi adanya wabah COVID-19 seperti sekarang ini, berbagai bentuk sedekah sangat diperlukan bagi saudara maupun masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, bersedekah adalah peluang untuk kita meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.
Hal senada disampaikan mantan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) KH Didin Hafidhuddin mengenai keutamaan bersedekah saat Ramadhan dan di tengah wabah pandemi.
Kiai Didin mengatakan, salah satu tujuan puasa adalah melatih kepekaan sosial atau keshalihan sosial. Kita lapar dan haus siang hari sengaja karena ibadah. Namun, mereka yang kelaparan tidak punya penghasilan akibat pandemi karena dilarang keluar itu masalah besar bagi mereka. Maka, orang Islam yang berpuasa diperintahkan berinfak, besedekah.
Perhatikan lingkungan, perhatikan tetangga. Maka, perlu ada gerakan memperhatikan tetangga, misalnya masjid punya data jamaah mungkin di antara jamaah yang berdekatan dengan masjid ada yang penghasilannya paspasan. Nah itu memperhatikan tetangga adalah sebagian dari keimanan.
Sedekah, tambah Kiai Didin, bisa menjauhkan dari berbagai macam marabahaya. βBukan berarti kebal ya, bukan. Tetapi kalaupun ada musibah pada diri kita itu ujungnya baik. Dihapuskan dosa, diangkatkan derajat, apalagi kalau sabar.β
Kiai Didin menjelaskan yang dimaksud asshodaqoh tatfaul bala itu akan menjauhkan dari berbagai musibah termasuk dari virus korona. βMaka, tak usah ragu-ragu untuk bersedekah pada bulan Ramadhan,β jelasnya. []






















