Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa penghujung Ramadhan sudah di depan mata. Banyak pihak bahagia dengan bulan suci ini. Ada pula yang khawatir, karena gejolak ekonomi yang muncul. Maklum, pada saat dan sebelum Ramadhan tiba harga bahan pokok acapkali melambung tinggi yang juga dibarengi ketiadaan barang di pasar.
Adalah bahan bakar, beras, minyak, telur yang acapkali menghilang dalam peredaran itu. Masyarakatpun berpendapat jika harga barang naik, bisa dicari di tempat lain. Namun sebaliknya, jika barang tidak ada di pasar, apakah mungkin jika dialihkan ke barang substitusi lainnya.
Ada banyak faktor penyebab kenaikan harga tersebut. Antara lain permintaan yang terlalu tinggi, sedangkan pasokan barang dari produsen terbatas. Bisa juga karena kondisi alam yang biasanya Ramadhan bertepatan dengan musim penghujan. Sehingga ketersediaan barang berkurang karena gagal panen dan lain sebagainya.
Ulah nakal spekulan menimbun barang juga menjadi penyebabnya. Karena umumnya spekulan akan menaikkan harga jual ketika harga-harga naik karena ketiadaan pasokan barang. Sedangkan di pasar, permintaan sedang tinggi-tingginya.
Ditambah lagi distribusi barang terhambat cuaca. Karena Ramadhan identik dengan musim penghujan. Apalagi kebanyakan wilayah penyuplai bahan pangan berasal dari wilayah yang secara infrastuktur jalannya masih kurang baik. Sehingga biaya distribusi naik yang bermuara pada kenaikan harga secara otomatis. Keadaan-keadaan itulah yang menyebabkan inflasi akan naik.
Badan Pusat Statistik juga menyebutkan data yang membenarkan adanya kenaikan inflasi itu.Dimulai dari awal tahun 2011 dan 2012, inflasi pada awal Ramadhan mencapai 0.67% dan 0.62%. Inflasi melonjak naik jadi 0.93% dan 0.70% ketika Ramadhan.
Kemudian pada tahun 2014, inflasi menjelang Ramadhan adalah 0.43%. Pada saat Ramadhan kemudian, inflasi naik menjadi 0.93%. Adapun puncak dari inflasi adalah terjadi pada tahun 2013. Fenomena itu terjadi karena berbarengan dengan kenaikan harga BBM pada bulan sebelumnya, yaitu dari dari 1.03% naik menjadi 3.29% pada bulan Ramadhan.
Meski demikian tidak semua hal yang berbau negatif terjadi di bulan Ramadhan. Banyak kondisi makro ekonomi kita justru positif membaik. Salah satu contohnya, studi dari AC Nielsen yang menyatakan penjualan barang konsumen di Indonesia naik 9.2% dari bulan-bulan sebelumnya.
Ini menunjukkan geliat ekonomi mengalami lonjakan tinggi dibandingkan bulan biasa. Masyarakat begitu aktif dalam perdagangan, terutama di sektor riil yang langsung berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Sehingga pada tahun sebelumnya, BI menyiapkan dana tunai sebesar Rp 160 triliun untuk mengansitipasi kenaikan permintaan uang dalam bentuk tunai.
Di samping itu, peredaran uang mengalami gejolak kenaikan yang luar biasa. Jika mengacu pada laporan BI 2013, nilai transaksi pada musim lebaran melebihi angka Rp 90 triliun. Asumsi rasio pengganda uang (money multiplier ratio) dari BI hampir 5 kali dari bulan biasa. Artinya peredaran uang pada musim lebaran hampir 450 triliun. Kalau kita bandingkan, jumlah itu adalah 30% dari APBN tahun 2013. Sebuah capaian yang fantastis untuk hitungan sebuah bulan dibandingkan bulan lainnya.
Berbicara ekonomi syariah, salah satu variabel makro ekonominya adalah zakat yang mana pengumpulan dan penyalurannya, mayoritas berlangsung di bulan Ramadhan. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia Indonesia mempunyai proyeksi zakat sebesar 286 triliun rupiah pada tahun 2016.
Namun realitas yang terjadi masih jauh dari angka itu, karena yang ditunaikan hanya sebesar 3.6 triliun pada tahun 2015 dan 5.1 triliun pada tahun 2016. Begitu besarnya perputaran uang dari sektor zakat di bulan Ramadhan.
Setelah merinci fenomena-fenomena yang terjadi di bulan Ramadhan, ada beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya. Asumsi pertama, memang benar terjadi inflasi, kenaikan harga barang pokok dan terkadang kelangkaan dan faktor terbesarnya adalah permintaan masyarakat yang naik. Artinya perputaran keuangan dan pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan yang tinggi pada bulan Ramadhan. Ditambah lagi peningkatan pendapatan dengan turunnya THR dan pengeluaran zakat mendorong masyarakat lebih aktif dalam roda perekonomian.
Asumsi kedua, ketika permintaan naik, maka harga akan naik pula. Tetapi kenaikan harga tidak bisa disebabkan oleh naiknya permintaan semata. Jika ditelisik lebih dalam, kenaikan harga pada saat Ramadhan lebih besar disebabkan banyak spekulan bermain. Mereka seakan paham dengan pola konsumsi musiman di Ramadhan. Sehingga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memainkan motif ekonomi dalam perdagangan, yaitu mengambil keuntungan sebasar-besarnya dari modal sekecil-kecilnya. Metode yang dipakai adalah menimbun barang, atau dalam istilah ekonomi syariahnya adalah ikhtikar.
Biasanya spekulan memainkan harga pada komoditas pokok. Istilah yang sering kita dengar adalah sembako. Harga akan naik secara tidak terkendali, karena spekulan memainkan harga dengan jumlah komoditi yang besar dan dilakukan dengan sistematis. Efeknya, kalaupun pemerintah melakukan upaya pencegahan dengan operasi pasar maka tidak besar effort-nya untuk menurunkan harga.
Spekulanpun seakan-akan telah berkali-kali melakukan dan paham dengan kondisi pasar. Diperparah dengan musim yang tidak bersahabat, membuat harga akan melambung tinggi.
Asumsi ketiga, penyebab inflasi di bulan Ramadhan lebih kepada kurangnya supply barang ke pasar. Padahal permintaan barang naik 20% dari bulan sebelumnya. Otomatis harga akan naik. Akan tetapi penyebab terbesarnya bukan pada barang tersebut, lebih pada nilai tukar mata uang rupiah pada komiditi impor. Sudah jamak diketahui, banyak komoditi sembako adalah dari pasokan impor seperti beras, bawang, minyak, gula, kedelai dan sebagainya. Bahkan BPS menyebutkan Indonesia masih sangat tergantung dengan 29 barang sembako. Pada tahun 2016 saja tercatat selama 10 bulan, total impor mencapai US$ 8,53 miliar.
Dengan demikian Ramadhan bukanlah bulan masalah, melainkan bulan terbaik dari bulan lainnya dan benar jika Ramadhan adalah bulan terbaik untuk pertumbuhan ekonomi. Walaupun inflasi, kenaikan harga, kelangkaan dan distribusi terjadi ketika Ramadhan, namun keberkahan ekonomi yang ditimbulkannya lebih besar. Maha benar Allah, Allah menciptakan segala sesuatunya memiliki tujuan dan manfaat. Hikmah dalam penciptaanNya lebih besar dari kemudhorotan yang mengiringi. Wallahu a’lam bis shawab.




















