Konya, Gontornews — Ratusan bayi dan burung Flamingo dewasa mati di Danau Tuz, Konya Turki, dalam satu pekan terakhir. Sejumlah pengamat menduga bahwa kematian ratusan burung migrasi tersebut akibat ekosistem Danau Tuz yang mengalami kekeringan.
Sejatinya, Danau Tuz merupakan salah satu habitat burung Flamingo dan sejumlah hewan migrasi karena merupakan salah satu danau hiperasin terbesar di dunia. Meski dangkal akibat kurangnya curah hujan, ekosistem Danau Tuz yang bersifat asin merupakan tempat bertelur favorit bagi flamingo.
Namun, sejak Danau Tuz mengalami kekeringan, banyak burung flamingo yang mati akibat tidak tersedianya makanan alamiah bagi kawanan burung migrasi itu. Walhasil, banyak bangkai burung flamingo yang mati di distrik Cihanbeyli di Konya, Turki.
Seorang wild-photographer Turki, Mehmet Emin Ztruk, mengatakan bahwa Danau Tuz merupakan daerah yang ia kunjungi tiap tahunnya. Baginya, Danau Tuz telah menjadi surga bagi burung flamingo terutama pada saat musim panas saat mereka memasukin masa inkubasi.
“Ini adalah lahan basah dimana anda bisa melihat ratusan burung flamingo tahun lalu. Kali ini, tidak ada air atau burung yang hidup. Air telah surut sekitar 10 kilometer,” kata Mehmet kepada Ihlas Haber Agency (IHA) yang dilansir Daily Sabah.
Pemerintah provinsi Konya, Rabu (14/7/2021), telah membentuk tim untuk menyelidiki kematian ratusan burung flamingo di wilayahnya tersebut. Mereka berharap penyelidikan tersebut dapat mencegah kematian burung flamingo.
Selain kekeringan, pengamat lingkungan hidup juga mengatakan polusi sebagai penyebab utama kematian masal burung camar di sebuah danau di Istanbul dan provinsi Van.
Profesor Doganay Tolunay dari Istanbul University memperingatkan bahwa musim kemarau berpotensi menyebabkan kekeringan dan krisis air di masa mendatang.
Tolunay mengatakan bahwa curah hujan di wilayah Anatolia Timur sangat rendah sehingga berpotensi menghancurkan sektor pertanian.
“Tanaman gagal tumbuh karena kurangnya curah air hujan. Krisis air dan kekeringan serius menanti kita,” ujar Tolunay kepada Milliyet.
“Dulunya di beberapa tempat, air dapat diambil di kedalaman 20 meter. Namun, sekarang harus turun hingga 200 meter. Kami harus menyatakan keadaan darurat dan mencegah penggunaan sumber air bawah oleh pihak yang tidak bertanggungjawab,” tutup Tolunay. [Mohamad Deny Irawan]






















