Landasan Teologis
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran: 103)
Interpretasi Para Mufasir
Imam Al-Qurthubi dalam karyanya al-Jāmi‘ li Ahkām Al-Qur’ān menjelaskan bahwa ayat di atas menegaskan pentingnya berada dalam ikatan jamaah (persatuan).
Menurut para ulama tafsir, kata i’tashimu hadir dalam bentuk perintah (‘amr) yang menunjukkan bahwa menjaga persatuan merupakan suatu kewajiban, bukan sekadar anjuran semata.
Substansi ayat tersebut menunjukkan betapa Allah SWT menghendaki setiap pribadi untuk bersikap toleran dan menjauhi perpecahan. Perpecahan akan melahirkan kerusakan, sedangkan persatuan akan mengantarkan pada keselamatan.
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hablillahi (agama Allah) ini memiliki banyak arti. Di antaranya ada yang mengartikan dengan taat atas segala perintah dan menjauhi larangan. Ada juga yang mengartikan dengan bertobat kepada Allah. Namun pendapat yang paling kuat dalam mengartikan ayat ini yaitu dengan makna spirit persatuan antarsesama.
Oleh karena itu, ayat di atas memiliki kandungan dan makna persatuan yang harus digenggam erat oleh semua manusia. Dengan persatuan, segala rintangan akan mudah diselesaikan. Dengan persatuan, segala yang rumit menjadi mudah. Dengan persatuan pula, setiap sesuatu yang berat akan menjadi ringan.
Dalam Tafsir Al-Wajiz disebutkan, berpegangteguhlah kamu semuanya kepada Al-Qur’an dan tali agama Allah yaitu Islam, dan janganlah kamu bercerai berai seperti saat zaman Jahiliyyah. Jangan bercerai-berai dalam hal agama. Ingatlah atas anugerah nikmat Allah kepada kalian berupa kerjasama dan persatuan.
Bersama-sama taat dan beribadah kepada Allah. Padahal kalian telah berada di tepi jurang neraka Jahannam, kalian akan berada di dalamnya jika kalian mati dalam keadaan kafir, lalu Allah menyelamatkan kamu dari jurang neraka Jahannam dengan anugerah keimanan atau Islam dan diutusnya Nabi Muhammad SAW.
Nilai-nilai Pendidikan
QS Ali Imran: 103 mengandung sejumlah nilai pendidikan bagi manusia. Pertama, mendidik hamba-Nya agar senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah atas perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kedua, mendidik kita agar senantiasa mengajarkan akhlak mulia yaitu menjaga persatuan yang membawa kedamaian, ketenteraman dan keselamatan dalam kehidupan.
Ketiga, mengajarkan hamba-Nya agar menjadi insan yang bersyukur atas karunia yang Allah berikan dan terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Keempat, mendidik kita agar selalu menumbuhkan rasa empati dan solidaritas kepada orang lain sehingga menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain.
Makna Keindahan Hidup
Keindahan dan kebahagiaan yang sejati dalam hidup manusia yaitu dengan mengamalkan amalan shalih yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan mengutamakannya di atas segala sesuatu yang ada di dunia ini. Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58)
Ibnul Qayyim dalam kitab Miftahu daaris sa’aadah mengungkapkan bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka merasa bangga (gembira dan bahagia) dengan anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, dan anugerah dari-Nya itu lebih indah dan mulia dari semua kesenangan dunia yang berlomba-lomba dikejar oleh kebanyakan manusia.
”Karunia Allah” dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama ahli tafsir dengan “keimanan”, sedangkan “Rahmat Allah” ditafsirkan dengan “Al-Qur’an”, yang keduanya (keimanan dan Al-Qur’an) merupakan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih, sekaligus keduanya merupakan petunjuk agama yang benar (yang dibawa oleh Rasulullah SAW).
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan berkata, “Kenikmatan (yang berupa) agama (iman) yang bergandengan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat (jelas) tidak bisa dibandingkan dengan semua kenikmatan duniawi yang hanya sementara dan akan hilang.”
Maka saat yang paling indah dalam hidup seorang manusia yaitu ketika Allah Ta’ala melimpahkan taufik-Nya kepadanya untuk mengikuti jalan Islam dan memberi petunjuk kepadanya untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya guna mencapai keridhaan-Nya.
Keindahan hidup lainnya yaitu saling hidup rukun, damai, bersatu dan sejahtera. Karena dengan adanya hidup rukun maka persatuan akan tercipta serta terhindarnya dari perpecahan yang saling menghancurkan.
Rasulullah menggambarkan umat Islam seperti bangunan yang harus sama-sama saling melengkapi, dan masing-masing bagiannya saling menopang dan memperkuat satu sama lain. Ini menunjukkan betapa pentingnya persatuan dan kekompakan umat Islam. Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan antara sebagian dengan bagian yang lain.” (HR Muslim)
Jika setiap Muslimin tidak saling menguatkan maka akan sering terjadi perpecahan dan perkelahian di antara kaum Muslimin, pasti akan menimbulkan dampak negatif. Allah SWT berfirman:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ
Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS Al-Anfal: 46)
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW telah menyatukan kaum Muslimin, setelah dahulunya mereka terpecah-belah. Pada masa jahiliyah mereka berpecah-belah dan saling memusuhi satu sama lain. Bahkan di antara satu kabilah saja, saling bermusuhan. Apalagi antara satu kabilah dengan kabilah lainnya. Peperangan dan persengketaan terus terjadi seakan tiada ujungnya. Bangsa Arab ketika itu tercabik-cabik, terpecah-belah dan saling membenci. Kesetiaan hanya diberikan kepada kabilah masing-masing. Setiap kabilah memerangi kabilah lainnya. Yang kuat memakan yang lemah. Yang zalim menguasai yang teraniaya.
Setelah Allah SWT mengutus Rasul-Nya dengan membawa hidayah dan agama yang hak, mengajak manusia kepada agama Allah, mengajak mereka agar menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sirnalah permusuhan di antara mereka dan berganti menjadi persaudaraan yang saling mengasihi satu sama lain. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS Ali Imran ayat 103.
Waspada terhadap saling membenci itu merupakan penyakit umat terdahulu. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «سَيُصِيبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللّهِ، وَمَا دَاءُ الأُمَمِ؟ قَالَ: «الأَشَرُ وَالبَطَرُ، وَالتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا، وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ، حَتَّى يَكُونَ البَغْيُ» رواه الحاكم
“Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Umatku akan terjangkiti penyakit umat-umat terdahulu” maka mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat terdahulu itu? Rasulullah bersabda: “Kufur nikmat, berlebihan saat mendapat nikmat, menumpuk harta dan berlebih-lebihan dalam masalah dunia, saling membenci, saling iri hati sehingga ia menjadi orang yang melampuai batas.” (HR Al-Hakim)
Demikian, janganlah kita marah karena marah awal dari segala keburukan.
Rasulullah SAW bersabda:
فَإِذَا الْغَضَبُ يَجْمَعُ الشَّرَّ كُلَّهُ
Marah awal segala keburukan. (Muttafaq Alaih)
Lalu, bagaimana memaknai keindahan hidup untuk menghindari perpecahan dan perkelahian yang menghancurkan? Pertama, jangan memandang rendah orang lain dari fisik dan sebagainya. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At-Tin: 4)
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa kalian dan tidak juga harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian.” (HR Muslim No. 2564)
Kedua, memudahkan urusan saudaranya dan saling menolong. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang Mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang Muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR Muslim)
Ketiga, mendamaikan kedua belah pihak yang berselisih. Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS Al-Hujurat: 10)
Keempat, menghindari perselisihan dan perbedaan pendapat yang mengarah kepada perpecahan. Allah SWT berfirman:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَۙ
“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia akan menjadikan manusia umat yang satu. Namun, mereka senantiasa berselisih (dalam urusan agama).” (QS Hud: 118)
Kelima, senantiasa memelihara hubungan kekeluargaan. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءًۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS An-Nisa’: 1)
Keenam, mengendalikan amarah. Allah SWT berfirman:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ
“Orang yang kuat bukan yang jago dalam bergulat, tetapi yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari Muslim)
Kisah Teladan
Keruntuhan dan kehancuran dinasti Abbasiyah terjadi akibat tercerai berainya umat Islam. Terjadinya kemunduran tidak lain merupakan akibat dari pertikaian yang tidak kunjung selesai. Tidak bersatunya umat Islam mengakibatkan Bani Abbasiyah sudah tidak memiliki kekuatan untuk melawan pasukan Mongol atau Tartar.
Hanya dalam 40 hari, dinasti yang sudah ada selama 500 tahun lebih terpaksa lenyap. Detik-detik keruntuhan Bani Abbasiyah merupakan hal yang paling menyakitkan pada masa itu. Untuk pertama kalinya umat Islam tidak merasakan kepemimpinan khalifah, sebelum masuk ke era Turki Usmani.
Kisah awal kehancuran dinasti Abbasiyah yaitu adanya pertikaian internal terbesar dalam Daulah Abbasiyah dan adanya konflik suksesi serta perebutan kekuasaan di antara anggota keluarga khalifah. Persaingan antarpihak keluarga Abbasiyah menyebabkan perebutan tahta dan konflik yang berkepanjangan mengakibatkan ketidakstabilan politik.
Pemberontakan tentara dan kelompok-kelompok militer, terutama oleh Bangsa Turk, menjadi faktor penting yang memperburuk keadaan. Pemberontakan ini seringkali terjadi akibat ketidakpuasan terhadap kondisi sosial dan ekonomi, serta persaingan kekuasaan.
Pertikaian antar kelompok keagamaan dan perdebatan teologis juga memainkan peran dalam pertikaian internal. Perselisihan antarsekte dan kelompok keagamaan, terutama yang terkait dengan doktrin keagamaan, menciptakan ketegangan di dalam masyarakat.
Kondisi ekonomi yang buruk dan ketidakpuasan sosial juga memicu pertikaian internal. Pajak yang berat dan ketidaksetaraan sosial memicu ketidakpuasan di kalangan rakyat, yang dapat memperkuat kelompok-kelompok pemberontak.
Inilah pentingnya kita menjaga perdamaian antarsesama Muslim. Selama pertikaian terus dibiarkan, keruntuhan umat Islam akan datang. Janganlah saling membenci, bila sedang marah kepada saudaramu maka tahanlah. Selalu jaga emosi, bila ingin mengingatkan teman yang salah maka ungkapkan dengan baik-baik.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا
“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah urusan kami, berilah kami petunjuk menuju jalan keselamatan, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju jalan yang terang. Jauhkanlah kami dari perbuatan keji, yang tampak maupun yang tersembunyi, berkahilah pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, suami/istri kami, dan anak keturunan kami, terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang, jadikanlah kami senantiasa bersyukur atas setiap nikmat dari-Mu, jadikanlah kami senantiasa memujimu atas nikmat tersebut, senantiasa menerima nikmat tersebut, dan mohon sempurnakanlah nikmat tersebut untuk kami.” (HR Abu Daud) []























