Ankara, Gontornews — Setelah berminggu-minggu menyangkal, Arab Saudi akhirnya mengakui bahwa jurnalis Jamal Khashoggi terbunuh di dalam konsulatnya di Kota Istanbul, Turki.
Saudi mengumumkan pada hari Sabtu (20/10) bahwa kolumnis Washington Post itu meninggal setelah “berkelahi” di dalam gedung konsulat dan 18 warga Saudi ditangkap atas pembunuhan itu.
Khashoggi, kritikus Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman, hilang pada 2 Oktober setelah memasuki konsulat di Istanbul untuk mengurus dokumen yang diperlukan untuk rencana pernikahannya.
Para pejabat Saudi sebelumnya membantah Khashoggi telah terbunuh dan terpotong-potong di dalam konsulat, dan bersikeras dia telah meninggalkan konsulat sebelum menghilang.
Dunia bereaksi atas pengakuan Saudi itu. Spanyol, misalnya, mengatakan kecewa atas informasi tentang kematian Khashoggi itu. Spanyol mendesak PBB untuk mengadakan penyelidikan menyeluruh dan transparan serta membawa mereka yang terlibat dalam pembunuhan ke pengadilan.
“Pemerintah Spanyol kecewa dengan laporan awal dari jaksa Saudi tentang kematian wartawan Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, dan menyatakan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban,” kata Spanyol dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Aljazeera.
Sementara Turki mengatakan tidak akan menutup-nutupi kasus pembunuhan Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul itu.
Numan Kurtulmus dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), partai yang berkuasa di Turki, mengatakan bahwa Turki akan berbagi barang bukti pembunuhan Khashoggi dengan dunia.
Menurutnya, tidak mungkin bagi pemerintah Saudi untuk melepaskan diri dari kejahatan ini jika sudah dikonfirmasi. [Rusdiono Mukri]
























