Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban sudah sepekan berlalu. Namun, nilai-nilai dan hikmah dari peristiwa ini akan senantiasa hidup dan membekas dalam kehidupan orang-orang yang beriman dan bertakwa. Semangat berkurban dan membantu mereka yang lemah akan senantiasa hidup dalam aktivitas sehari-hari orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka inilah yang dijanjikan surga oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj: 37).
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Juraij berkata bahwa orang-orang Arab pada masa Jahiliah gemar membalur atau melumuri Baitullah dengan daging unta dan darahnya. Kemudian para sahabat Rasulullah yang melihat hal tersebut langsung berkata, “Kamilah yang lebih berhak untuk melumuri Baitullah itu.” Maka kemudian Allah menurunkan surah Al-Hajj ayat 37, “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ketakwaan kamu” (Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Muassasah al-Kutubal-Tsaqafiyah, 2002, hlm 177).
Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menandaskan bahwa daging-daging dan darah hewan-hewan kurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai dan terangkat di sisi Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang akan sampai kepada Allah. Allah akan memberi balasan atas ketakwaanmu.
Allah telah menundukkan hewan tersebut untuk kalian seluruhnya wahai manusia, baik dalam keadaan disembelih ataupun di luar penyembelihan, bahwa sejatinya Allah telah menundukkannya sejak manusia itu diciptakan. Oleh karena itu, hendaknya kalian mampu untuk mensyukuri nikmat tersebut atas diciptakannya dan kalian dapat memiliki hewan-hewan tersebut, begitu pula kalian harus mensyukuri bahwa Allah telah memberikan kesempatan untuk menegakkan salah satu sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Kebaikan-kebaikan yang kalian lakukan pasti akan kembali kepada diri kalian sendiri, baik di dunia maupun di akhirat (Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, Tafsir al- Sya’rawi, hlm 9825).
Dalam kitab Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an dijelaskan bahwa pada ayat ini terdapat dorongan untuk berbuat ikhlas, baik dalam ibadah kurban maupun dalam ibadah lainnya, bukan untuk berbangga, riya atau karena kebiasaan. Semua ibadah yang tidak disertai keikhlasan seperti jasad tanpa ruh.
Dalam surat Al-Hajj ayat 37 ini Allah menegaskan tujuan berkurban, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridaan-Nya. Dekat kepada Allah dan keridaan-Nya tidak akan diperoleh dari daging-daging binatang yang disembelih dan tidak pula dari darahnya yang telah ditumpahkan. Akan tetapi semuanya itu akan diperoleh bila kurban itu dilakukan dengan niat yang ikhlas, dilakukan semata-mata karena Allah dan sebagai syukur atas nikmat-nikmat yang tidak terhingga yang telah dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya.
Nilai-Nilai Pendidikan
Ayat di atas mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan bagi manusia. Pertama, mendidik kita menjadi orang yang bertakwa dan taat atas perintah Allah SWT. Kedua, mendidik kita agar senantiasa menyadari bahwa apa yang kita miliki itu milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ketiga, mendidik kita menjadi hamba yang bersyukur dan ikhlas dalam beramal dengan tujuan hanya mencari ridha Allah. Keempat, mendidik kita menjadi hamba memiliki hablumminallah dan hablumminannas yang tinggi.
Refleksi nilai-nilai Idul Adha artinya melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang terjadi pada kejadian besar yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai penting dari hari raya besar Islam yaitu Idul Adha. Sebagaimana diketahui, Idul Adha dikenal dengan sebutan hari raya kurban. Allah berfirman di dalam surat Al-Kautsar tentang anjuran untuk berkurban:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ .
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS Al Kautsar: 1-3).
Berbahagialah mereka yang mampu beribadah kurban, sebab ini anugerah istimewa. Kebaikan ini kelak menjadi saksi di hari kiamat. Sebuah hadis menyebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Artinya: Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR Tirmidzi).
Hadis tersebut mengandung sejumlah pesan bahwa: Pertama, ibadah yang paling utama pada hari raya Idul Adha yaitu menyembelih hewan kurban karena Allah. Kedua, ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketiga, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang Muslim. Keempat, dengan berkurban, seseorang diharapkan akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata.
Ibadah kurban merupakan syiar Allah. Allah berfirman:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS Al-Hajj: 36)
Refleksi Nilai-Nilai
Peristiwa Hari Raya Kurban merefleksikan nilai-nilai bagi manusia. Pertama, refleksi nilai ketulusan dan loyalitas. Dalam konteks sejarah, Hari Raya Kurban berarti refleksi atas ketulusan dan loyalitas Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah SWT. Ali Syariati, dalam bukunya ‘Hajj’ menegaskan bahwa ibadah ritual kurban bukan sekadar memiliki makna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama manusia, terutama mereka yang tergolong sebagai kaum dhuafa dan marginal. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًا
Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).” (QS An-Nisa’: 125).
Kedua, refleksi nilai kedermawanan. Esensi berkurban bukanlah sebatas menyembelih hewan kurban, tetapi ada refleksi nilai kedermawanan dan empati terhadap sesama. Bahkan Rasulullah SAW mengancam kepada orang yang mampu tapi tidak berkurban.
مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
Artinya: “Barangsiapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami.” (HR Ahmad dan Ibn Majah).
Ketiga, refleksi nilai hidayah. Disyariatkannya Idul Adha dan keutamaannya merupakan refleksi nilai hidayah yang diperoleh orang-orang yang beriman. Tingkatan hidayah sebagaimana disebutkan dalam kitab Syifa’ Al ‘Alil Fi Masail Al Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wa at Ta’lil karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah Al Hanbali, bahwa untuk menentukan kemampuan manusia dalam menjalankan petunjuk dan mampu membedakan dari kesesatan ada empat yaitu: Tingkatan pertama, penciptaan manusia (makhluk), persamaan derajat manusia, takdir dan hidayah yang Allah berikan kepada setiap manusia. Tingkatan kedua, hidayah Al Irsyad (kecerdasan) dan hidayah petunjuk Allah kepada orang yang mukallaf. Hidayah ini juga dengan adanya para Nabi dan Rasul yang diutus Allah sebagai pembawa syariat.
Tingkatan ketiga, hidayah taufik, ilham yang diberikan Allah kepada manusia, juga dengan kemampuan manusia dalam melakukan segala kehendaknya. Tingkatan keempat, adanya surga dan neraka. Ini merupakan hidayah dari Allah. Allah akan memberikan ganjaran kepada manusia. Bagi yang beriman dan beramal shalih akan dimasukkan ke dalam surga dan bagi orang-orang yang ingkar terhadap syariat-Nya akan dimasukkan ke dalam neraka-Nya.
Keempat, refleksi tawakal dan sabar. Allah berfirman:
وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا ٱلْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. (QS al-Anbiyā: 85)
Pesan Moral Idul Adha
Hari Raya Idul Adha menyiratkan sejumlah pesan moral kepada kita. Pertama, ketundukan Ibrahim AS kepada Rabb-nya membawa pesan moral kepada kita semua untuk senantiasa taat dan patuh terhadap aturan Undang-Undang yang telah digariskan dalam Alquran dan Hadis.
Kedua, dibebankannya ibadah haji bagi umat Islam yang mampu dan mendistribukan dagingnya kepada kaum lemah menyiratkan pesan substansial kepada kita agar selalu bersemangat membantu meringankan penderitaan orang lain.
Ketiga, menyembelih hewan berarti menyembelih sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak mengenal aturan, norma atau etika dan bertengkar bahkan membunuh hanya demi keuntungan sesaat, memperkaya diri sendiri, menindas yang kemah dan arogan.
Keempat, disunnahkan menggemakan takbir sampai waktu Ashar di akhir hari tasyrik (tanggal 13 Dzulhijjah) memperlihatkan kepada kita bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan agung.
Hikmah Kurban di Hari Raya Idul Adha
Berkurban di hari raya Idul Adha mendatangkan sejumlah hikmah. Di antaranya, pertama, kurban untuk bersyukur kepada Allah. Kurban dikerjakan dalam rangka untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat kehidupan yang sudah diberikan-Nya. Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (QS Al-Baqarah: 152).
Kedua, supaya setiap Mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail dapat menjadi teladan bagi umat Islam. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam peristiwa penyembelihan sudah membuktikan kecintaannya kepada Allah. Keduanya lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah daripada menuruti hawa nafsu dan syahwatnya.
Allah berfirman:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffât:102).
Ketiga, kurban dilakukan dalam rangka untuk meraih takwa. Allah berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ…
Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (QS Al-Hajj : 37).
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian (dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik), dan kecukupan.” HR Muslim (No 2721). []




















